Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXXII/21 - 27 April 2003
   
Laporan Utama

Lima Aib Suriah

Setelah merontokkan rezim Saddam Hussein, Amerika Serikat mengincar tetangga Irak: Suriah. Apakah Amerika tengah memenuhi pesanan Israel?

ALKISAH, satu tim dokter Gedung Putih sedang memeriksa otak Presiden AS George W. Bush. Ternyata otak bagian kiri Tuan Bush jauh dari beres. Ketika para dokter beranjak ke sisi kanan otak, eh, mereka menggigil. Pasalnya, tak sejumput pun otak yang tersisa. Inilah humor sarkartis tentang Presiden Bush yang kini ramai beredar lewat pesan singkat (SMS) ataupun surat elektronik sejak dia memaklumatkan perang terhadap Irak. Humor tak membutuhkan logika, begitu pula nafsu perang—demikian kata kaum cendekia.

Nah, entah otak bagian mana pula yang akhir-akhir ini memerintahkan agar Bush menoleh ke Suriah. Yang jelas, sembari menoleh, Presiden Amerika itu menyemburkan tuduhan seram. "Kami percaya ada senjata kimia di Suriah," ujar sang Presiden. Senjata pemusnah massal adalah tuduhan lama yang telah membuat serdadu AS merangsek ke Bagdad. Celakanya, Bush tampaknya "lupa" bahwa hingga perang berakhir, para serdadunya belum juga menemukan senjata pemusnah yang diuar-uarkan Bush dan para jenderal pembantunya.

Alhasil, tuduhan Bush terhadap Suriah kontan membuat suhu politik di Timur Tengah menggelegak. Apalagi Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld dan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell bak anggota paduan suara yang kompak menuduhkan lima dosa Suriah, yakni meloloskan peralatan militer ke Irak, menampung dan melindungi anggota Partai Baath Irak, mengizinkan warga Arab yang mau berjihad masuk ke Irak untuk memerangi pasukan AS dan sekutunya, memproduksi senjata pemusnah massal, serta mendukung terorisme, khususnya kepada kelompok Hizbullah, Hamas, dan Jihad Islam.

Kenapa AS tiba-tiba menjadikan Suriah sebagai sasaran setelah Irak? Padahal empat dari lima dosa Suriah yang dicatat Washington tergolong sumir. Dalam soal kepemilikan senjata pemusnah massal, misalnya, hanya Badan Intelijen Amerika (CIA) dan intelijen Israel yang rajin menuduh Suriah memproduksi senjata kimia dan biologi. Sebaliknya, bukan rahasia lagi, Israel justru memproduksi senjata nuklir di Pusat Riset Nuklir Negev di luar Kota Dimona. Israel juga memproduksi senjata biologi dan kimia di Lembaga Riset Biologi di Ness Ziona.

Israel bahkan telah menggunakan bakteri tifus dan disentri untuk meracuni sumur di dekat Kota Haifa—kota Palestina yang kini masuk wilayah Israel—ketika Perang Palestina meletus pada 1948. Soal senjata kimia, Israel sempat terpojok ketika ditemukan bahan pembuat gas sarin sebanyak 50 galon di pesawat El Al milik Israel yang jatuh di Amsterdam pada 1992.

Jadi, dari Damaskus—ibu kota Suriah—Buthaina Shaaban, juru bicara Departemen Luar Negeri Suriah, enteng saja menyerang balik retorika AS. "Senjata kimia, senjata biologi, dan nuklir di kawasan Timur Tengah hanya ada di Israel," ujarnya. Damaskus rupanya mulai mengendus kepentingan Israel di balik tuduhan dan ancaman AS. Pasalnya, Suriah bisa menjadi ancaman serius bagi skema perdamaian Israel-Palestina yang sedang digarap oleh AS, PBB, dan Uni Eropa.

Maka AS pun menggelar rencana membabat Suriah, si musuh bebuyutan Israel. Imbalannya, Perdana Menteri Ariel Sharon harus mau menerima skema perdamaian AS. "Washington akan menggunakan tekanan maksimum terhadap Damaskus untuk memaksa Suriah masuk ke proses perdamaian (dengan Israel) tanpa syarat," ujar Daud Shiryan, analis politik di koran Al-Hayat. Selama ini, Suriah memang tak pernah sudi berdamai dengan Israel sebelum negara itu mengembalikan Dataran Tinggi Golan ke Suriah.

Tak kalah lincah, Suriah juga aktif memainkan isu konflik Israel-Palestina untuk menangkal tekanan Washington. Hasilnya, enam negara Dewan Kerja Sama Teluk—yang notabene sahabat AS—dan negara Arab lainnya sepakat menolak ancaman AS terhadap Suriah. Apalagi serangan AS terhadap Irak sudah cukup mengancam stabilitas regional Arab. "Ancaman terhadap Suriah harus dihentikan," ujar Menteri Luar Negeri Qatar, Syekh Hamad bin Jassin.

Suara kompak negara Arab rupanya lumayan mujarab. Anak buah Presiden Bush sedikit mengendurkan ancamannya. "Tak ada rencana perang (berikutnya)," ujar Colin Powell. Tapi sanksi ekonomi dan politik terhadap Suriah rupanya jalan terus. Amerika sudah memulainya dengan menutup pipa minyak dari Irak yang menyalurkan 200 ribu barel per hari ke Suriah. Ironisnya, tindakan ini adalah praktek ilegal karena bertentangan dengan resolusi PBB. Satu lagi banyolan dari Gedung Putih.

Raihul Fadjri (Guardian, The Observer, Al-Jazeera, AP)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data