Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXXII/21 - 27 April 2003
   
Indikator

Perundingan Ogah, Operasi Militer Saja

Setujukah Anda pemerintah menggelar operasi militer di Aceh melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)?
(11 - 18 April 2003)
Ya
76.7%1.253
Tidak
22.5%363
Tidak tahu
1.1%18
Total100%1.634


Pada Desember tahun lalu, dalam pertemuan yang difasilitasi Henri Dunant Center, pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyetujui Cessation of Hostility Agreement (COHA). Kedua pihak yang berseteru itu sepakat memberlakukan gencatan senjata di seluruh Aceh, GAM menggudangkan dan menyerahkan senjata kepada pemerintah, dan jalan perdamaian mulai diretas. Untuk mengawasi COHA, dibentuklah Joint Security Committee (JSC), yang beranggotakan beberapa negara yang dianggap netral.

Alih-alih kedua pihak menghormati JSC, Maret lalu kantor JSC malah diobrak-abrik gerombolan tak dikenal. TNI menyatakan GAM telah melanggar kesepakatan gencatan senjata, malah mempersenjatai dirinya, menambah pasukan, dan selalu mengkampanyekan kemerdekaan Aceh dari Republik Indonesia. Tiga minggu lalu Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan akan menggelar operasi militer di Aceh. Pernyataan itu senada dengan yang dikatakan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono.

Awal pekan lalu, 1.000 lebih tentara dan polisi tiba di Aceh. Kata Panglima TNI, itu penyegaran pasukan saja. Tetapi sulit ditepis bahwa TNI dan polisi sedang menyiapkan pasukan dalam rangka operasi militer. GAM, yang semula menolak pertemuan Joint Council Meeting, akhirnya menyepakatinya. Pada 25 April nanti pertemuan itu digelar di Tokyo, Jepang.

Lebih dari 77 persen pengakses Tempo Interaktif rupanya sepakat dengan pimpinan TNI dan Polri bahwa operasi militer adalah tindakan yang benar untuk menyelesaikan konflik dengan GAM di Aceh, daripada membiarkannya berlarut-larut. Cuma sekitar 22 persen yang menolak operasi militer, dan sekitar satu persen menjawab tidak tahu bagaimana cara terbaik menyelesaikannya.




Indikator Pekan Ini: Gula tiba-tiba langka di pasaran. Di beberapa tempat di Pulau Jawa, harga gula bisa mencapai Rp 6.000 sekilo. Ironisnya, dalam beberapa kali inspeksi mendadak yang dilakukan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soewandi, puluhan ribu ton gula menumpuk di gudang-gudang Dolog atau pabrik gula. Di Sabang dan Jawa Timur, misalnya, gula tak segera dilempar ke pasar, malah didiamkan, sehingga Menteri bertindak cepat melemparnya ke pasar untuk menurunkan harga.

Seperti biasanya, banyak pihak saling menyalahkan kenapa kelangkaan gula bisa terjadi. Ada yang menyalahkan inkompetensi PTPN dan Bulog sebagai importir gula. Departemen Perindustrian dan Perdagangan menyalahkan proses di Bea dan Cukai yang berbelit-belit.

Yang jelas, hingga sekarang importir gula adalah Bulog dan tiga PT Perkebunan Nusantara, sehingga masuknya gula impor hanya lewat gudang-gudang milik mereka. Soal kesengajaan menimbun demi mendapatkan keuntungan dari naiknya harga tentu harus dibuktikan dulu. Juga soal kompetensi para importir, apakah benar mereka tidak berkompeten atau sengaja menimbunnya.

Jajak pendapat ini tidak bersifat ilmiah dan hanya mencerminkan opini para pemakai Internet yang berpartisipasi dalam jajak ini. Hasilnya, yang dibuka setiap Jumat pukul 13.00, bisa dibaca juga di Majalah TEMPO terbaru dalam rubrik Indikator.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data