Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXII/14 - 20 April 2003
   
Surat

Tanggapan Dachlan Abdul Hamied

SAYA menyampaikan terima kasih atas dimuatnya wawancara TEMPO dengan saya melalui telepon pada 26 Maret 2003. Berita tersebut diharapkan dapat membantu menjelaskan kepada masyarakat Indonesia mengenai kegiatan evakuasi warga Indonesia di Irak. Namun terdapat beberapa ketidakakuratan informasi yang perlu diperbaiki, antara lain:

  1. Dalam riwayat hidup saya seharusnya tercantum ”Magister Sains (M.Si.) Jurusan Manajemen Sosial, Sosiologi, Universitas Indonesia (2000); Kepala Bidang pada Badan Pengembangan Ekspor Nasional (eselon III) Departemen Perdagangan (1987-1990); Dekan Fakultas Ekonomi Universitas As-Syafiiyah, Jakarta (1986-1991), dan Pembantu Rektor III Universitas As-Syafiiyah, Jakarta (1998-2000).

  2. Persiapan evakuasi warga Indonesia di Irak dilakukan sejak pasukan Amerika Serikat mendarat di Kuwait (bukan di Yordania). Evakuasi dilakukan secara bertahap, dimulai dengan keluarga staf Kedutaan Besar RI pada 18 Januari 2003, kemudian staf non-esensial KBRI pada 24 Januari 2003, yang semuanya menggunakan paspor biru sehingga tidak memerlukan izin keluar dari imigrasi Irak. Mahasiswa pada mulanya keberatan dievakuasi karena peraturan kuliah di Irak sangat ketat. Kami menugasi seorang petugas KBRI untuk menemui pemimpin Universitas Bagdad dan Universitas Saddam, tempat mahasiswa Indonesia belajar. Pihak universitas kemudian memberikan dua pilihan, yaitu cuti selama satu tahun atau keluar sementara dari Irak dengan menggunakan waktu liburan semester tapi harus kembali seusai liburan semester apabila tidak terjadi perang. Akhirnya semua mahasiswa bersedia dievakuasi dan untuk sementara ditempatkan di Damaskus, Suriah, kecuali seorang mahasiswa yang naik haji bersama orang Irak tanpa memberi tahu KBRI. Karena sampai akhir Februari tidak terjadi perang, sebagian besar mahasiswa kembali ke Bagdad.

  3. Mengingat ketegangan terus memuncak, kami berusaha membujuk mahasiswa Indonesia yang kembali ke Bagdad agar meninggalkan Irak. Mulanya sebagian besar mahasiswa bersikeras tetap tinggal di Irak karena pihak universitas menyediakan tempat berlindung di Faluja, di luar kota Bagdad, dan memberikan bantuan bahan makanan. Melalui dua kali pertemuan (12 dan 15 Maret), mahasiswa dapat diyakinkan bahwa keselamatan mereka lebih terjamin apabila berada di luar Irak. Pada 16 Maret, hampir semua mahasiswa, kecuali dua mahasiswa, menyerahkan paspor mereka ke KBRI untuk dibantu mendapatkan izin keluar dari imigrasi Irak. Pada 17 Maret, kami semua berkumpul di KBRI untuk berangkat ke luar Irak. Sebagian besar mahasiswa didampingi petugas menuju Amman, Yordania (karena mahasiswa tersebut tidak memiliki visa Suriah). Kami bersama mahasiswa lainnya menuju Damaskus, Suriah.

  4. Kerja sama ekonomi Indonesia-Irak selama ini cukup baik. Ekspor Indonesia melalui program oil for food cukup tinggi, misalnya ekspor teh sekitar 4.000 ton per tahun. Dua tahun sebelum Perang Teluk 1991, ekspor Indonesia tercatat sekitar US$ 250 juta melalui program imbal beli. Sebelum ada program imbal beli, ekspor Indonesia ke Irak rendah dibandingkan dengan saat pelaksanaan program oil for food. Kontrak untuk eksplorasi minyak oleh Pertamina di Irak telah ditandatangani pada April 2002. Guna menindaklanjuti kontrak minyak tersebut, sebuah tim dari Pertamina beberapa kali melakukan kunjungan ke Irak. Kunjungan terakhir yang dilakukan adalah beberapa hari sebelum kami keluar dari Baghdad.

DACHLAN ABDUL HAMIED

Kepala Perwakilan RI di Bagdad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data