Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXII/14 - 20 April 2003
   
Surat

Tanggapan buat Junus Jahja

SAYA ingin menanggapi surat pembaca dari Junus Jahja di TEMPO Edisi 10-16 Februari 2003 berjudul Baperki dan LPKB. Tulisan tersebut dimaksudkan sebagai koreksi atas tinjauan buku yang berjudul Dari Krisis ke Krisis yang saya tulis di TEMPO Edisi 16-22 Desember 2002.

Junus Jahja menuduh bahwa Siauw Giok Tjhan amat dekat dengan PKI. Memang benar, setelah Pemilu 1955, Siauw Giok Tjhan sebagai Ketua Baperki semakin condong ke kiri. Hal itu disebabkan oleh sikap PKI di parlemen yang mendukung perjuangan antidiskriminasi terhadap orang Cina sebagaimana diperjuangkan oleh Baperki. Sedangkan partai-partai lain bersikap tidak peduli atau malah membenarkan diskriminasi rasial. Namun tuduhan Junus Jahja bahwa Siauw Giok Tjhan adalah seorang komunis sama sekali tak berdasar. Jika kita membaca pidato ataupun tulisan Siauw Giok Tjhan serta dokumen-dokumen Baperki, tidak pernah komunisme dicanangkan sebagai tujuan perjuangan politik mereka. Kebiasaan memberikan label ataupun stigma komunis adalah sesuatu yang tipikal Orde Baru, tapi Junus Jahja masih gemar menggunakannya lima tahun setelah Orde Baru tumbang.

Lebih parah lagi, Junus Jahja membuat dikotomi ideologis antara Baperki dan Lembaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa (LPKB) sebagai ”bad Chinese” dan ”good Chinese”. Saya yakin bahwa Baperki dan LPKB sama-sama punya tujuan baik meski keduanya menempuh strategi yang berseberangan.

Memang benar bahwa LPKB bukan antek Peking, melainkan binaan militer. Tak mengherankan, setelah September 1965, penguasa militer melakukan pembersihan terhadap segala sesuatu yang dianggap kiri, komunis, pro-Peking, maka dengan sendirinya LPKB berhasil menyelamatkan ratusan ribu orang Cina.

Politikus keturunan Cina dari LPKB, menurut penuturan mantan Ketua Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC), ikut mendesain kebijakan anti-Cina, seperti ganti nama, larangan merayakan Imlek secara publik, penutupan sekolah Cina, pelarangan aksara Cina, serta marginalisasi orang Cina dari politik dan kehidupan publik. Semua itu didasari keyakinan kelompok LPKB bahwa hanya melalui proses asimilasilah ”masalah Cina” bisa diselesaikan.

LPKB, dengan maksud baiknya, telah ”menggadaikan” kebebasan orang Cina di Indonesia selama masa Orde Baru (1966-1998). Hasilnya, seperti kita semua tahu, pada Mei 1998 orang Cina—bukannya sudah terasimiliasi—malah menjadi target penjarahan, pembunuhan, dan pemerkosaan secara massal dan terorganisasi. Adakah rasa bersalah (mea culpa) kelompok LPKB?

BENNY SUBIANTO

Center for Chinese Studies

Jakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data