Absurditas Negara Berjuta Senjata Film dokumenter pemenang Oscar tahun ini yang memotret sisi kelam Amerika Serikat. Sangat kocak, tapi sekaligus mendatangkan kepedihan. |
- Happiness is a warm gun.
(The Beatles, White Album)
Bowling for Columbine
Penulis skenario dan sutradara : Michael Moore
Produksi : United Artists, 2002
Matahari belum terlalu tinggi. Sebuah kantor bank di Michigan baru saja buka. Seorang laki-laki berewok tambun berjalan masuk diiringi kamera.
"Saya ingin membuka rekening di sini," kata lelaki itu.
"Rekening macam mana yang Anda inginkan?" tanya wanita petugas bank.
"Apa saja yang berhadiah senapan."
Laki-laki itu lalu mengeluarkan seribu dolar, dan si petugas melakukan pengecekan identitas. Tak lama kemudian, nasabah baru itu sudah bisa menenteng Weatherby baru laras panjang. Wajahnya setengah tak percaya. "Omong-omong, apa tak berbahaya banyak senjata api di bank?" ia bertanya dengan senyum nakal.
Adegan pembuka film Bowling for Columbine ini langsung mengantar penonton ke realitas absurd kehidupan Amerika Serikat. Bedil, pistol, dan peluru begitu mudah diperoleh. Bahkan mungkin lebih gampang dari kacang goreng. Lihat saja adegan berikutnya. Laki-laki tambun itu, yang tak lain adalah Michael Moore, yang menjadi sutradara film ini, mencukur rambutnya di tukang pangkas. Di tempat ini Moore bisa mendapatkan peluru untuk senapan barunya. Di Amerika, senjata api bisa dibeli di toko swalayan seperti Kmart dan dijadikan hadiah dalam permainan bingo.
Tak salah lagi, AS adalah negara berjuta senjata. Moore sendiri bekas pelatih tembak jitu dan anggota seumur hidup NRA (National Rifle AssociationAsosiasi Senjata Api Nasional). Tapi ia diliputi rasa risau. Rata-rata 11 ribu nyawa melayang setiap tahunnya. Mengapa rakyat Amerika menyimpan ketakutan terhadap sesamanya sehingga perlu memiliki pistol bahkan saat tinggal di lingkungan yang aman? Bila senjata api dibeli demi rasa aman, mengapa angka kematian justru begitu tingginya?
Film ini adalah perjalanan menyusuri Amerika (dan Kanada) untuk mencoba mencari jawaban. Moore menggabungkan potongan gambar dokumenter dari berbagai sumber dan wawancara yang dilakukannya. Di Michigan, ia mendatangi kamp milisi yang anggotanya sedang berlatih menembak. Mereka mengaku rata-rata punya 12 senjata api di rumah, mulai senjata ringan sampai M-16. "Kalau kau tidak bersenjata, kau tidak bertanggung jawab terhadap negeri ini," kata seorang laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai pialang real estate.
Moore juga mengunjungi kakak tersangka pengeboman gedung federal di Oklahoma. Tapi yang paling mendatangkan rasa giris adalah saat Moore mendatangi Columbine High School di Colorado Springs. Di sekolah ini, pada 20 April 1999 lalu, dua remaja bernama Dylan dan Eric menembaki teman-teman sekolahnya. Aksi mereka sempat terekam kamera keamanan sekolah. Empat belas orang tewas, puluhan lagi luka-luka, sebelum akhirnya dua remaja itu bunuh diri. Dari mana dua remaja ini beroleh amunisi? Kmart, dengan harga 17 sen sebutir.
Sampai akhir film, Moore tampaknya tidak mendapatkan jawaban pasti untuk sekian pertanyaannya. Ada yang menyalahkan televisi, permainan video, musisi rockyang paling sering dituding adalah Marylin Manson, yang gemar berpakaian aneh-anehtingginya angka pengangguran, serta keberagaman etnis. Di akhir film, Moore menyatakan mengapa tak menyalahkan boling. Bukankah Dylan dan Eric pada hari yang nahas itu menggelindingkan bola boling sebelum melakukan pembantaian di Columbine? Bila itu dianggap tak masuk akal, sama nonsensnya dengan menyalahkan Manson. Namun, satu hal yang jelas, Moore menyatakan terlalu banyak senjata di Amerika, dan sebetulnya itu tak diperlukan.
"Kegagalan" Moore menemukan jawaban pasti ini yang membedakan Bowling dengan filmnya yang pertama, Roger & Me (1989). Film ini menceritakan ratusan ribu warga Kota Flint, Michigan, yang kehilangan pekerjaannya karena General Motor memindahkan pabriknya ke luar negeri untuk mendapatkan buruh murah. Dalam Roger, penonton dengan mudah mengidentifikasi pengusaha yang serakah sebagai tokoh jahatnya.
Meskipun tak ada jawaban pasti, Moore menyuguhkan adegan-adegan teatrikal yang akan selalu dikenang. Dua orang siswa yang terluka akibat penembakan di Columbinesalah satunya harus berada di kursi roda seumur hidupdiajaknya mendatangi kantor pusat Kmart. Mereka ingin "mengembalikan" peluru-peluru yang masih bersarang di tubuhnya. Selain itu, mereka juga meminta Kmart tak lagi menjual peluru di toko mereka. Serbuan ini membuat juru bicara Kmart, seorang wanita yang terlihat nelangsa, kepayahan membela diri. Wanita ini mengatakan mereka tidak menjual peluru yang menembusi tubuh dua remaja itu.
Moore ingin membuktikan bahwa Kmart berbohong. Keesokan harinya, ia dan dua remaja korban itu mendatangi salah satu toko Kmart dan memborong peluru yang dijual di sana. Mereka juga kembali meluruk markas besar Kmart. Kali ini mereka mengundang media massa. Hasilnya? "Kita menang," kata Moore terbata setelah pimpinan Kmart menyatakan akan menarik semua peluru di toko-toko mereka.
Kemenangan tersebut membuat Moore terinspirasi mendatangi Charlton Heston, aktor pemenang Oscar sekaligus Presiden NRA (Asosiasi Senjata Api Nasional). Aktor gaek yang dikenal lewat perannya dalam film Benhur itu tampaknya tak tahu siapa Moore. Dengan senyum lebar, ia menyambut saat Moore menyatakan dirinya anggota NRA. Namun, ketika Moore mulai memberondongnya dengan pertanyaan, jawabannya terdengar payah. Ia sama sekali tak bisa menjelaskan mengapa dirinya, yang tinggal di lingkungan aman, lengkap dengan patroli, di rumah dengan gerbang tinggi terkunci, dan tak pernah terancam, merasa perlu menyimpan senapan siap tembak. Heston juga sama sekali tak berdaya saat ia ditanya mengapa NRA harus menggelar acara hanya berselang 10 hari dengan penembakan di Columbine.
Bowling menjadi film dokumenter pertama yang diputar di Cannes dalam 46 tahun, dan sekaligus meraih Oscar tahun ini. Pemasukan yang sudah mencapai US$ 20 juta sampai pekan lalu menjadikan Bowling film dokumenter tersukses sepanjang masa. (Tolong, jangan bandingkan dengan serial Harry Potter, yang pemasukannya bisa mencapai hampir US$ 1 miliar.)
Yang sedikit mengganggu dari film ini adalah gaya Moore yang kadang menggurui. Dengan kamera dan penyuntingan sepenuhnya di bawah kendalinya, Moore memang tampil perkasa. Namun, barangkali Moore sengaja mengambil sikap seperti itu. Di saat Presiden George W. Bush menyatakan bersatunya Amerika adalah dukungan terhadap kenaikan anggaran Pentagon, tak salah bila Moore menyatakan keberatannya.
Yusi Avianto Pareanom
|