Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXII/14 - 20 April 2003
   
Buku

Hermeneutika Pembebasan Hanafi

Hassan Hanafi mencoba mentransformasi teks ke aksi.

Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Menurut Hassan Hanafi
Penulis : Ilham B. Saenong
Penerbit : Terajuku, Jakarta, 2002

Hassan Hanafi, penggagas kiri Islam dan oksidentalisme yang cukup populer di sini, kali ini menyentuh hermeneutika Al-Quran. Dalam Hermeneutika Pembebasan, ia mempunyai gambaran hermeneutika yang praktis, transformatif, dan berdimensi pembebasan (taharrur).

Menurut Ilham B. Saenong, penulis buku itu, Hanafi merinci delapan langkah praktis yang bakal mentransformasi teks ke aksi. Itulah langkah demi langkah yang berpangkal pada keberpihakan. Hermeneutika Al-Quran pembebasan Hanafi memanfaatkan landasan ushul fiqh sebagai titik tolak. Ia melihat adanya keterkaitan antara kegiatan penafsiran di satu sisi dan proses pembentukan hukum di sisi yang lain.

Hanafi sengaja tak berpretensi menemukan makna sejati teks. Ia lebih senang merumuskan hermeneutika dengan tujuan praktis yang riil. Dalam konteks inilah ia berbeda dengan Rahman, Arkoun, Abu Zayd, dan di lain pihak sama dengan Asghar Ali Engineer dan Farid Esack.

Sebagian kalangan memang menuduh hermeneutika Hanafi mengandung propaganda sekularisme, ateisme, marxisme, atau westernisasi. Tapi itulah tuduhan yang hanya melihat karakteristik dan orientasi pemikiran Hanafi, bukan kerangka metodologis gagasannya. Hanafi sendiri telah membuat pembelaan soal ini dalam Manāhij al-Tafsīr Mashālih al-Ummah dan Methods of Thematic Interpretation.

Namun, melihat kuatnya aspek praksis dan keberpihakannya pada praktis sosial itu, Hanafi memang sulit mengelak dari bahaya ideologisasi teks. Ia tidak menyadari ada jenis hermeneutika yang berkepentingan justru untuk menelanjangi borok ideologis dalam penafsiran, bukannya mengafirmasi sisi ideologis itu.

Terlepas dari kritik itu, gagasan hermeneutika Al-Quran Hanafi, yang berpihak pada realitas, sangat signifikan dalam wacana metodologi penafsiran Al-Quran. Ia telah menyediakan kritik atas obyektivisme dalam hermeneutika Al-Quran klasik. Pada saat yang sama, ia membicarakan Al-Quran pada taraf sejarah dan teks sebagai fenomena manusiawi dengan menjadikannya sebagai landasan gerakan. Di sini, penulis Ilham berhasil mensistematisasi proyek intelektual Hanafi tentang hermeneutika Al-Quran pembebasan.

Istianah el-Ramla, Alumni Pascasarjana UIN Jakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data