|
Terjepit, terpencil, nyaris tertutup bangunan. Prasasti makam Kapitan Souw Beng Kong (1580-1644) tampak di kolong tangga kayu di perkampungan padat, sangat jauh dari sosok bangunan makam Cina. Ada bongpay, ujung nisan yang menyembul, tapi itu pun tinggal separuh, setinggi 50 sentimeter. Warnanya putih kusam. Bagian prasasti yang paling kiri tertindih undakan kayu.
Bong atau makam Bencon—sebutan setempat—yang tersisa tinggal satu meter persegi. Di depannya, gang sempit permukiman Rt 02/07 Kelurahan Mangga Dua Selatan, Jakarta Utara. Rumah tembok bata setinggi 8 meter dan rumah permanen mengapitnya di kanan-kiri. Menurut Darut, 72 tahun, salah satu penghuni pertama kawasan itu pada 1951, semula luas makam itu 3 x 4 meter, dengan gundukan setinggi 1 meter.
"Betonnya mulus. Lama-kelamaan ternyata di gundukan itu ada yang bolong. Saya sorot ke dalamnya dengan senter, nggak ada apa-apanya, bersih. Bentuknya kayak kolam, seluas bangunan atasnya. Juga berupa betonan semen, melompong," tutur Darut, yang kini punya 20 cucu.
Setahun setelah tidur di atas bong, mantan pejuang veteran 1945 itu mengaku pernah mendapat bisikan gaib yang memintanya untuk tak membikin kotor makam. Ia tak pernah mengusik makam itu, tapi Engkong Darut tak kuasa menolak ketika warga mulai menempati kawasan itu pada 1970-an. Bangunan berdempetan, akhirnya tertelanlah istirah sang Kapitan.
Rumah di atas bong itu milik Ketua RT bernama Mardan. Entah bagaimana, gundukan makam terpangkas dan diplester dijadikan lantai satu kamar tidur. Seolah tak peduli, keluarga tersebut beberapa bulan lalu meninggikan bangunan rumahnya menjadi dua tingkat. "Kami buat tingkat buat disewakan. Hasilnya lumayan," kata Bu Mardan kepada TEMPO. Saat ditanya jati diri Souw Beng Kong, dia menggeleng. Ia siap pindah demi pemugaran, asalkan ganti ruginya pantas.
Menurut penuturan warga, setahun lalu beberapa kali rombongan turis Belanda menengoknya. Begitu juga komunitas Tionghoa. Siapa Souw Beng Kong? Empat abad silam, di Batavia, pada 11 Oktober 1619, Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen meniru praktek Portugis mengangkat seorang terhormat dari setiap suku bangsa yang ada di kota untuk menjadi juru bicara dan penanggung jawab etnisnya. Orang itu digelari kapitan atau kapten tanpa peran militer. J.P. Coen mengangkat Souw Beng Kong sebagai kapitan pertama buat komunitas Cina.
Beng Kong naik karena pengalamannya sebagai pedagang. Pemilik beberapa kapal dagang kelahiran Tang Oa, dekat Pelabuhan Amoy, pada 1580 ini sangat dihormati dan dipercaya penuh oleh sultan dan para petani Banten. Setiap pedagang asing seperti Portugis, Inggris, dan Belanda yang ingin membeli hasil bumi dari Banten harus melakukan negosiasi harga dan lain-lainnya dengan dia.
Semula Souw Beng Kong menampik tawaran J.P. Coen. Tapi Sultan Banten merasa puas dengan keberadaan Souw Beng Kong dan orang-orang Tionghoa lainnya. Mereka banyak mengajarkan teknologi bidang pertanian. Namun, ketika Coen pada 1619 berhasil merebut Jayakarta dan berniat membangunnya sebagai bandar untuk menyaingi Banten, ia berhasil membujuk Bencon untuk membawa orang-orang Tionghoa hijrah ke Batavia.
Batavia dibangun menjadi bandar yang ramai. Beng Kong juga berhasil menggalang dana dan menyediakan tenaga kerja dalam pembangunan kanal yang membelah daerah Molenvliet (sekarang Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk). Pembangunan kanal tersebut untuk menanggulangi banjir.
Tanpa sebab jelas Bencon mengundurkan diri pada 1636 dan berlayar ke Taiwan pada 1636-1639. Di sana ia mengembangkan produksi beras dan gula. Selain itu, ia juga memajukan perdagangan langsung antara Batavia dan pulau itu. Bencon meninggal pada 1644. Makamnya ditemukan kembali pada 1909, dan diperbaiki oleh para tokoh terkemuka Tionghoa. Pada 1920 pemerintah Hindia Belanda memugarnya dengan membuatkan prasasti seperti yang tampak hingga sekarang.
Keberadaan makam Bencon sangat penting sebagai penanda mata rantai sejarah Kota Jakarta. Menurut Adolf Heuken, S.J., yang banyak mendalami bangunan tua Jakarta, seharusnya kuburan itu dipugar dan rumah di atasnya disingkirkan. "Benar-benar memalukan. Sebab, orang Tionghoa waktu silam itulah yang paling banyak bekerja buat kelangsungan Batavia," kata Heuken, menyesalkan ketidakacuhan Pemda DKI Jakarta.
Sejauh ini pihak Pemda DKI memang belum melakukan langkah konkret berupa pemugaran ataupun usul menjadikan makam Souw Beng Kong sebagai monumen cagar budaya. Tapi, seperti dituturkan Indra Riawan, pejabat kebudayaan dan permuseuman, Pemerintah DKI Jakarta mendukung upaya itu. Toh, pada Februari lalu sudah ada proposal dari sekelompok warga Jakarta untuk pemugaran makam tersebut. Bila itu terwujud, berarti sang Kapitan Souw Beng Kong tidak terlupakan lagi.
Dwi Arjanto
|