Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXXII/07 - 13 April 2003
   
Surat Dari Redaksi

Surat Dari Redaksi

MELIPUT berita dalam situasi apa pun adalah tugas semua wartawan. Tapi kami memiliki beberapa pertimbangan khusus setiap kali akan mengirim wartawan ke medan perang. Salah satunya adalah tahan banting, mampu berinisiatif, mampu beradaptasi dalam situasi apa pun, dan tentu saja harus bisa mengirim berita sebanyak dan seeksklusif mungkin.

Memilih Rommy Fibri, wartawan majalah ini, dan Zuhaid el-Qudsy, wartawan Tempo News Room di Kairo, adalah sebuah keputusan yang tak perlu perdebatan. Upaya mereka memasuki Bagdad di tengah kecamuk perang Irak—sementara wartawan lain justru keluar dari Bagdad dan meliput dari Amman, Yordania—merupakan bukti bahwa motto ”wartawan kami melihat halangan sebagai tantangan” bukan cuma slogan belaka. Tentu saja ini bukan soal mudah. Di antara upaya mengirim berita yang eksklusif dari Bagdad dan sekitarnya, Zuhaid dan Rommy harus bertahan di antara gelegar bom yang berjatuhan, bau asap, mesiu, dan tangisan para korban yang kemudian menggedor mental.

Zuhaid el-Qudsy, lahir di Kudus, 9 Desember 1974, adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ia bergabung dengan TEMPO sejak 1999 sebagai koresponden majalah ini di Kairo, Mesir, ketika ia masih menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir. Setelah lulus, ia semakin sering mengirim laporan untuk rubrik internasional. Wawancara Zuhaid dengan pemenang Nobel Sastra, Najib Mahfuz, dan sastrawan feminis terkemuka, Nawal el-Saadawi, untuk rubrik Layar, adalah karya jurnalistiknya yang eksklusif. Tapi pengalamannya ditahan polisi Mesir karena peliputannya tentang Ikhwanul Muslimin pada tahun 2001 menunjukkan bahwa Zuhaid adalah wartawan yang tangguh. Apalagi ketika dia ditugasi ke Palestina setahun silam dan harus menghadapi tentara Israel yang menginjak-injak kameranya. Maka genaplah sudah ”ujian” kami: Zuhaid adalah wartawan yang bisa diandalkan memasuki kawasan konflik apa pun. Sejak dua tahun silam, Zuhaid kemudian bergabung dengan Tempo News Room, saudara terkasih kami yang lahir bersamaan dengan saudara terkasih satunya, Koran Tempo.

Rommy Fibri, lahir di Semarang, 14 Februari 1972, sejak bergabung dengan majalah ini pada tahun 2000, sudah terlihat berbakat ”nekat” dan memiliki hidung investigatif. Laporannya di rubrik-rubrik investigasi—misalnya ketika dia meliput soal penyelundupan minyak tiga tahun silam—memperlihatkan bahwa Rommy adalah wartawan tahan banting. Di tengah hebohnya penyerbuan ke TEMPO beberapa pekan silam, Rommy, yang kebetulan menjabat sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen Cabang Jakarta, jadi ikut heboh. Padahal dia sudah harus berangkat ke Bagdad untuk meliput peperangan yang sudah lama dirancang AS itu. Saat itu pula Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO berkoordinasi dengan Redaktur Eksekutif Tempo News Room untuk mengirim Zuhaid el-Qudsy, yang sangat fasih berbahasa Arab dan juga paham peta kawasan Timur Tengah seperti mengenal pori-pori tubuhnya, memasuki Irak dari pintu lain: Amman, Yordania. Sedangkan Rommy Fibri kami kirim melalui pintu Damaskus, Suriah.

Hasilnya, Anda sudah membacanya di majalah ini dan di Koran Tempo: mereka bekerja di antara ledakan bom dan reruntuhan gedung dengan segala keterbatasannya. Karena peperangan itu, komunikasi terputus. Akibatnya, kami hanya bisa menerima telepon mereka pada malam hari (waktu Indonesia) dan hanya bergantung pada kiriman melalui surat elektronik. Dari laporan Zuhaid, yang menyaksikan sendiri korban yang tewas akibat serangan rudal di sebuah subuh, dan laporan Rommy, yang merasa begitu kecil setelah melihat para relawan yang bersedia berjihad ke medan perang, kami paham: perang ini tidak hanya menghancurkan sebuah negara dan rakyatnya; perang ini telah memusuhi peradaban. Dari jantung pertempuran itu, Rommy dan Zuhaid melaporkannya untuk Anda.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data