Dari Guangdong ke Empat Benua Kepanikan menjalar. Pemerintah pun menetapkan SARS sebagai ancaman nasional. Tapi, seberapa berbahaya radang paru misterius ini? |
Guangdong alias Guangzhou. Tak sulit mencari kandang terbuka di seantero pedesaan di provinsi di Cina bagian selatan ini. Puluhan babi, kambing, ratusan ayam, juga anak-anak bebek menghuni setiap kandang. Sementara itu, paling sedikit dua orang petani penjaga tinggal di sebuah bilik di bawah atap kandang yang sama. Mereka berbagi udara, bau, mungkin juga virus yang sama.
Dan di pedesaan itulah perhatian masyarakat dunia kedokteran kini terpusat. Pekan lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengirim lima ilmuwan top ke Guangdong guna melacak kepingan mozaik teka-teki wabah SARS (severe acute respiratory syndrome), radang paru akut dan berat, yang kini sedang mengguncang bumi. "Ada indikasi SARS menular melalui virus yang dibawa hewan," kata Wolfgang Preiser, anggota tim WHO. "Tapi," ia melanjutkan, "kami belum tahu hewan apa itu. Semuanya masih gelap."
Lakon SARS memang bermula di kesunyian Guangdong, tempat virus manusia dan virus hewan kawin-mawin. Pertengahan November 2002, 300-an penduduk lokal mengeluhkan sakit dengan gejala mirip flu dan kesulitan bernapas. Lima orang di antaranya meninggal setelah gering beberapa pekan. Tapi tanda bahaya belum juga dibunyikan. Fakta ini tak dianggap serius oleh pejabat kesehatan setempat. China Daily Newspaper bahkan menuding pemerintah menutup-nutupi terjadinya berbagai bibit wabah penyakit yang aneh. Keputusan pemerintah Cina, yang berlarut-larut sebelum mengizinkan tim WHO datang ke Guangdong, juga termasuk kelambanan yang mendapat kecaman pedas dari banyak negara.
Sementara itu, virus terus bergerak tanpa peduli batas negara dan restu pejabat. Penyakit misterius SARS makin berkibar bersama tingginya mobilitas manusia. Selain Cina, Hong Kong, Vietnam, Thailand, Taiwan, dan Singapura segera menjadi hot zone, wilayah rawan SARS.
Dan sampai tulisan ini diturunkan, Sabtu akhir pekan lalu sindrom paru misterius ini telah menghilangkan 81 nyawa dan menyerang 2.462 orang yang tersebar di 27 negara. Kanada, Amerika, Inggris, Swiss, Belgia, Australia, Meksiko, Israel, Panama, dan Brasil juga termasuk dalam wilayah sebaran SARS. Ini berarti virus SARS telah melanglang ke empat benua.
Indonesia memang sempat memiliki tiga kasus yang dicurigai SARS. Mereka telah diisolasi dan dirawat di Rumah Sakit Batam, RS Karyadi (Semarang), dan RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta. Belakangan, terbukti bahwa ketiga pasien ini tidak menampakkan gejala klinis SARS. Walhasil, untuk sementara, kita boleh bernapas lega, belum ada kasus paru misterius di negeri ini.
Tapi, belum saatnya untuk duduk santai. Pekan lalu pemerintah resmi menetapkan SARS sebagai ancaman wabah nasional dengan mengacu pada Undang-Undang No. 4/1984.
Nah, selagi pemerintah menggeber berbagai upaya pencegahan, termasuk dengan pembentukan Tim Verifikasi SARS Nasional, masyarakat juga turut bergerak melawan SARS. Meskipun, harus diakui, gerakan masyarakat ini banyak diwarnai gelisah, panik, dan takut—yang menyebar jauh lebih dahsyat dibanding gerakan virus itu sendiri.
Lihat saja suasana Jakarta setelah kabar SARS meledak di media massa. Masyarakat ramai berburu masker penutup hidung dan mulut. Di Apotek Jatinagara, Matraman, misalnya, paling sedikit 10 boks (tiap boks berisi 50 buah) masker ludes terjual dalam sehari. Lalu, Apotek Rini, Balai Pustaka, menjual 10-20 boks masker dalam sehari. "Saya barusan menjual satu boks masker kepada seorang ibu yang bersuamikan pilot," kata Ani, seorang karyawan apotek.
Padahal, yang diburu bukanlah masker N-95 (dengan ukuran pori di bawah 0,3 mikron) seperti yang direkomendasikan WHO. Masker jenis ini, sayang sekali, belum tersedia di pasar lokal. Nah, yang laris manis itu hanyalah masker murahan, Rp 1.000-3.000 tiap buah, dan cuma terbikin dari kain spon dan kasa tipis. Masker biru cerah atau yang hitam model topeng Zorro, yang dijual di Pasar Obat Pramuka, Jakarta Timur, juga ludes diborong konsumen. Soal khasiat, wallahualam, tak ada jaminan masker guyonan ini ampuh menangkal virus penyebab SARS atau radang paru akut dan berat.
Aneka kepanikan juga muncul di belahan dunia lain. Di Kanada, yang mencatat tujuh korban tewas, penduduk dilaporkan berbondong memborong masker N-95. Jutaan masker yang laik pakai hanya selama delapan jam ini ludes cuma dalam beberapa hari. Harganya pun melonjak dari US$ 1,5 (Rp 13.500) menjadi US$ 3,75 (Rp 33.375) per buah. "Ada yang ambil untung dari wabah ini," demikian ditulis koran Kanada, The National.
Di Singapura, penduduk sempat menghindari bepergian dengan taksi gara-gara seorang sopir diberitakan tertular SARS yang dibawa penumpang. Lalu, kelompok musik Rolling Stones dan gitaris Santana membatalkan konser yang sudah dijadwalkan di Cina dan Hong Kong. Kemudian, dari Greenwich di Connecticut, Amerika, seorang kepala sekolah dilaporkan berkeras mengkarantina 40 pelajar dan staf sekolah yang baru pulang dari studi wisata ke Cina. Mereka diharuskan berpuasa diam di rumah selama 13 hari guna memastikan tak ada yang membawa oleh-oleh virus SARS.
Sebetulnya, di atas kertas, SARS tidak perlu memicu kepanikan yang berlebih. Tingkat kematian, ditinjau dari jumlah korban meninggal, benar hanya 3,5 persen. Sebuah persentase yang relatif rendah jika dibanding virus ebola, yang hampir pasti membuat pasien meninggal.
Kemungkinan berkembang fatal, menurut laporan di New England Journal of Medicine (NEJM), terjadi pada 10 persen kasus, hanya muncul pada pasien yang berusia di atas 40 tahun. Para pasien berat ini pun umumnya pernah punya riwayat mengidap penyakit serius yang lain semisal hipertensi, diabetes, penyakit paru, gagal ginjal, atau jantung koroner.
Selebihnya, sebagian besar pasien bisa disembuhkan dengan kombinasi obat ribavirin untuk membunuh virus dan steroid guna menghentikan peradangan paru. Lalu, sebagaimana halnya sebagian besar penyakit yang ditimbulkan virus, SARS juga bersifat self-limiting disease. Bila siklus hidup virus sudah melemah, tubuh kita bisa dengan mudah melawan kawanan virus itu. "Tak perlu obat, kita bisa sembuh sendiri jika kondisi tubuh bagus," kata Endang Sutariningsih, pakar mikrobiologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Persoalannya, banyak sisi SARS yang masih gelap-gulita. Kegelapan inilah yang tak boleh dianggap enteng. Seperti diakui Wolfgang Preiser, anggota tim WHO, tidak semua orang bereaksi positif terhadap obat-obatan. Kondisi beberapa orang malah memburuk setelah minum ribavirin dan steroid. Dua pasien yang dalam kondisi kesehatan prima, tanpa riwayat penyakit serius apa pun, juga terbukti terkena SARS kategori parah. Jadi, memang banyak hal masih belum gamblang. "Kita berurusan dengan sesuatu yang betul-betul baru," katanya.
Termasuk yang masih misterius adalah sosok virus penyebab SARS. Uji serologis (serum darah) yang dilakukan pada pasien di Kanada dan Hong Kong menunjukkan adanya lebih dari satu jenis virus yang bisa diisolasi. Misalnya, kelompok virus paramyxo, kelompok virus corona, dan kelompok bakteri chlamydia. Sejauh ini dugaan kuat memang mengarah pada kelompok virus corona. Tapi, harus dicatat, data ini mungkin bakal segera basi. "Dua hari lagi bisa saja kita temukan virus yang sama sekali baru," kata Preiser.
Lantaran sosok virus penyebab masih misterius, cara penularan dan pencegahannya pun masih simpang-siur. Awalnya, para ahli menduga hanya mereka yang berhubungan dekat (close contact) yang berisiko tertular. Tapi, kemudian ada indikasi virus SARS juga menyebar melalui udara (airborne) dan sistem penyediaan air bersih. Indikasinya adalah Apartemen Amoy Garden, Hong Kong, yang menjadi pusat biakan SARS. Tujuh puluh lima persen penghuni gedung ini, khususnya di Blok E, terserang sindrom paru misterius sehingga semua penghuni harus dikarantina selama 12 hari.
Belakangan, seperti dilaporkan Chris Powell, juru bicara Tim WHO, di Cina ditemukan kasus yang rada keluar dari pakem. Penularan terjadi melalui bakteri chlamydia yang ditukarkan saat terjadi hubungan seksual. "Ini kasus yang aneh dan tidak terjadi pada pasien di Amerika," katanya. Powell pun belum sanggup menjelaskan rincian dari kasus penularan yang aneh ini.
Berhubung ada begitu banyak soal masih misterius, tidak keliru bila kita memasang bendera siaga. Dengan mengacu pada Undang-Undang No. 4/1984 tentang Wabah Penyakit Menular, pemerintah wajib menegakkan upaya pengendalian SARS. Siapa pun yang menghalangi upaya pengendalian wabah bisa diganjar hukuman penjara satu tahun. Tapi, bukan hukuman penjara yang jadi perhatian. "Ini lebih tentang keselamatan masyarakat luas," kata Menteri Kesehatan RI, Achmad Sujudi.
Keselamatan umum memang faktor yang mutlak jadi pertimbangan utama. Maklumlah, negeri ini begitu luas dengan 220 juta penduduk. Sebagian besar kondisi pedesaan kita pun tak jauh beda dengan alam pedesaan di Guangdong. Kandang hewan piaraan seringkali jadi satu dengan dapur majikan tuan rumah.
Lagi pula, bagi sebagian masyarakat kita, jarak Singapura dan Hong Kong tak lebih dari sepelemparan batu. Mobilitas ke wilayah yang rawan SARS itu amat tinggi, baik untuk keperluan bisnis maupun wisata. Belum lagi bila kita perhitungkan puluhan ribu tenaga kerja yang bekerja di negeri-negeri rawan SARS. Mereka bisa pulang setiap saat dengan kemungkinan membawa bibit penyakit ke kampung tanpa mereka sadari. Sebuah mimpi buruk yang hanya bisa dicegah dengan kesigapan kampanye penyadaran masyarakat.
Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YKKI), menilai langkah pemerintah yang terkesan terlambat. Saat semua negara sudah bergerak, barulah kita seperti kebakaran jenggot. Obat ribavirin dan juga masker yang memadai, misalnya, sampai kini belum juga diimpor. Padahal kebutuhan tersebut mestinya sudah bisa diprediksi sejak awal tahun. Pemerintah, seperti janji Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla, sedang mengusahakan mengimpor masker N-95 dalam jumlah memadai untuk dibagi-bagi kepada pihak yang membutuhkan. Mungkin saja, order yang telat ini akan direspons telat pula karena banyak negara antre ingin mendapatkan jutaan unit masker buatan Amerika ini.
Namun, Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, kurang sepakat jika pemerintah disebut kurang antisipatif. "Saya kira kali ini respons pemerintah relatif bagus," kata Tjandra.
Semua program digelar tanpa menunggu korban SARS nyata-nyata berjatuhan di Indonesia. Bahwa ada sedikit keterlambatan, itu cukup wajar. Sebab, toh dunia secara umum—termasuk WHO—juga telat mengetahui betapa berbahayanya SARS.
Paling tidak, antisipasi pemerintah memang bisa dinilai sedikit lebih bagus dari Singapura, apalagi Cina yang lamban. Seperti disaksikan wartawan Koran Tempo, Andre Priyanto, yang berkunjung ke Singapura pada 19-22 Maret lalu, belum tampak sedikit pun tanda kesiagaan Singapura menghadapi SARS. Saat itu tak ada pembagian kartu waspada di bandara, tak ada pembagian masker, juga tak tampak kampanye penyadaran masyarakat secara serius. Padahal, menurut catatan WHO, kala itu sudah ada 40 pasien yang positif di Singapura.
Beberapa penduduk Singapura yang diwawancarai TEMPO juga mengaku kurang paham tentang SARS, dan perhatian mereka sedang terfokus pada perang Irak. "SARS? Ah, pemerintah kami pasti sudah menanganinya," kata seorang lelaki yang dijumpai TEMPO. Barulah ketika SARS bergerak makin serius, masyarakat Singapura tampak kelabakan.
Nah, untuk kali ini, Tjandra memuji pemerintah Indonesia, yang tidak menunggu sampai pasien SARS muncul. Hanya, pujian ini juga disertai catatan ekstra-khusus. Kewaspadaan pemerintah pusat hendaknya mutlak diteruskan sampai ke pejabat lokal, camat, lurah, RT/RW di daerah-daerah terpencil. Sebab, biasanya, entah karena kurang informasi atau sengaja bersikap sok feodal, pejabat lokal relatif kurang terbuka dan cenderung menutup-nutupi masalah. Jika ini sampai terjadi, episode Guangdong bukan mustahil terulang di negeri ini.
Mardiyah Chamim, Dwi Arjanto, Ayu Cipta (TNR), Yandi (TNR), Heru Nugroho (Yogya), Sohirin (Semarang)
|