Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXXII/07 - 13 April 2003
   
Gaya Hidup

Mengejar Bola ke Ujung Dunia

Dahsyat nian polah maniak sepak bola Jakarta. Segunung duit pun tak mampu memuaskan rasa dahaga mereka.

Invasi pasukan Amerika dan sekutunya ke Irak membenamkan Caroline L. Kindangen pada sebuah kekecewaan. Gara-gara peristiwa itu, perempuan semampai dan cantik ini terpaksa menunda kepergiannya ke Italia. Padahal semua rencana sudah dipersiapkan matang-matang. Barang-barang yang akan dibawanya sudah didaftar: kamera, spidol, dan kostum AC Milan—klub kebanggaannya. Lo, kok?

Kepergiannya kali ini memang berbeda dengan yang kerap dilakukannya. Perempuan yang biasa dipanggil Kay ini punya agenda khusus. Bersama 14 orang lainnya, dia akan pergi ke Milan bukan untuk menonton pertunjukan mode melainkan untuk menyaksikan kiprah idolanya, Paolo Maldini dan Allesandro Nesta, dua pilar AC Milan, beraksi di lapangan. Syukur-syukur, ehm, bisa mengajaknya makan malam.

Tapi, ya, itu tadi, gara-gara hujan pelor dan bom di Irak, bayangan indah itu untuk sementara harus dipendam. ”Begitu urusan visa selesai, kami langsung berangkat. Kira-kira akhir April atau awal Mei,” ujar Entong Nursanto, 33 tahun, penyelenggara acara nonton bareng ke Milan.

Entong, pemimpin umum majalah Liga Italia, memang tak sedang sekadar menghibur Kay. Memberangkatkan rombongan untuk pergi ke Italia bukan pekerjaan yang pertama kali dilakukannya. Sebelumnya, selama dua tahun berturut-turut dia sudah membawa belasan orang pergi ke negeri spaghetti itu. Tahun lalu rombongannya pergi ke Parma, menyaksikan kelincahan midfielder AC Parma asal Jepang, Hidetoshi Nakata.

Pergi menonton sepak bola langsung di Italia secara bersama-sama memang fenomena baru di kalangan publik penggila sepak bola di negeri ini. Berbeda dengan turis sepak bola asal Jepang, misalnya, yang pergi ke negeri seberang untuk menyaksikan bintang asal negerinya, para maniak bola negeri ini bepergian ke Eropa semata untuk memanjakan mata dan merasakan aura yang takkan mungkin dikecapnya dalam pertandingan sepak bola di televisi.

Biaya untuk itu tidaklah murah. Untuk bisa melenggang ke Milan, tahun ini mereka dipungut biaya sekitar Rp 30 juta. Cuma orang yang punya duit lebih, memang, yang bisa menonton pertandingan sepak bola sambil berpelesir. Adinda Dyah Paramitha, 16 tahun, anak SMU, termasuk yang beruntung. Dibiayai orang tuanya, dia pun ikut dalam tur ke Italia ini. ”Aku pingin melihat Shevchenko (striker Milan),” tuturnya.

Menurut kalkulasi Entong, dengan jumlah duit yang kurang-lebih sama jumlahnya dengan ongkos naik haji itu, peserta mendapatkan fasilitas penginapan selama sepekan di hotel berbintang, biaya tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi, dan tiket VIP menonton untuk dua kali pertandingan, masing-masing pertandingan di Liga Italia dan Liga Champion. ”Jadi, harga itu tidaklah mahal,” kata Entong.

Sebagai penggila bola, Kay setuju dengan Entong. ”Kalau nonton di televisi mah biasa. Tapi saya ingin bertemu langsung dengan pemain,” kata perempuan lajang kelahiran Sukabumi 38 tahun lalu itu. Dia merelakan bonus tahunannya dihabiskan demi hobinya itu. ”Seandainya tak ada bonus, saya tetap bela-belainlah. Mungkin pakai tabungan,” katanya serius.

Kay memang tergolong salah satu dari sedikit cewek yang gila bola. Ruang tamunya di rumahnya di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, penuh dengan pernak-pernik sepak bola. Tak cuma poster yang menggelendot di dinding, atau miniatur para pemain, ratusan kartu pemain top dunia pun berserakan. ”Semua ini saya peroleh dari surat-menyurat,” katanya bangga.

Kegilaan itu tak cuma milik penggila sepak bola Italia. Penggemar sepak bola Inggris sama saja. Bedanya, untuk pergi ke Inggris, mereka memilih berangkat sendirian. Sebabnya, tak ada pihak yang mengkoordinasinya. Satu orang yang pernah duduk di tribun Old Trafford—markas Manchester United—adalah Robin Handoko, 33 tahun. Setahun silam ia terbang ke Manchester.

Biayanya jelas mahal. Untuk ongkos jalan dan menonton dua pertandingan di sana, Robin mengaku menghabiskan uang Rp 30 jutaan. Uang itu tak lain tabungannya selama lima tahun. Alhasil, sepulang ke Indonesia, Robin pun kehabisan duit dan memulai lagi dari nol. Tapi, ”Saya enggak ada masalah dengan itu. Buat sebagian besar orang, mungkin ini gila. Tapi saya lakukan itu,” katanya.

Kegilaan Robin belumlah seberapa bila dibandingkan dengan Samuel Rismana, 37 tahun. Presiden IndoManutd—kelompok suporter Manchester United di Indonesia, yang beranggotakan sekitar 300 orang—tidak hanya senang pergi ke Old Trafford. Persinggungan pegawai di perusahaan alat-alat pertukangan ini dengan The Red Devils lebih dalam lagi.

Bila jumlah kumpulan merchandise yang menjadi ukurannya, hal itu menjadi sangat tidak berarti. Ribuan koleksinya sudah menyesaki rumahnya di kawasan Pecah Kulit, Jakarta Barat, dan di Bandung, Jawa Barat. Daripada ngejogrok tak keruan, sebagian besar koleksinya dipajang sebagai galeri yang bebas dikunjungi siapa saja. ”Wah, saya sudah enggak tahu lagi berapa uang yang saya keluarkan,” katanya.

Yang jelas, koleksinya pun unik. Misalnya, ada sejumput rumput Old Trafford yang dikemas dalam kristal. Yang paling membanggakannya: sehelai poster besar berisi 29 pemain legenda plus tanda tangan aslinya. Ia membelinya saat berkunjung ke Old Trafford tiga tahun lalu dengan harga Rp 6-7 juta. Mahal, memang. Maklumlah, poster ini dicetak sekitar 300 lembar saja.

Samuel mengaku untuk urusan berburu koleksi tidak ada kata berhenti. Terkadang dia mengikuti lelang barang-barang langka melalui internet, meski harganya menonjok langit. Misalnya, tiket pertandingan Crystal Palace-MU. Pertandingan itu istimewa. Dalam duel itu, Eric Cantona melepaskan tendangan kungfu ke penonton Crystal Palace. Dalam tiket itu disertakan foto dan tanda tangan Eric Cantona.

Bagi awam, tentu tingkah Samuel ini bikin geleng kepala. Tapi dengan santai dia menyatakan, semua itu dilakukannya semata karena kecintaannya pada klub itu. ”Saya tergolong die hard. Sampai kapan pun saya akan terus membela Manchester United.”

Namun, bukan soal koleksi yang jadi perhatian. Emosinya kadang tersulut bila jagoannya dilecehkan. Pernah suatu ketika dia mengirimkan SMS ke anggota IndoManutd untuk memprotes sebuah stasiun televisi hanya gara-gara stasiun itu dianggap kurang lengkap dalam memasang logo MU. ”Coba lihat logo MU di belakang si pembawa acara itu tidak lengkap. Besok kita protes,” begitu SMS yang terkirim ke beberapa penggemar MU lainnya.

Tidak hanya itu, sempat pula dia mendatangi redaksi sebuah tabloid olahraga. Tujuannya, sama saja, dia mau memprotes. Kala itu yang membuat dia sewot adalah judul yang memelesetkan Man U—kependekan dari Manchester United—menjadi ”Man Yoo”. ”Menyebut begitu kan sama saja dengan meledek,” katanya sengit.

Di luar itu semua, pengalaman yang dia rasakan amat membekas adalah ketika berada di antara puluhan ribu pendukung Old Trafford. Seolah berada dalam sebuah lautan, ia sama sekali tak merasakan perbedaan satu sama lain. Dalam bahasanya, berada di Old Trafford seolah berada di tempat yang suci. ”Saya bisa merasakan atmosfer yang sama sekali lain,” katanya.

Kenikmatan itu hanya bisa dibeli oleh segunung duit. Namun, sejatinya, hal seperti itulah yang kini tidak saja didambakan Caroline tapi juga penggila bola lainnya.

Irfan Budiman, Levianer Silalahi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data