Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Wawancara

Dachlan Abdul Hamied: "Saddam Seorang Manajer yang Cerdas"

Dachlan Abdul Hamied, Duta Besar Indonesia di Irak, merasakan sulitnya menjadi duta besar di negara segenting Irak. Dalam keadaan aman tenteram, ia kesusahan meyakinkan para taipan Indonesia bahwa Irak adalah pasar yang subur. Begitu perang di ambang pintu, ia kesulitan mengevakuasi warga Indonesia dari sana. Di samping seretnya angkutan, hambatan paling besar justru datang dari warga Indonesia sendiri. Saat situasi sedang genting-gentingnya, sejumlah mahasiswa Indonesia malah ngotot bertahan di Bagdad. Dachlan sangat khawatir, dan firasatnya amat kuat bahwa kota itu bakal dihujani bom.

Dachlan bersama sejumlah stafnya berusaha keras merayu para mahasiswa itu. Juga mendatangi petinggi kampus, tempat para mahasiswa itu belajar, guna membereskan persoalan kuliah mereka. Untungnya, para mahasiswa itu mau pindah juga.

Yang terakhir keluar dari Bagdad adalah rombongan Dachlan sendiri. Duta besar ini meninggalkan kota tersebut pukul setengah tiga sore waktu Irak, 17 Maret lalu, cuma beberapa jam setelah Presiden George Walker Bush memberi waktu 48 jam untuk Saddam supaya meninggalkan Irak. Benar, Saddam mengacuhkan peringatan itu, lalu bom-bom pun berjatuhan di Negeri Seribu Satu Malam tersebut.

Menggunakan jalan darat, rombongan Duta Besar baru tiba di Damaskus, Suriah, pukul 12.30 waktu setempat. Sebelas jam perjalanan nonstop. Setelah pening mempersiapkan evakuasi, perjalanan itu terasa melelahkan. Bersama istri dan dua anaknya, Dachlan kini menetap di sebuah rumah kontrakan di Damaskus, Suriah. Untuk bekerja, ia berbagi kantor dengan Juju Jubaedah, Kuasa Usaha Indonesia di Damaskus.

Lahir di Garut 55 tahun lalu, sulung dari tujuh bersaudara ini sudah "membanting tulang" sejak kecil. Jika sekolahnya sedang libur, Dachlan betah berhari-hari di Pasar Babatan, Bandung. "Saya dagang kentang di pasar itu," katanya. Sebagai anak sulung, ia harus siaga membantu orang tuanya.

Walau harus berdagang, urusan sekolah tak pernah macet. Setelah rampung dari sekolah menengah atas di Garut, Dachlan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Nasib baik berpihak. Begitu tamat dari situ, ia langsung bekerja di Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Tiga tahun bekerja, ia didaulat menjadi Kepala Bidang Pengembangan Ekspor Nasional.

Dari situ, ia didaulat menjadi Direktur Indonesia Trade Promotion Center di Bagdad, Irak. Ia masuk ke negeri itu hanya beberapa bulan setelah Perang Teluk.

Dachlan menyaksikan bagaimana rakyat Irak bertahan hidup di bawah embargo ekonomi dunia, juga setelah perang mengubur hampir seluruh harta negeri itu. Gedung pencakar langit roboh dan kilang minyak hangus terbakar. Pendapatan per kapita yang sebelumnya US$ 2.800 tiap bulannya tiba-tiba anjlok ke angka US$ 100-150. Saddam meminta rakyatnya agar hidup prihatin.

Lama berada di Irak, Presiden Abdurrahman Wahid lalu mengangkatnya menjadi Duta Besar Indonesia di Irak, Juli 2001 lalu. Wawancara Wenseslaus Manggut dari TEMPO dengan Dachlan Abdul Hamied ini dilakukan melalui sambungan telepon internasional Jakarta-Damaskus, Rabu pekan lalu. Berikut petikan lengkapnya.



Sejak kapan Anda mempersiapkan evakuasi warga Indonesia dari Irak?

Sejak pasukan Amerika Serikat mendarat di Yordania akhir 2002 lalu, kami sudah mulai melakukan upaya-upaya evakuasi. Karena Amerika mengerahkan pasukannya dalam jumlah besar, kami memperkirakan perang segera meletus. Dugaan ini kian kuat karena Garda Republik, pasukan elite Irak, juga sudah mengatur siasat.


Karena situasi genting, sejak awal Desember 2002 kami melakukan registrasi warga Indonesia di Irak. Tercatat sekitar 104 orang.


Arus keluar dari Irak sendiri sejak kapan?

Sejak 18 Januari sudah ada beberapa orang yang keluar dari Irak. Sejumlah lainnya keluar pada 24 Januari. Semuanya menggunakan paspor biru, yang tidak perlu melapor ke imigrasi Irak. Tapi banyak yang ngotot bertahan di Irak, terutama mahasiswa. Aturan kuliah di Irak sangat ketat. Tidak hadir tiga kali, mahasiswa akan dikenai drop-out. Itu sebabnya para mahasiswa memilih bertahan.


Sebagai duta besar, apa yang Anda lakukan?

Kami mendatangi beberapa perguruan tinggi, terutama Universitas Bagdad dan Universitas Saddam, karena kebanyakan mahasiswa Indonesia belajar di situ. Setelah berunding cukup lama, akhirnya pihak universitas memberikan dua pilihan. Pertama, cuti selama satu tahun. Kedua, bisa keluar dari Irak tetapi, apabila pada dua minggu pertama bulan Februari perang tidak meletus, mahasiswa itu harus pulang ke Bagdad. Pilihan itu saya sampaikan kepada mahasiswa kita.


Akhirnya mereka mengungsi juga dari Irak?

Pada Januari itu semuanya sudah mengungsi ke Damaskus. Saya sendiri masih berada di Bagdad. Situasi Irak kian tegang karena kampanye perang Amerika Serikat. Repotnya, dalam situasi genting seperti itu sejumlah mahasiswa yang sudah mengungsi ke Damaskus malah balik lagi ke Bagdad. Saya tentunya cemas. Mereka kembali ke Bagdad karena takut drop-out dari universitas.


Ada yang mengungsi tanpa sepengetahuan Anda?

Ada satu orang yang ikut naik haji bersama masyarakat Irak. Dia naik haji tanpa memberi tahu ke kedutaan. Saat mendata warga Indonesia, kami sangat bingung karena satu orang tak tentu rimbanya. Saya mengerahkan semua staf saya untuk mencari orang ini, bertanya ke sana kemari. Belakangan, ada warga Bagdad yang bilang bahwa orang ini sedang naik haji.


Selanjutnya?

Pada awal Maret, ketegangan terus memuncak. Bahkan beberapa duta besar dari beberapa negara di Asia sudah mengungsi ke negara terdekat. Pihak Irak juga sudah memberikan peringatan kepada warga asing supaya berhati-hati. Karena situasinya tak menentu, pada 12 Maret saya mengundang semua mahasiswa Indonesia di Bagdad ke kediaman saya. Setelah makan malam bersama, kami berbincang-bincang soal evakuasi.


Masih banyak juga yang keberatan?

Dari belasan mahasiswa yang hadir, enam orang ngotot bertahan di Bagdad. Mereka bilang, kuliah mereka lebih penting. Bahkan ada yang mau bikin surat perjanjian segala, yang isinya jika terjadi apa-apa itu merupakan tanggung jawab mereka sendiri.


Anda menerima perjanjian itu?

Tidak, karena pekerjaan saya bukan seperti itu. Saya mencoba berkonsultasi dengan beberapa duta besar lainnya yang berasal dari Asia. Sore tanggal 15 Maret, misalnya, saya pergi ke Kedutaan Vietnam. Dari kedutaan itu saya menelepon sejumlah mahasiswa dan meminta mereka datang ke kediaman saya sore itu juga. Mereka datang sekitar pukul tujuh malam. Yang dibicarakan lagi-lagi cuma soal evakuasi itu. Mereka baru menerima tawaran kami sekitar pukul 11 malam. Saya benar-benar lelah.


Besoknya, sekitar pukul 11 siang, mereka datang ke kediaman saya lagi. Mereka menyerahkan paspor kepada kami, kecuali dua orang, yaitu Syaifudin dan Ujat Sudrajat.


Menurut sejumlah temannya, Syaifudin telah mengungsi lebih dulu ke Paluja, sebuah kota yang terletak di sebelah timur Bagdad. Kota ini katanya aman dari gempuran Amerika. Yang tidak jelas rimbanya adalah Ujat Sudrajat itu. Sampai hari terakhir di Bagdad, kami tidak menemukannya.


Bagaimana keadaan saat evakuasi?

Tanggal 17 Maret, kami sudah berkumpul di kedutaan. Sebuah bus dan tiga buah mobil telah disiapkan untuk mengungsi ke Damaskus. Situasinya benar-benar genting. Kami adalah rombongan terakhir dari Asia yang keluar dari Bagdad. Sesaat sebelum kami berangkat, tiba-tiba Syaifudin nongol. Kami semua terkejut juga. Setelah semuanya siap, saya lalu menelepon Direktur Jenderal Politik Departemen Luar Negeri Irak. Saya bilang, "Saya pamit dulu."


Selama ini, bagaimana sebetulnya hubungan Indonesia dengan Irak?

Hubungan kita dengan Irak sangat baik dalam segala bidang. Dalam bidang politik, Indonesia berkali-kali meminta PBB agar embargo dicabut. Parlemen kedua negara beberapa kali saling berkunjung. Antar-partai juga hubungannya baik. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pernah berkunjung ke markas Partai Baath di Bagdad.


Di Jakarta, sejumlah pihak mengecam sikap pemerintah Indonesia yang kurang tegas dalam masalah Irak. Bagaimana rakyat Irak sendiri melihat sikap Jakarta itu?

Hingga sekarang rakyat Irak melihat pemerintah Indonesia konsisten membela nasib mereka. Indonesia terlibat aktif dalam program Oil For Food dan menjadi pengusul sidang Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan perang di Irak, di samping aksi demonstrasi yang terus marak di sejumlah kota di Indonesia. Sikap pemerintah Indonesia jauh lebih tegas ketimbang sikap beberapa negara lainnya.


Selama ini, seperti apa kerja sama ekonomi Indonesia-Irak?

Irak adalah pasar yang baik untuk sejumlah eksportir Indonesia. Sejumlah produk Indonesia yang laris di Irak adalah kayu lapis, teh, tekstil, minyak goreng, ban mobil, spare part mobil, dan alat tulis seperti pensil. Pensil Indonesia sangat laris di Irak, begitu juga teh. Setiap tahun sekitar 400 ton teh dari Indonesia masuk ke Irak. Orang Irak senang dengan harumnya.


Sekitar 20-an eksportir selama ini berdagang ke Irak. Ada yang langsung ke Irak, ada juga yang menggunakan negara ketiga sebagai perantara.


Selama perang ini, perdagangan itu tentunya terhenti sama sekali?

Ada yang berakhir pada awal 2002 lalu, Januari 2003, dan bahkan teh masih masuk ke Irak pada akhir Februari lalu. Padahal saat itu situasi amat tegang, sebelum saya keluar dari Irak. Pertamina Indonesia meneken perjanjian dengan perusahaan pertambangan Irak untuk jual-beli minyak. Perjanjian itu kami teken dua hari sebelum saya keluar dari Bagdad.


Berapa kira-kira nilai perdagangan kita dengan Irak?

Dalam enam tahun terakhir, total pendapatan kita dari ekspor ke Irak sekitar US$ 300 juta. Jadi, sekitar US$ 50 juta setiap tahunnya. Dalam keadaan embargo, kita masih bisa berdagang. Ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 1985 hingga 1990, kita hanya menerima sekitar US$ 10 juta setiap tahun.


Kerja sama dalam bidang pendidikan?

Ilmu agama Islam sangat kuat di Irak. Itu sebabnya, mereka yang ingin belajar ilmu agama Islam datang ke Bagdad. Saat ini sekitar 39 mahasiswa Indonesia belajar ilmu agama di sejumlah universitas di Irak. Bahkan kami sudah meneken perjanjian dengan pemerintah Irak soal pemberian beasiswa untuk mahasiswa Indonesia.


Rencananya, pada Agustus nanti akan datang sekitar 15 orang penerima beasiswa untuk program S1 dan 10 orang untuk program S2. Uang kuliah, makan, dan sewa asrama semuanya gratis.


Dalam bidang lainnya?

Kita selalu aktif dalam Festival Babylon, yang digelar setiap tahun di Kota Bagdad. Pada saat festival akhir tahun lalu, kami memboyong para penari jaipong dan penyanyi dangdut dari Jakarta. Penyanyi dangdut itu bergoyang ria di depan sekitar sepuluh ribu penonton. Warga di sini senang sekali dengan liukan goyang dangdut itu.


Seperti apa sebetulnya sosok Saddam di mata rakyatnya?

Saddam Hussein adalah seorang penderma. Itu yang membuat hampir semua warga Irak mau mati demi Saddam. Rasa simpati itu muncul karena hampir semua kebijakan Saddam pro-rakyat kecil. Selama masa pemerintahannya, Saddam tidak pernah menaikkan harga listrik, bensin, dan air minum, karena Saddam tahu bahwa jika produk-produk itu dinaikkan rakyat kecil yang akan sengsara. Di Irak, harga listrik sangat murah.


Apa sebetulnya kelebihan Saddam ketimbang sejumlah petinggi Irak lainnya?

Saddam Hussein adalah seorang manajer yang cerdas. Sejumlah staf penting di sekitar Saddam adalah para doktor lulusan Inggris. Mereka pintar-pintar. Dia betul-betul menjaga hubungan baiknya dengan sejumlah stafnya itu, juga dengan partainya.


Bukankah ada beberapa kelompok di Irak seperti Sunni, Syiah, Kristen, dan Kurdi di selatan? Bagaimana Saddam mengelola perbedaan itu?

Saddam adalah penyeimbang dari berbagai kelompok politik dan agama yang ada di Irak. Saddam sendiri adalah penganut Sunni, tetapi ia tidak pernah menomorsatukan kelompok ini. Semua kelompok aliran itu diberi tempat dalam pemerintahannya. Ada Tariq Azis, yang Kristen Katolik. Demikian pun, kelompok Syiah dan Kurdi diberi jatah di pemerintahan. Jadi, semuanya terwakili. Pola pengelolaan negara model begini yang membuat posisi Saddam menjadi begitu kuat.


Tapi, bukankah ia kerap menindas suku Kurdi, yang membangkitkan perlawanan dari kelompok ini terhadap Saddam?

Orang Kurdi memang merasa diperlakukan seperti itu. Tapi itu tidak berarti mereka menerima begitu saja tawaran Amerika untuk menggulingkan Saddam.


Apa yang membuat posisi Saddam sangat kukuh di pemerintahan?

Struktur pemerintahan Irak sangat ditentukan oleh struktur kepemimpinan Partai Baath pimpinan Saddam Hussein. Partai ini sangat kuat dan tidak ada lawannya. Selama partai ini masih kuat, selama itu pula posisi Saddam masih sangat kuat. Dan Partai Baath termasuk partai politik yang bersih dari korupsi dan penyelewengan lainnya.


Bagaimana bisa dibilang Partai Baath itu bersih dari korupsi dan penyelewengan lainnya? Bukankah dua putra Saddam Hussein ikut duduk di elite pemerintahan Saddam?

Ya, tapi mereka tetap kader yang baik di Partai Baath. Artinya, kedua putra Saddam itu juga sangat pintar dan cerdas sehingga dibutuhkan oleh partai. Itu saja alasannya. Soal korupsi, Saddam betul-betul sangat serius menumpasnya. Kalau ada aparat penegak hukum menerima hadiah dari orang luar, pribadi atau kelompok, tanpa melalui proses hukum aparat itu langsung masuk penjara selama tiga bulan. Hukum instan beginian sudah lazim di Irak.


Anda punya contoh lain soal konsistensi Saddam dalam pengelolaan negara yang bersih?

Sebelum Perang Teluk tahun 1991, negara memberikan kredit mobil kepada ribuan warga Irak. Setiap bulan warga membayar kreditnya ke pemerintah. Waktu Perang Teluk meletus pada 1991, orang mengira semua keuangan kredit mobil itu diangkut untuk mendanai perang. Ternyata, begitu perang selesai, Saddam melaporkan bahwa uang itu masih utuh.


Tapi Saddam juga sosok yang "bengis" dan tak segan-segan membunuh lawan politiknya. Contohnya adalah kedua menantunya yang dibunuh.

Saya kira bukan bengis, melainkan keras. Ia sangat menghormati kesetiaan, tapi ia juga membenci pengkhianatan.


Perlawanan rakyat Irak sangat gigih menghadapi pasukan Inggris dan Amerika. Apa sebetulnya yang memotivasi mereka?

Partai Baath sangat mendewakan Saddam. Dan penetrasi partai ini merasuk hingga ke desa-desa. Ada banyak kelompok Baath yang menjamur di desa-desa seperti kelompok pemuda, kelompok remaja, dan sebagainya. Nah, kelompok-kelompok inilah yang memompa masyarakat desa untuk melawan. Semua sipil yang pegang bedil itu adalah kader Partai Baath.


Apakah karena itu amat susah sebuah kekuatan oposisi bangkit di Irak?

Betul. Di Afganistan, perang lekas selesai karena banyak kelompok oposisi yang ikut menghajar Taliban. Tapi, di Irak, kelompok oposisi itu tidak ada. Amerika mencoba masuk melalui Kota Basrah, karena di situ mayoritas Syiah. Amerika berharap kaum Syiah itu bisa dijadikan kawan untuk menggempur Bagdad yang mayoritas Sunni. Faktanya, Amerika justru mendapat perlawanan yang luar biasa sengit dari kelompok Syiah itu.


Mengapa begitu?

Orang Irak, apa pun sukunya, merasa sebagai sebuah bangsa yang besar di kawasan Timur Tengah. Mereka pernah sukses menahan pasukan Mongol masuk ke Bagdad, sukses mengusir tentara Inggris dari kota itu, dan beberapa prestasi lainnya. Jadi, sebuah bangsa yang besar. Anggapan itu hidup di setiap masyarakat Irak.






Dachlan Abdul Hamied

Tempat/tanggal lahir:

  • Garut, 12 Maret 1948

Pendidikan:

  • Sekolah Dasar Garut (1960)
  • Sekolah Menengah Pertama di Garut (1964)
  • SMEA di Garut (1967)
  • Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (1976)
  • Magister Manajemen Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia (1989)

Pekerjaan:

  • Kepala Bidang Pengembangan Ekspor Nasional Departemen Perindustrian dan Perdagangan (1983-1989)
  • Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Asyidiqiah Jakarta (1989-1991)
  • Direktur Indonesia Trade Promotion Center di Bagdad (1992-1997)
  • Pembantu Rektor Tiga Universitas Asyidiqiah Jakarta (1997-2001)
  • Duta Besar Indonesia di Irak (2001- sekarang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Kanada Kirim Bantuan Tambahan ke Georgia - 28 Ags 2008 | 10:16 WIB
Ragam Keindahan dalam Jakarta Fashion Week 2008 - 28 Ags 2008 | 10:16 WIB
Pasukan AS Serahkan Kontrol Anbar ke Irak - 28 Ags 2008 | 10:00 WIB
Chelsea Unggulan Pertama Liga Champion - 28 Ags 2008 | 09:43 WIB
Menyerah, Dua Pembajak Pesawat Sudan - 28 Ags 2008 | 09:37 WIB
Pengrajin Minta Amrozi Cs Segera Dieksekusi - 28 Ags 2008 | 09:30 WIB
Lebih Sehat Saat Ramadan - 28 Ags 2008 | 09:27 WIB
Petenis-petenis Unggulan Belum Terbendung - 28 Ags 2008 | 09:20 WIB
KPU Bentuk Tim Supervisi Pengadaan Barang dan Jasa - 28 Ags 2008 | 09:08 WIB
Harga Minyak Naik di Atas US$ 118 - 28 Ags 2008 | 09:04 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data