Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Seni Rupa

Selangkah dari Snobisme

Seni rupa Cina seperti magnet. Di sebuah hotel di Jalan Prapatan, tak jauh dari Galeri Nasional, Jakarta, berjubel orang, mengikuti lelang lukisan Cina. Wajah mereka kelimis, tubuh mereka wangi, perhatian mereka tersita pada acara itu.

Minggu siang pekan lalu, di salah satu ballroom hotel itu, Balai Lelang Larasati memerankan juru lelang. Terdengar bunyi palu diketuk, dan sebuah lukisan karya perupa Indonesia terjual Rp 1 miliar. Di antara seratusan lukisan, dua karya perupa Cina ikut terlego oleh kolektor Indonesia. Harganya masing-masing sekitar Rp 65 juta, atau tiga kali lipat penawaran.

Dua karya Walasse Ting yang terjual itu, Two Women dan Portrait of a Chinese Girl and Three Parrots, tampak sederhana. Perupa yang hijrah ke New York sejak 1961 itu menggoreskan gambaran figur perempuan berwajah oriental. Walasse, kelahiran Shanghai, Cina, pada 1929, memang menggemari subyek keindahan perempuan, bunga, dan binatang peliharaan. Komposisinya semirealis, dibalut warna-warna merah dan hijau yang cerah.

Menurut pemilik Larasati, Amir Sidharta, pihaknya selama ini sudah dua kali melelang tiga lukisan perupa Negeri Tirai Bambu. Pada Oktober 2002 dan Maret lalu, ketiganya diikutkan di antara puluhan lukisan lain. "Kolektor lokal kita mulai berminat pada lukisan Cina. Dari segi investasi sangat menarik karena harganya solid, jelas, stabil dan meningkat. Lalu kualitasnya tinggi karena tema-tema yang ditampilkan menarik," kata Amir.

Sejumlah pengusaha dan eksekutif puncak penggemar lukisan menyenangi lukisan Cina. Misalnya Presiden Direktur Astra International, Budi Setiadharma, yang punya dua lukisan Cina. Lukisan tersebut dipajang di rumahnya di antara puluhan lukisan karya maestro Tanah Air. Salah satu lukisan itu menampilkan figur gadis Bali. Dia lupa kapan dan siapa pelukisnya. Yang pasti, itu dibeli di balai lelang Jakarta. "Saya suka obyeknya. Goresan dan komposisi warna juga menarik. Kalau ada lagi yang bagus, ya, akan saya beli," kata Budi kepada TEMPO.

Cukup ringkas, tapi mungkin bukan sekadar bagian dari mode mengoleksi lukisan satu dekade silam. Kini aliran seni rupa Cina sangat beragam: tradisional, klasik, dan kontemporer. Bagaimana reaksi kolektor terhadap lukisan kontemporer Cina? Pemilik Andi Galery, Andi Yustana, 54 tahun, menilai selera mereka juga beragam. Peminat lukisan tradisional, obyeknya tetaplah figur dan mudah didapat—berbeda dari kontemporer yang terbatas. "Tema lukisan Cina yang dimiliki kolektor kita umumnya masih realis figuratif," kata Andi.

Pengamat seni rupa Agus Dermawan T. melihat kolektor lukisan Cina kontemporer Indonesia juga kolektor seni kontemporer Indonesia. Mereka menyimpan lukisan Cina seperti halnya menyimpan karya perupa Eropa, Amerika Selatan, dan lainnya. Sejenak mereka mungkin melihat asal negara. "Setelah itu, tak perlu. Yang penting, nama dan historiografi senimannya. Namun kolektor lukisan Cina yang sejati memang berbeda. Dan itu tak banyak, kecuali almarhum Adam Malik," kata Agus Dermawan. Di museumnya ada sebuah karya maestro Zhao Yi di atas sutera.

Para kolektor seni lukis Cina tingkat dunia memiliki ketertarikan yang berakar pada tradisi. Hal ini pernah direspons pelukis Lee Man Fong, misalnya, yang melukis aneka hewan yang berhubungan dengan shio, atau pemandangan sebuah kampung di Cina, tempat sejumlah kolektor itu berasal. Jadi, koleksi itu hanya aksentuasi kecil dari koleksi yang lebih umum dan besar.

Menurut Agus Dermawan, salah satu perbedaan penting bila dibandingkan dengan kolektor lukisan tingkat dunia, kolektor dari Indonesia masih menganggap bahwa seni lukis Indonesia adalah milik Indonesia. Tetapi karya pelukis Cina, Singapura, Spanyol, Italia, dan Amerika itu adalah milik dunia.

Sebagaimana tampak dalam pameran di Galeri Nasional, karya perupa kontemporer Cina banyak berbicara tentang masalah identitas dan personalitas. Atau refleksi terhadap masalah sosial dunia. Walasse Ting sendiri, misalnya, bisa disebut perupa produktif yang kontemporer. Bila para kolektor di Indonesia lebih menyukai karya realis, boleh jadi itu karena persoalan referensi.

Sebelum pameran From China with Art, pernah diadakan pameran lukisan Cina kontemporer perorangan. Pada 1995 ada pameran seni Cina kontemporer di Balai Sidang yang dibawa perguruan tinggi seni Liao Ning. Waktu itu dipajang 400 lukisan Cina kontemporer. Lalu pada 1996 karya Wu Guanzhong dipamerkan. Kini mata kita terbuka: seni lukis Cina bukan hanya menampilkan ikan koi, pemandangan alam yang tenteram, tapi juga kritik sosial.

Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data