Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Seni Rupa

Pemerintah Masih Represif

Usai peristiwa Tiananmen, kegiatan seni di luar mainstream Cina merunduk. Tapi Johnson Chang Tsong-zung tidak diam. Bersama kritikus seni Li Xianting, kurator Johnson Chang menggagas pameran di mancanegara. Rencana itu baru terlaksana pada 1992 dengan membawa 51 perupa kontemporer Cina ke China New Art Post-1989 di Hong Kong—sebagian besar dari mereka kini turut berpameran di Jakarta. Apa yang berlangsung dalam seni rupa Cina? Berikut petikan wawancara TEMPO dengan Johnson Chang, yang sedang berada di Hong Kong.

Pada saat pemerintah represif, dari mana para pelukis Cina ini memperoleh referensi tentang seni kontemporer?

Semua pelukis yang turut dalam pameran berlatar belakang akademis. Mereka terlatih dengan gaya Eropa, di studio mereka juga menggunakan model. Dan selama masa pemerintahan Mao, mempelajari seni kontemporer adalah tabu. Setelah Mao mati, mereka memutuskan untuk mempelajari hal yang selama ini tertinggal. Gaya Barat sendiri datang sebelum masa Mao. Mereka mempelajari literatur seni Eropa dari terbitan-terbitan Barat . Ini berlangsung dari awal abad ke-20 hingga tahun 60-an. Dengan itu mereka tidak canggung mengadaptasi seni kontemporer. Tapi pada dekade 80-lah translasi eksperimental kontemporer terjadi.

Bagaimana bentuk "perdamaian" pemerintah dengan para perupa kontemporer kini?

Sebenarnya pemerintah Cina hingga kini pun masih represif. Sejak 80-an perupa Cina jarang menuntut, bahkan karya mereka tidak muncul ke permukaan. Jadi mereka hanya melakukan apa yang mereka suka buat mereka dan lingkungan saja. Tapi pada 90-an, mereka melihat publik internasional sebagai audiens. Segala cara mereka lakukan, bahkan hal yang ilegal di Barat, seperti membawa jasad ke arena pameran. Jadi di sanalah letak kebebasan berkesenian Cina. Ini menjadi semacam jalan keluar bagi para perupa, meski tak didukung pemerintah.

Setelah ini, ke mana seni kontemporer Cina akan bergerak?

Seni kontemporer Cina meluas ke berbagai media. Performa mereka sangat aktual dari tahun 1980. Seni video juga mencapai puncaknya pada tahun 90-an. Lalu muncul beberapa fotografi yang konseptual yang menjadi media yang sangat berkembang. Beberapa artis kini bereksperimen dengan internet dan komputer. Feng Mengbo, pelopor dalam seni computer game, sudah berpameran dua media seni sejak sepuluh tahun lalu. Dengan penerimaan pemerintah yang bertahap, saya menduga seni kontemporer Cina akan lebih konfrontatif di masa depan. Mereka juga butuh mengembangkan tema baru, perhatian baru. Mereka mungkin akan lebih mengeksplorasi kehidupan personal ketimbang sosial-publik.



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data