Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Seni Rupa

Rasa Perih di Atas Kanvas

Seni lukis kontemporer Cina dipamerkan di Jakarta. Inilah produk era baru pasca-tragedi Tiananmen.

Kaki bayi itu menyembul dari pelukan seorang lelaki. Bagian tubuh lainnya tak kelihatan, terselimuti kain kafan yang membungkusnya erat. Dalam lukisan tersebut tubuh si bayi seperti terpotong. Tapi inikah potret Cina yang mengusung program Keluarga Berencana "cukup satu anak saja"—program yang mewajibkan aborsi terhadap anak kedua? Yang pasti, itulah lukisan karya Guo Wei yang dipamerkan bersama 15 pelukis lainnya dalam From China with Art di Galeri Nasional, Jakarta, akhir Maret ini.

Seni rupa Cina yang baru memang telah meninggalkan karya realis model Lee Man Fong. Setidaknya bagi publik seni Indonesia, lukisan kontemporer itu lebih banyak mengusik ketimbang membuai pemirsanya. Dunia seni rupa Cina bergerak, berkembang, tapi para pencintanya di negeri ini agaknya masih terpaku pada lukisan realis dengan obyek-obyek figuratif (lihat boks: Selangkah dari Snobisme)—terlebih setelah tragedi Tiananmen.

Mereka memang telah menyempal dari pakem "seni resmi" (official art) yang dihalalkan pemerintah. Sejak zaman Mao Zedong, akademi seni di sana mengajarkan seni sebagai alat propaganda sekaligus meletakkannya sebagai satu-satunya "kebenaran" bagi semua seniman. Harga mati ini memang sempat mendapat tantangan dari kelompok seperti Stars Art Group pada awal pemerintahan Deng Xiaoping, pada 1979. Mereka lantas tenggelam, tapi tidak mati. Diam-diam, di bawah tanah, mereka hidup terus, bahkan mengembangkan kreativitasnya ke seni video dan fotografi kontemporer.

Tiga tahun setelah peristiwa Tiananmen (1989), mereka muncul di sebuah pameran internasional di Hong Kong, dengan tema Cina New Art Post-1989. Mereka dianggap sepi, tapi kemudian dunia seni menolehkan wajahnya, menyaksikan tema-tema spesifik: memotret sejarah dan kehidupan Cina selama era tertutup. Mereka menangkap manusia-manusia, tragedi, kepedihan, sebagian besar dengan satir dan sinis.

Lihatlah lukisan Zhang Xiaogang (45 tahun). Lukisannya merekam wajah-wajah tirus yang inosens, dalam keseharian Cina dengan mata yang hampa dalam serial Blood Line-nya (1998). Seolah mereka datang dari masa silam, seperti sebuah potret keluarga. Bandingkan dengan sosok dua anak Cina dalam lukisan Interior with Mosquitoes and Moths (2001) karya Guo Wei (43 tahun): postur mereka kerdil, gesturnya cenderung ringkih. Mereka dilukiskan sedang bermain seperti kakak-beradik—sesuatu yang agak mustahil, karena semua anak di Cina lahir tanpa saudara, bahkan tanpa sepupu kandung.

Tidak hanya itu, para pelukis ini juga matang dalam teknik dan konsep artistik. Ini terasah bertahun lamanya di jalur akademis. "Mereka memiliki dasar realis yang kuat," kata Johnson Chang Tsong-Jung, kurator yang memelopori kemunculan mereka di kancah internasional, kepada TEMPO.

Lukisan karya Fang Li Jun (40 tahun), pelukis yang termasuk paling diperhitungkan saat ini—karyanya banyak menjadi ikon seni kontemporer Cina di media international—menyiram warna cerah pada lukisannya. Ia memandang sinis gerakan 100 bunga Mao Zedong pada tahun 50-an. Dalam lukisan utopis itu sosok Mao merekah dalam mahkota bunga terbang di atas panorama realis Cina.

Tengok lukisan Thang Zi Gang (44 tahun) dalam Children in Meeting (2002). Sepintas lalu, itulah lukisan para balita dalam seragam tentara yang duduk dalam sebuah rapat—analogi tentara Cina yang patuh dan anak-anak. Tapi itulah cerminan pengalaman Thang yang sempat masuk tentara pada 1976. Dari kecil ia tinggal di penjara karena ibunya sipir. Bakatnya melukis membuat dia ditarik menjadi pelukis propaganda Cina. Ia sering menghadiri rapat tentara yang berlangsung berhari-hari, berjam-jam, di sebuah rumah milik satu keluarga. Belakangan, di rumah itu, ia melihat pemandangan yang begitu dikenalnya: anak-anak tentara itu pun sedang rapat, persis seperti bapaknya.

Beberapa pelukis mengadopsi gaya lukisan kontemporer Barat abad ke-20. Lukisan Wang Guangyi, misalnya, muncul dengan gaya poster dan pop art yang sangat kental, dengan ikon industri dan kapitalis seperti Coca-Cola maupun Gucci. Ini tak bisa dihindari. Apalagi Cina kini memang menuju kapitalis konsumerisme.

Mereka telah berpameran di Sao Paulo, Venesia, dan kota internasional lain. Ruang gerak mereka bertambah luas, tapi menurut Johnson kemajuan seni kontemporer ini sendiri sebenarnya membawa dilema. Mereka seperti kehilangan akar terhadap seni lukis tradisional yang realis, yang tak sepenuhnya mereka tinggalkan. Keduanya kini diapresiasi rakyat Cina dengan lebih terbuka. Tapi, "Gaya tradisional Cina pun sebenarnya kebaratan " ujar Johnson Chang.

Dan ada satu hal penting yang patut disimak: para pelukis kontemporer ini tak mau didikte oleh pasar. Menurut Johnson Chang, pasarlah yang harus mengikuti mereka. Hal ini ditegaskan oleh Edwin Rahardjo, pengundang mereka untuk berpameran di Jakarta. "Mereka tidak mau berpameran kalau tidak di museum atau galeri nasional," ujarnya. Ini untuk menunjukkan mereka tidak mau dikomersialkan. Seni harus mempunyai tempat buat berpijak, dan itu bukan partai, pemerintah, ataupun pasar.

Endah W.S.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data