Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Opini

Semoga Bukan Sinyal Buruk untuk Perdamaian Aceh

Untuk pertama kali sejak 1965 seluruh petinggi Angkatan Darat mengadakan rapat di luar Jawa, dan Aceh yang dipilih. Bisa menghambat proses damai yang sedang berjalan?

INI bukan rapat pimpinan Angkatan Darat yang biasa-biasa. Bahkan bisa dibilang istimewa, setidaknya jika lokasi rapat yang jadi tolok ukur. Rapat di Lhokseumawe itu, Rabu sampai Jumat pekan lalu, adalah rapat pimpinan Angkatan Darat pertama sejak seminar Angkatan Darat 1965—cikal-bakal rapat pimpinan AD—yang memilih lokasi di luar Jawa. Pemilihan lokasi ini saja sudah cukup menerbitkan tanda tanya, mengingat Aceh adalah lokasi bergolak yang sejak Desember 2002 memasuki masa damai. Di sana kini tengah bertugas Komisi Keamanan Bersama yang beranggotakan pihak pemerintah RI, Gerakan Aceh Merdeka, TNI, dan wakil Henry Dunant Centre—mediator dari Jenewa itu.

Jika alasan yang dikemukakan adalah agar petinggi AD lebih memahami seluk-beluk Aceh, mungkin pihak yang kritis terhadap alasan ini akan mempertanyakan lebih jauh: apakah harus saat ini peningkatan pemahaman tentang Aceh itu dilakukan. Kalau alasan yang lain yang dikemukakan—yaitu memberi spirit kepada pasukan yang bertugas di sana—boleh juga dipertanyakan apakah tidak lebih baik hal itu dilakukan oleh seorang Kepala Staf Angkatan Darat dan staf terbatas saja. Apakah pemberian spirit itu sampai sedemikian urgennya sehingga 50 jenderal dan 40 perwira menengah terbang dari segala penjuru Indonesia ke Aceh. Pertimbangan ongkos, biaya, juga prioritas pengeluaran anggaran, seyogianya sangat diharapkan dilakukan oleh Angkatan Darat di masa negeri belum lepas dari resesi ekonomi ini.

Belum lagi soal tuan rumah, Exxon Mobil. Memang benar bahwa TNI hanya memakai ruang serbaguna perusahaan asal Amerika yang memiliki sebagian saham PT Arun itu. Tapi mungkinkah tuan rumah berpangku tangan, atau hanya menyiapkan "makanan sekadarnya", jika rumahnya dikunjungi para jenderal berbintang yang sangat dihormati di negeri ini? Gosip dan kabar burung yang merugikan nama TNI bisa meruap dari sana. Ketidakpekaan atas soal-soal kecil begini, yang banyak mengundang kritik masyarakat di zaman Orde Baru, selayaknya ditinggalkan TNI untuk selama-lamanya agar citranya terjaga.

Selain soal lokasi, ada dua hal lain yang juga istimewa selama rapat pimpinan itu berlangsung. Yang pertama, ketika Jenderal Ryamizard mengunjungi Pidie, yang selama ini dianggap basis Gerakan Aceh Merdeka. Dalam kunjungan itu, bekas Panglima Kostrad ini disambut aksi demonstrasi oleh sekitar 500 warga yang menggunakan shebu (penutup muka). Mereka menentang GAM. Pendemo meminta Jenderal Ryamizard menambah pos-pos TNI di desa-desa untuk melindungi warga dari aksi pemerasan oleh GAM. Ryamizard juga diminta membubarkan Komite Keamanan Bersama. Pihak GAM menuduh TNI yang merekayasa demonstrasi ini. Sementara itu, pihak TNI membantahnya. Jika penjelasan TNI kurang meyakinkan, pihak GAM akan gampang menemukan alasan untuk kembali meninggalkan meja perundingan. Sebuah langkah yang akan membuat kerja Komite Keamanan Bersama—tempat TNI adalah salah satu anggotanya—akan menemui kerepotan baru mendatang ini.

Yang kedua, pernyataan Ryamizard tentang penambahan pasukan sejumlah tiga batalion lagi. Dalam kondisi sekarang, ketika Komite Keamanan Bersama tengah bekerja di Aceh, apakah tidak seharusnya penambahan pasukan dilakukan melalui pemerintah Indonesia—seperti pendapat ahli militer Kusnanto Anggoro. TNI jelas punya pertimbangan sendiri, tapi disarankan agar kesan "berjalan sendiri" dalam soal Aceh dihindari sebisanya.

Sudah bukan rahasia lagi bila disebutkan bahwa sikap pemerintah Jakarta dalam soal Aceh dianggap oleh sebagian kalangan TNI terlalu akomodatif. Namun, tetap saja TNI perlu memberikan sumbangan dalam solusi Aceh dengan menjernihkan semua pertanyaan tersebut. Langkah ini penting dilakukan, terutama agar tidak ada kesan bahwa dalam soal Aceh ternyata Jakarta mempunyai dua kepala yang punya pertimbangan sendiri-sendiri.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data