Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Opini

Boleh Boikot, Asal Tak Memaksa

Seruan untuk memboikot produk AS bisa dilakukan, tapi jangan dengan pemaksaan.

Jika Anda memasuki restoran dan telanjur memesan sebotol Coca-Cola, bayangkanlah seorang bocah Irak yang kepalanya penuh dibalut perban, dan ia meraung-raung dengan suara tak jelas, apakah memanggil ibunya atau tak tahan perih. Bocah itu terkena serpihan rudal dari pesawat tempur Amerika Serikat.

Lalu tuangkan Coca-Cola itu di gelas, dan mungkin Anda diingatkan oleh tayangan TV Al-Jazeera dari Irak tentang gadis cilik yang dikerubungi dokter atau sukarelawan kesehatan. Gadis cilik itu berlumuran darah di sekujur tubuhnya, wajahnya juga tak jelas karena lelehan darah, kita tak tahu apakah gadis cilik itu kini masih hidup. Ia adalah korban perang, korban rudal AS yang kini berjatuhan di Bagdad.

Di Jerman sudah banyak restoran yang tidak lagi menyediakan Coca-Cola, merek minuman dari sebuah negeri yang dulu dikenal demokratis: Amerika Serikat. Masyarakat Jerman tak bisa menerima perlakuan AS terhadap Irak, yang hanya menimbulkan korban di kalangan masyarakat sipil dengan perang yang aneh ini. Masyarakat Indonesia juga sama, tak bisa menerima langkah AS yang arogan, seolah-olah menandingi kekuasaan Tuhan, yang bisa menghancurkan seenaknya negeri lain yang berdaulat. Karena itu, kalau di negeri ini juga terjadi gerakan pemboikotan terhadap produk-produk yang berbau AS, itulah simbol perlawanan yang bisa kita berikan. Apa yang dilakukan masyarakat di banyak kota dengan "menyegel" restoran siap saji McDonald's dan Kentucky Fried Chicken, mengimbau tidak minum Coca-Cola atau memakai celana jins merek Levi's, juga tidak menonton film Hollywood, adalah sesuatu yang wajar-wajar saja. Tentu saja dengan catatan, gerakan ini tidak melakukan perusakan dan tidak main paksa terhadap pengunjung yang "kebetulan kurang peka hatinya" karena masih menyantap dan minum produk berbau AS.

Kenapa jangan merusak? Karena, di balik merek dagang keren dan (dulu) bergengsi itu, ada sederet orang-orang kita yang menggantungkan nasibnya. Ada ribuan buruh di sana, ada peternak yang memasok ayam, ada puluhan petani yang memasok sayur. Sesungguhnya restoran yang bernama McDonald's, KFC, dan sejenisnya itu sudah mandiri dilakukan oleh orang-orang kita. Kalau saja pemilik dan pengelolanya sepakat memutuskan hubungan waralaba dengan perusahaan induknya di AS—sebagai protes atas invasi AS ke Irak—tak ada masalah yang muncul. Restoran McDonald's bisa diganti menjadi Restoran Merdeka, misalnya. KFC bisa saja menjadi Karawang Fried Chicken. Ayam goreng model begini sudah banyak dijual di pinggir jalan (dengan kemasan sederhana dan ruangan tanpa AC), namanya pun sudah dibuat keren seperti Kadir Fried Chicken atau Mas To Fried Chicken. Jika orang Amerika seenaknya mengganti nama french fries menjadi freedom fries supaya tidak berbau Prancis—karena Prancis menentang invasi AS ke Irak—kenapa warga dunia lainnya termasuk kita tak bisa melawannya?

Justru perlawanan moral ini harus terus digulirkan agar kita bisa mandiri. Kita harus bangga makan ayam goreng di restoran Indonesia, apakah nama restorannya Mbok Berek, Taliwang, Wong Solo, RM Sederhana, atau RSS "M" (Restoran Siap Saji "Merdeka"). Memakai jins Cihampelas adalah kehormatan besar daripada memakai merek Levi's produksi negeri yang gila perang. Sekali lagi, perlawanan moral ini harus dengan cara-cara beradab, tidak melakukan pemaksaan dan tidak dengan jalan kekerasan.

Tentang sweeping terhadap warga AS, Inggris, dan Australia, memang hal itu tak selayaknya dilakukan. Kita tidak memusuhi warga AS dan sekutunya itu, kita hanya melawan pemerintahannya, menentang kebijakan Presiden Bush. Lagi pula, sweeping ini akan menimbulkan ketakutan pada warga asing lain, karena sepintas sangat sulit membedakannya. Padahal warga asing lainnya itu, bahkan mungkin juga ada warga AS di Indonesia, sepaham dengan kita, menolak penyerangan AS ke Irak.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data