|
SEORANG pria kurus berwajah teduh bersila di bawah spanduk garang anti-Amerika, Kamis pekan lalu. Ia baru saja mencantumkan namanya dalam daftar sukarelawan di Posko Pendaftaran Sukarelawan Jihad ke Irak, yang dibentuk Front Pembela Islam (FPI). Muhammad Hazmi, pria itu, memantek erat nomor pendaftarannya di benak: 204.
Dengan nomor untuk ikut seleksi ini, pria 37 tahun yang santun bertutur itu hendak pergi ke Irak, negara yang tengah diamuk Amerika dan sekutunya. "Saya tak kuat lagi menonton kematian sesama muslim di layar televisi," katanya dengan suara bergetar. Berbekal solidaritas, ayah dua anak balita itu meninggalkan keluarganya di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, menuju Jakarta. Semalaman ia meyakinkan sang istri bahwa tujuannya mulia. "Saya ciumi mereka sebelum pergi, tanpa menoleh," kata Hazmi.
Hazmi hanyalah satu dari setidaknya 650 sukarelawan yang mendaftarkan diri ke FPI. Ini baru jumlah mereka yang telah mengembalikan formulir. "Ribuan orang sudah mengambil formulir yang kami cetak," kata Rizieq Shihab, pemimpin tertinggi FPI. Mereka datang dari berbagai kota, dengan aneka status sosial dan usia. Tepat satu nomor sebelum Hazmi, terdaftar nama Rustam Salim, dengan alamat sebuah kampung di Pasar Minggu, Jakarta. Jangan kaget: Rustam berusia 75 tahun!
Siapkah mereka berperang? Secara tekad, sulit meragukannya. Akumulasi kegeraman menyaksikan hancurnya kehidupan masyarakat Irak, akibat serangan Amerika, wajar membuat solidaritas membuncah. Juga amarah untuk membalas. Tapi, soal kemampuan, agak lain ceritanya. Mayoritas sukarelawan tentu saja tidak memiliki pengalaman bertempur. Dengan usia rata-rata yang masih 20-an tahun, ketika aktivis Islam Indonesia mara membantu perjuangan bangsa Moro di Filipina Selatan belasan tahun lalu, mereka belum lagi lulus sekolah dasar. Begitu juga ketika terjadi konflik di Bosnia pada awal dasawarsa lalu.
Kalaupun ada, pengalaman itu didapat dari konflik di Maluku. Ambonlah yang menjadi ajang latihan sebagian dari mereka. Tapi jumlahnya juga tak banyak. Ambil contoh Sukarno, pemuda asal Bondowoso, Jawa Timur. Selain menembak burung pipit dengan bedil angin, tak ada kegiatan berdarah yang pernah dilakukannya. Namun, "Justru saya bergabung karena ingin punya pengalaman," kata Sukarno. Tak terdengar kesan takut dalam suara lelaki ceking itu. Matanya yang tersembunyi oleh tonjolan tulang pipi itu malah berkilat.
Soal lain tak kalah pelik. Dari ratusan sukarelawan, hanya sekitar 60 orang yang telah memiliki paspor. Sisanya menyerahkan urusan kepada FPI. "Semua ditanggung Front, " kata Hazmi. Bila benar, tentu tanggungan ini lumayan berat, mengingat biaya pembuatan sebuah paspor tak kurang dari Rp 300 ribu. Belum lagi biaya makan sehari-hari para calon rekrutan, yang mau tak mau juga dipikul FPI. Mungkinkah?
Rizieq Shihab sendiri optimistis mampu memberangkatkan para sukarelawan tersebut. Menurut dia, biaya untuk itu akan digalangnya dari para donatur yang memiliki kepedulian yang sama. "Banyak-sedikitnya yang berangkat tergantung dana yang kita peroleh," katanya. Bahkan beberapa orang, menurut dia, telah menyanggupi berangkat dengan biaya sendiri.
Akan halnya larangan yang sempat mencuat dari beberapa petinggi negara, Rizieq tak terlalu peduli. Menurut lelaki 38 tahun yang tak lepas dari busana gamis ala Timur Tengah ini, pengiriman itu justru menguntungkan Indonesia. Tanpa saluran jihad, katanya, bukan tak mungkin semangat yang berkobar di kalangan warga akan mengganggu situasi keamanan di dalam negeri. Malah bukan tak mungkin akan muncul generasi penerus Imam Samudra. "Daripada berabe, ya, mending bantu kami menyalurkan mereka ke Irak," katanya enteng.
Tahun lalu, ketika pemerintah juga melarang pengiriman sukarelawan dalam perang Afganistan-Amerika, FPI mengaku berhasil menyusupkan puluhan orang ke sana. Mungkin saja mayat mereka ada di antara ratusan jasad pejuang Taliban. Seperti dikatakan Hazmi: mereka pamit, tanpa pernah lagi menoleh.
Darmawan Sepriyossa, Ahmad Taufik
|