Yang Mau dan yang Malu Tokoh-tokoh baru muncul sebagai kandidat presiden. Ada yang percaya diri, ada pula yang malu malu kucing. |
Bendera kecil terpancang di setiap sudut kantor harian Media Indonesia dan Metro TV di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, sejak Rabu pekan lalu. Di meja sekretaris, ruang tamu, ruang redaksi, studio, dan kantin kantor besar itu. Bendera itu berwarna putih dengan sebaris tulisan melingkari sketsa wajah berewok yang tersenyum: Surya Paloh, New Hope 2004.
Bendera itu dibagikan kepada semua karyawan Media Indonesia dan Metro TV oleh Surya Paloh, sang pemilik kantor, dalam sebuah pertemuan besar 26 Maret lalu. Bertempat di pelataran parkir, Surya menyampaikan secara resmi niatnya untuk maju sebagai kandidat presiden 2004. "Saya meminta restu kepada karyawan saya," katanya.
Bendera kecil itu menjadi lambang kampanye Surya sekaligus gong pertama yang ia tabuh mengiringi pencalonannya sebagai presiden. Sebagai pendiri Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI), organisasi yang dekat dengan Golkar, Surya memilih Partai Beringin itu sebagai kendaraan politiknya.
Pemilihan presiden memang masih setahun lagi, tapi semua peserta lomba sudah bersiap diri. Ada yang terang-terangan menyatakan niat dan sibuk menggalang dukungan, ada pula yang malu-malu meski diam-diam menyiapkan pasukan.
Para tokoh datang dari berbagai kalangan. Nama yang banyak disebut media massa adalah Megawati Soekarnoputri (PDIP), Hamzah Haz (PPP), Amien Rais (Partai Amanat Nasional), Jusuf Kalla (Golkar, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat), Sri Sultan Hamengku Buwono X (Golkar, Gubernur Yogyakarta), dan Sjahrir (Partai Indonesia Baru). Dari luar partai muncul Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Keamanan), Agum Gumelar (Menteri Perhubungan), Nurcholish Madjid (Rektor Universitas Paramadina), Wiranto (mantan Panglima ABRI), dan Surya Paloh sendiri.
Surya adalah satu dari beberapa kandidat yang selama ini tak dikenal aktif berpolitik tapi tiba-tiba masuk bursa. Tapi pria kelahiran Kutaraja, Aceh, 52 tahun lalu itu bukan tak menghitung peluang. "Saya punya tiga modal: tim yang kuat, jaringan luas, dan daya pesona," kata Surya.
Pesona? Ia tak menjelaskan apa maksudnya. Yang pasti, kini ia membangun tim yang sebagian besar diisi oleh redaktur dua media yang dia pimpin. "Tim saya terdiri dari wartawan dan intelektual muda," katanya.
Surya yakin, bisnis yang digelutinya bisa menyokong dia secara finansial dan menjadi sarana untuk membentuk opini publik. Selain memiliki Media Indonesia dan Metro TV, Surya juga mempunyai usaha hotel dan jasa katering.
Entah apa yang membuat Surya tiba-tiba ingin menjadi orang nomor satu di republik ini. Namanya memang pernah muncul di harian Singapura, The Straits Times, Januari lalu. Bersama Jusuf Kalla dan mubalig muda K.H. Abdullah Gymnastiar, ia disebut sebagai pemimpin alternatif Indonesia karena sosoknya yang "menggoda".
Harian Media Indonesia kemudian menempatkan berita itu di halaman muka. Sejak itu koran ini kerap menyebut Surya Paloh sebagai calon presiden. Secara resmi nama Surya Paloh kini diusung oleh Partai Golkar Nanggroe Aceh Darussalam, provinsi kelahiran pria berbadan tinggi besar itu.
Tak cukup di situ, Surya juga pernah menemui Ketua Golkar Akbar Tandjung untuk mencari bantuan. "Dia telah menemui saya untuk meminta dukungan," kata Akbar kepada wartawan Tempo News Room Wahyu Dhyatmika.
Seperti biasa, Akbar tak memberi banyak janji. Menurut Mahadi Sinambela, petinggi Golkar yang dikenal dekat dengan Akbar, partainya tak terlalu tertarik. "Dalam dunia pers, dibandingkan dengan Jakob Oetama, pemilik jaringan Grup Kompas, dia bukan apa-apa. Kelebihannya mungkin karena dia masih muda dan punya jenggot," kata Mahadi tergelak.
Meski masih miskin dukungan, Surya Paloh percaya diri luar biasa. Ke mana saja, dia berpergian dengan dua mobil mengkilap. Satu Range Rover hitam terbaru ditumpanginya bersama sopir dan ajudan. Di belakangnya menyusul Nissan Terrano Kings Road dengan sekitar empat pengawal. Di lorong-lorong menuju ruang kerjanya yang mewah di Kedoya, sejumlah bodyguard berpakaian safari berdiri siaga. Minus pintu khusus dengan detektor metal, kantor Surya sudah mirip istana presiden.
Jalan memang masih panjang bagi Surya Paloh. Di kancah perang ia harus bersaing dengan politikus lain. Salah satunya adalah Ketua Umum PAN Amien Rais. Meski pada 1999 hanya mengantongi kurang dari 10 persen suara, ia pernah sukses menjadikan Abdurrahman Wahid sebagai presiden pada 1999 untuk kemudian menjatuhkannya dua tahun kemudian.
Kini Amien mengasah taring. Sebuah tim kampanye ia bentuk. Tim ini antara lain diawaki Rizal Sukma, peneliti di Center for Strategic and International Studies (CSIS), dan Eddy Soeparno, salah seorang direktur di Amien Rais Center. Lembaga terakhir adalah badan kajian yang dibentuk Amien tahun lalu.
Tapi Rizal maupun Eddy enggan membeberkan strategi timnya. "Semuanya masih dalam tahap penggodokan," kata Rizal. Menurut Suyoto, Direktur Eksekutif Amien Rais Center, Amien tengah mencari orang yang hendak dipinang untuk mendampinginya sebagai wakil presiden. Bisik-bisik menyebutkan Amien telah mengutus orang untuk menemui Jusuf Kalla. Tapi belum ada kata sepakat dalam pertemuan rahasia itu.
Berkongsi dengan Megawati? Tampaknya tak mungkin. Selain karena tak sehaluan—Mega datang dari kalangan nasionalis dan Amien dari kalangan Islam—Amien juga gengsi menjadi wakil Megawati. "Amien menyatakan siap mental untuk menjadi orang nomor satu, bukan nomor dua," kata A.M. Fatwa, salah seorang kepercayaan Amien di PAN.
Dari Yogyakarta muncul nama Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebagaimana Amien, pada Pemilu 1999, nama sang Raja juga sempat muncul sebagai calon presiden. Jajak pendapat yang dibuat Soegeng Sarjadi Syndicated, dua pekan silam, menempatkannya sebagai pilihan nomor satu, berpasangan dengan Jusuf Kalla.
Tapi TEMPO belum menemukan ada tim khusus yang dibentuk Sultan untuk menjadi presiden. Ia terkesan terlalu malu-malu untuk membuka front. "Soal itu saya tidak mau berkomentar dulu, deh. Soalnya nanti komentar saya jadi wacana elite politik. Saya ini kan bukan ketua partai, jadi saya tidak tahu," katanya kepada L.N. Idayanie dari TEMPO. Sampai kini, menurut Sultan, belum ada partai yang secara resmi menawarinya menjadi calon presiden.
Cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, yang disebut-sebut sudah dilamar Golkar, juga tak mau banyak komentar. "Tapi masih terlalu dini, biarkan wacana itu jalan dulu," katanya.
Tokoh lainnya idem dito. Susilo Bambang Yudhoyono, yang disebut-sebut akan diusung Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan pimpinan Ryaas Rasyid—mantan koleganya di kabinet Gus Dur—juga menghindar ketika ditanyai. "Lebih bagus jika saya tidak memberi respons apa pun," katanya.
Tokoh-tokoh lain yang sudah diramaikan media massa langsung sembunyi apabila isu pencalonannya dibicarakan. Bekas Panglima TNI Wiranto atau Menteri Perhubungan Agum Gumelar tutup mulut. "Sementara ini berita-berita itu hanya untuk dibaca saja, bukan untuk dibahas," kata Agum kalem.
Yang terbuka adalah Sjahrir, ekonom yang juga Ketua Partai Indonesia Baru (PIB). Melalui konvensi partai itu di Jakarta, 23 Maret lalu, Ci'il—nama akrab Sjahrir—secara aklamasi mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Di belakang Sjahrir ada ekonom Pande Radja Silalahi, yang hari itu menjadi ketua panitia konvensi PIB. Juga hadir dalam konvensi itu kawan-kawan Sjahrir sesama pengamat. Mereka antara lain adalah Muhammad Chatib Basri, Mayling Oei, Rocky Gerung, dan Pradjoto.
Pria bertubuh tambun ini tidak suka partai yang diakuinya memiliki 120 ribu anggota itu disebut gurem. "Tidak perlu berteriak, kita buktikan saja nanti," katanya. Dalam pemilu nanti, ia akan berkampanye dengan memanfaatkan kampus sebagai basis massa. "Setiap perubahan dimulai dari kampus," katanya optimistis.
Adu mulut menjelang pemilu memang asik dan bikin hangat. Suasana itulah tampaknya yang akan kita rasakan hingga pemilu presiden 2004 nanti.
Tomi Lebang, Cahyo Junaedy dan Tempo News Room
|