Berkaca pada Cermin Belah Perang propaganda mewarnai agresi Amerika ke Irak. Media pun terbelah dalam dua kutub.
|
AMMAR al-Sankari dan Ramzi Shiber pasti tercengang melihat wajah demokrasi Amerika sekarang. Rabu pekan lalu, dua reporter stasiun televisi Al-Jazeera itu diusir dari Bursa Efek New York (NYSE), tempat mereka meliput berita sejak 1990 silam tanpa cela. Pihak NYSE menyatakan larangan itu semata karena kantor mereka di kawasan Manhattan sudah kelewat sesak, dan karenanya mesti diprioritaskan pada media khusus bisnis.
Tapi, siapa pun tahu, itu dalih tak bernalar. Siapa pun tahu pengusiran itu lebih karena kamera Al-Jazeera selalu merekam dan menayangkan berbagai kejadian di Perang Teluk dari "sisi lain", dari sudut pandang yang selalu mendidihkan darah para jenderal di Pentagon.
Salah satunya adalah liputan di hari ketiga agresi Amerika ke Irak. Ketika itu dilaporkan oleh para reporter televisi Barat seperti BBC dan CNN bahwa wilayah Pelabuhan Umm Qasr, Basra, dan Nasiriyah telah jatuh ke tangan tentara koalisi. Kredibilitas berita itu lalu dipertanyakan. Soalnya, sehari berikutnya Al-Jazeera malah panjang-lebar menayangkan pidato Saddam Hussein yang menyatakan belum satu pun kotanya dikuasai musuh.
Tayangan itu mengagetkan banyak orang, termasuk warga Irak yang bermukim di Damaskus, Suriah. "Sulit dipercaya, pemberitaan media Barat berbeda dengan fakta di lapangan," ujar Mahmoud Haseem, penjual roti di kawasan Sina'ah.
Begitulah. Perang Teluk tanpa ampun telah ikut membelah layar televisi, cermin dari segala kejadian di dunia. Tayangan CNN, BBC, atau juga EuroNews—yang reporternya selalu mendapat tumpangan khusus di kendaraan tempur Amerika-Inggris—memang tampak lebih condong pada kepentingan dan perspektif dunia Barat. Di kutub lain, yang lebih cocok untuk mata dunia Arab dan juga mungkin kaum antiperang lainnya, tersedia saluran televisi sebangsa Al-Jazeera itu, Abu Dhabi, Syria, Al-Manaar, LBC, MBC, dan banyak lainnya. Tiga yang disebut terakhir bermarkas di Libanon, dan diberi pemerintah Irak keleluasaan untuk meliput seluruh sudut negeri. "Saya lebih suka Al-Jazeera karena membela rakyat Islam," kata Mahmoud.
Pembelahan itu, kata Fouad Mardoud, pemimpin redaksi koran berbahasa Inggris, Syria Times, tak terhindarkan. Cuma, menurut dia itu tak berkait dengan persoalan independensi wartawan. Di matanya, media Barat ataupun Arab sudah berupaya semaksimal mungkin bersikap obyektif. Masalahnya ada pada banyaknya kendala di lapangan yang membuat para juru warta mau tak mau hanya meliput dari satu sisi. "Para wartawan yang ikut pasukan Amerika, misalnya, jelas wajib mematuhi aturan Pentagon," ujar Mardoud. Begitu pula sebaliknya. Reporter di Bagdad pun dikungkung ketentuan rezim Saddam.
Namun, Robert Fisk tak semaklum Mardoud. Dalam sebuah kolomnya di harian The Independent, wartawan perang senior dari Inggris ini mengkritik keras pemberitaan media Barat, khususnya BBC. Fisk secara tajam mempertanyakan independensi wartawan yang bertugas di Irak sekarang. Ia berpandangan, dari semula BBC sudah terjebak skenario propaganda militer Amerika-Inggris.
"Penyebutan tentara koalisi pun sudah salah kaprah," katanya. Menurut dia, pasukan agresor jelas hanya merupakan gabungan tentara Amerika, Inggris, plus sedikit Australia dan Polandia. Tak lebih. Ia mencontohkan pengalamannya dulu saat meliput Perang Dunia II. Saat pasukan "Operasi Obor" mendarat di pantai Afrika Utara, "Kami tetap menyebutnya pendaratan tentara Anglo-Amerika."
Di Teluk, kredibilitas media, khususnya televisi Barat, kini tengah dipertaruhkan. Dan Najeeb Hasaan, seorang sopir taksi asal Palestina yang mengayuh hidup di Damaskus, sudah punya jawabannya. Ia mengomel, "CNN tak bisa dipercaya."
Rommy Fibri (Suriah)
|