Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Laporan Utama

Nigeria, Pemicu Kenaikan Harga

Untuk pertama kali sejak invasi AS-Inggris ke Irak, harga minyak mentah dunia kembali menembus US$ 30 per barel. Perang antaretnis di Nigeria menjadi penyebabnya.

Harga minyak mentah kini tak ubahnya kuda liar. Bagaikan mustang, harga komoditas yang acap disebut emas hitam itu belakangan melonjak-lonjak tak keruan. Sebentar naik pesat, sebentar turun drastis, dan kini kembali menanjak dengan cepat. Tak cuma agresi Amerika Serikat-Inggris ke Irak yang menyebabkan harga minyak di pasar internasional bergejolak. Perang antaretnis di Nigeria juga mengakibatkan harga bahan bakar itu gonjang-ganjing. Pemogokan besar-besaran yang melanda perusahaan-perusahaan minyak di Venezuela pun sebelumnya sudah memanaskan pasar minyak mentah dunia.

Pada perdagangan Kamis pekan lalu, di New York Mercantile Exchange, harga minyak jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei sudah bertengger di posisi US$ 30,37 per barel. Tinggi memang. Padahal, Jumat dua pekan silam, atau sehari setelah Amerika-Inggris menggempur Irak, harga minyak sempat mencapai titik terendah dalam tiga bulan terakhir, yakni US$ 26,91 per barel. Yang aneh, justru sebelum Irak digempur, harga minyak pernah mencapai US$ 40 per barel. Penyebabnya tak lain karena dunia diliputi ketidakpastian, apakah Amerika Serikat-Inggris jadi menyerang Irak atau tidak.

Kenaikan harga juga dialami minyak Brent, asal Inggris. Harga minyak yang dihasilkan Laut Utara itu ditutup menguat menjadi US$ 26,82, sementara harga minyak rata-rata OPEC mencapai US$ 25,54. Para pedagang dan analis meramalkan, gejolak harga ini diperkirakan akan berlanjut sampai serangan Amerika-Inggris ke Irak berakhir.

Dalam hal itu, agaknya faktor Nigeria sama sekali tak diperkirakan. Soalnya, setelah perang berkecamuk, harga minyak malah bisa stabil pada kisaran US$ 25-26 per barel. Pasar yang semula waswas, karena menduga serbuan Amerika akan menyebabkan kelangkaan minyak, mulai tenang. Pasokan minyak di pasar internasional pun berangsur-angsur normal karena Venezuela sudah mulai pulih. Produksi minyak negara Hugo Chavez itu sudah mencapai level 80 persen dari kondisi normal. Selain itu, Arab Saudi dan negara-negara anggota Organisasi Negara Produsen Minyak (OPEC) mampu menutup kekurangan suplai yang disebabkan oleh krisis di Venezuela. Produksi minyak OPEC mencapai 24,5 juta barel atau sesuai dengan kesepakatan pertengahan Januari silam.

Tapi tiba-tiba saja ada gejolak hebat di Nigeria. Perang antara suku Ijaws dan Itsekiri di Niger Delta, Nigeria Selatan, yang dimulai 12 Maret lalu, makin luas. Akibatnya, perusahaan minyak yang banyak beroperasi di Nigeria Selatan seperti Shell dan Chevron Texaco menghentikan operasinya. Pengiriman minyak ke luar negeri juga disetop. Akibatnya, pasokan minyak Nigeria berkurang 800 ribu barel atau sekitar 40 persen dari produksi minyak negara produsen minyak terbesar ketujuh di dunia tersebut. Berbarengan dengan itu, produksi minyak Irak juga terganggu. Program oil for food untuk Irak dihentikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah Amerika menyerang. Total, ada tiga juta barel minyak yang tidak bisa masuk ke pasar internasional.

Direktur Cox Maguire Energy Institute, Southern Methodist University, Mark Baxter, mengatakan bahwa kalaupun anggota OPEC yang lain memacu produksi melebihi kuotanya yang sekarang, hasilnya tetap tidak cukup untuk menutupi kekurangan tersebut. "Paling tidak, akan tetap ada kekurangan pasokan sekitar satu juta barel," kata Baxter seperti dikutip AP. Potensi kekurangan suplai inilah yang kemudian memicu kenaikan harga.

Namun yang paling terpukul oleh krisis pasokan minyak tak lain adalah Amerika Serikat. Negara adidaya ini, antara lain, bergantung pada tiga pensuplai minyak, yakni Venezuela, Nigeria, bahkan Irak. Setiap hari, ketiga negara itu paling tidak memasok 2,2 juta barel atau sekitar 25 persen dari impor minyak Amerika. Dengan berkurangnya pasokan, otomatis persediaan minyak Amerika terganggu. Suka atau tidak suka, Amerika mesti berhemat.

Dan hal itu tidak mudah karena cadangan minyak Amerika belum aman benar. Sebelum invasi ke Irak, cadangan minyak Abang Sam sempat mencapai titik kritis, yakni di bawah 270 juta barel—titik aman yang menjamin kilang bahan bakar minyak Amerika Serikat bisa beroperasi maksimal. "Ini cadangan terendah dalam 27 tahun terakhir," kata pengamat perminyakan Kurtubi. Pada Rabu lalu, cadangan minyak Amerika sempat naik menjadi 274 juta barel. Kondisi ini sudah lebih baik—meskipun lebih rendah 56 juta barel—dibandingkan dengan posisi awal tahun ini.

Namun, gara-gara krisis di Nigeria, jumlah cadangan AS bisa terganggu. Cadangan minyak di negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pun menipis. Pada April nanti, diramalkan cadangan minyak negara-negara maju ini hanya sedikit di atas 2,4 miliar barel atau sudah di luar batas bawah cadangan yang bisa ditoleransi. Salah satu jalan adalah membeli minyak dalam jumlah besar di pasar internasional. Tentu, kalau minyak diborong, harganya bisa meroket.

Apalagi invasi Amerika-Inggris ke Irak ternyata tidak semudah yang diperkirakan sebelumnya. Sampai Jumat pekan lalu, perang sudah memasuki hari ke-9 dan belum ada tanda-tanda Irak bakal jatuh. Semula, banyak pihak yang meramalkan perang akan berlangsung cepat karena persenjataan yang tak seimbang. Dengan perang kilat, kondisi dunia bakal segera normal. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Hal ini makin menambah ketidakpastian di pasar. Tapi, apakah harga minyak bakal terus menanjak, pendapat para analis dan pelaku pasar terbelah.

Jika Baxter mengisyaratkan harga bakal naik, tidak demikian halnya dengan Tom Bentz, seorang pialang BNP Paribas di New York, dan John Felmy, ekonom American Petroleum Institute, Washington. Bentz meramalkan bahwa meskipun harga minyak dunia akan terombang-ambing akibat ketidakpastian mengenai kapan perang bakal berakhir, harga tertingginya tidak akan melewati angka US$ 31 per barel. "Begitu tambahan pasokan dari Saudi tiba di Amerika dan Nigeria bisa kembali normal, harga akan turun," tutur Bentz. Felmy pun yakin bahwa OPEC akan sanggup mengatasi kekurangan pasokan ini.

Kuncinya memang pada Irak dan Nigeria. Dewan Keamanan PBB dalam sidangnya yang berlangsung Jumat pekan lalu setuju meneruskan program oil for food selama 45 hari. Keputusan ini akan memberikan peluang bagi Irak untuk mengekspor minyaknya. Paling tidak, langkah ini akan memperbesar pasokan minyak di pasar internasional. Di pihak lain, Presiden Nigeria, Olusegun Obasanjo, sudah memerintahkan kepada polisi dan tentara untuk menangkapi kelompok militan di dua kelompok yang bertikai. Tujuannya untuk meredakan ketegangan di negeri itu. Jika dua hal ini bisa diatasi, pasokan minyak di pasar dunia diperkirakan aman, dan harga tak akan naik lebih tinggi.

Bahkan Deputi Menteri Perminyakan Iran, Mehdi Mir-Moezi, memperkirakan harga minyak mentah dunia bakal terus turun hingga US$ 18 per barel. Menurut dia, jika perang berlarut-larut dan berakhir bersamaan dengan datangnya musim panas, harga minyak bisa jatuh sampai US$ 18-19 per barel. Pada musim panas, biasanya stok di negara maju melimpah, sedangkan kebutuhannya menurun. Tapi untuk jangka pendek, tak mudah meramalkan prospek harga minyak dunia. Bagaimana kelanjutan dari invasi pasukan koalisi Amerika-Inggris di Irak juga sulit diperkirakan, kendati Presiden George Bush menyatakan bahwa tentaranya masih akan berada di Negeri Seribu Satu Malam itu selama berminggu-minggu. Yang pasti, jika perlawanan Irak tidak dengan mudah bisa dipatahkan, pasok minyak ke pasar dunia akan berkurang secara signifikan, dan harganya kontan melonjak. Begitu pula sebaliknya.

M. Taufiqurohman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data