Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Laporan Utama

Tenda-Tenda Kosong di Ruweished

Hampir dua minggu invasi AS dan Inggris ke Irak berlangsung, tenda-tenda untuk para pengungsi di Ruweished masih melompong. Inilah laporan reporter TEMPO Zuhaid el-Qudsy sebelum dia memasuki Bagdad.

Nun di penghujung padang pasir di Yordania, Ruweished menjadi sebuah persinggahan bagi neraka perang. Terletak sekitar 50 kilometer dari perbatasan Irak-Yordania, kota kecil itu "terpilih" menjadi tempat para pengungsi mencoba merasakan aman dari hunjaman bom AS. Jalan dari perbatasan itu menuju Bagdad, sekitar 300 kilometer panjangnya, sebagian besar adalah padang pasir berbatu, bukan jalan beraspal yang lumayan mulus. Dalam keadaan normal, jalur itu adalah jalan utama transportasi minyak Irak ke Yordania, yang dilalui 10 ribu ton minyak di atas 300 truk tangki setiap hari.

Iklim di Ruweished juga sama sekali tidak ramah. Angin gurun sangat kencang dan suhu bisa sewaktu-waktu mendadak dingin. Bahkan, pada awal invasi Amerika Serikat ke Irak, kawasan perbatasan itu sempat dihantam hujan es.

Tapi justru jalur jelek dan tempat beriklim kacau itu yang menjadi jalan dan kawasan teraman bagi para pengungsi. Untuk itu, di Ruweished berdiri lebih dari 30 ribu tenda besar—masing-masing bisa menampung sekitar 15 orang—yang dipersiapkan untuk menampung pengungsi dari Irak, Sudan, dan sebagai tempat para sukarelawan yang mengurus para pengungsi. Tenda-tenda putih, sebagian bertanda Bulan Sabit Merah, berjajar rapi seperti sebuah kompleks gypsy raksasa.

Ruweished menjadi daerah yang paling siap menerima aliran pengungsi. Pemerintah Yordania tanpa hambatan sedikit pun—tidak seperti pemerintah Suriah dan Iran—membuka pintu perbatasan dengan Irak bagi para pengungsi.

Tapi, yang mengherankan, hingga akhir pekan lalu, banjir pengungsi ke Ruweished tak kunjung tiba. Seorang kolonel Yordania yang mengepalai bagian perbatasan itu menyatakan tak melihat rombongan orang ataupun mobil dari arah Irak. "Rakyat Irak tidak meninggalkan rumah mereka. Mereka melawan untuk mempertahankan kampung halaman," katanya.

Ternyata, banjir pengungsi juga tidak terjadi di perbatasan Irak dengan Turki dan Iran. Menurut laporan pihak badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan pengungsi (UNHCR), mereka melihat pergerakan sekitar 20 ribu penduduk sipil ke Kota Nowsud, perbatasan Iran dengan Provinsi Kurdistan. Tapi mereka tidak keluar dari Irak.

Salah satu penyebab terhambatnya arus pengungsi adalah sulitnya mencari moda transportasi di dalam Irak. Ongkos sewa mobil dari Bagdad ke pos perbatasan Al-Karameh, Yordania, bisa sampai US$ 1.000 (sekitar Rp 9 juta) per tempat duduk. Untuk itu, penduduk sipil yang tidak mengangkat senjata lebih suka mengungsi ke desa-desa dan menjauhi jalanan utama.

Menurut Peter Kessler, juru bicara UNHCR, terlalu dini untuk menyimpulkan keadaan pengungsian saat ini. Sejak pengeboman pertama, 20 Maret lalu, telah dilaporkan bahwa ada 50 ribu hingga 500 ribu rakyat Irak kehilangan tempat tinggal dan terusir dari kampung halamannya. Tapi mereka memilih bertahan di dalam negeri, meskipun dengan situasi kekurangan persediaan air bersih, makanan, dan obat-obatan.

Sementara itu, nun jauh di Markas Besar PBB, New York, para petinggi organisasi berbendera biru laut itu sedang membicarakan percepatan program bantuan ke Irak melalui program "tukar minyak dengan bahan makanan". Presiden AS George W. Bush juga meminta kepada Kongres AS dana sejumlah US$ 2,6 miliar (sekitar Rp 23,4 triliun) untuk menambal program kemanusiaan yang dijanjikan AS. Menurut InterAction—organisasi kemanusiaan gabungan di AS—berjuta-juta (calon) pengungsi Irak belum terdanai dengan baik. Dan pihak AS memang ingin menunjukkan perhatian sangat besar pada program-program kemanusiaan untuk rakyat Irak ini.

Mungkin benar, perang ini belum apa-apa. Mungkin juga rakyat Irak enggan mengungsi keluar dari negaranya (pada Perang Teluk I, misalnya, hanya ada 60 ribu pengungsi). Tapi mungkin juga penduduk sipil itu juga takut menjadi sasaran tembak pasukan Irak sendiri, seperti yang terjadi di Basra, Jumat pekan silam. Mana alasan yang paling benar, tidak ada yang bisa memastikan. Yang pasti, rakyat Irak yang hidup di bawah sanksi PBB selama 12 tahun memang tidak punya banyak pilihan.

Tenda-tenda putih di Ruweished tampak kosong. Sementara itu para sukarelawan harus berjuang melawan cuaca yang tidak ramah, angin yang dingin, sembari menanti rombongan penduduk Irak yang mengungsi.

Bina Bektiati, Zuhaid el Qudsy (Ruweished) (Arab News, BBC, Guardian)



Bantah-berbantah Klaim

Jumat, 21 Maret 2003


Umm Qasr, Basra, Nasiriyah


  • Kementerian Pertahanan Amerika mengklaim pasukannya telah masuk sejauh 160 kilometer di Basra. Admiral Sir Michael Boyce menyebut marinir Amerika telah menguasai penuh Umm Qasr. Disebut pula 8.000 prajurit Divisi Infanteri Ke-51 Irak di Basra menyerah kepada pasukan koalisi.
  • Tapi televisi Irak melaporkan pertempuran masih terjadi dan tak benar Umm Qasr dan Basra dikuasai pasukan koalisi. Menteri Penerangan Irak Muhammad Sayyid al-Sahhaf menyebut tak benar ada pasukan Irak yang menyerah.

Sabtu, 22 Maret 2003


Basra, Nasiriyah, Najaf


  • Juru bicara militer Amerika menyebut pasukan koalisi menguasai dua jalur penting di Sungai Eufrat. Dan Tallill, Nasiriyah, akan dikuasai. Pasukan koalisi mengklaim 200 anggota pasukan Irak menyerah.
  • Televisi Irak melaporkan perang sengit masih berkecamuk di wilayah-wilayah ini. Pemerintah Irak menyebut, dalam serangan ke Basra, pasukan Amerika menewaskan 77 orang warga sipil dan melukai 366 orang lainnya.

Minggu, 23 Maret 2003


Nasiriyah, Umm Qasr


  • Pertempuran berlangsung sengit. Militer Amerika mengaku sedikitnya 6 marinir tewas dan 14 luka-luka, 6 kendaraan hancur, sementara 5 prajurit AS ditawan Irak. Tapi Nasiriyah dan Umm Qasr diklaim telah dikuasai.
  • Berita kekalahan Irak ini dibantah pihak Irak. Juru bicara pemerintah Irak mengklaim 25 tentara Amerika tewas dan 30 tank hancur.

Senin, 24 Maret 2003


Bagdad, Karbala, Basra, Babel


  • Panglima tentara Amerika di Teluk, Jenderal Tommy Franks, menyebut pasukan koalisi mengalami kemajuan pesat dalam penaklukan Irak. Franks mengaku, di berbagai wilayah, pertempuran masih berkecamuk. Pejabat Amerika mengumumkan seorang prajuritnya tewas di Najaf dan seorang tentara Inggris tewas di Al-Zubair.
  • Irak mengumumkan 24 warganya tewas dan 411 luka-luka. Televisi Irak juga menayangkan berita tentang tewasnya enam petinggi Partai Baath, termasuk seorang pejabat regional di Zhi Qar, dekat Nasiriyah.

Selasa, 25 Maret 2003


Nasiriyah, Bagdad, Basra


  • Komandan pasukan Inggris di Qatar, Mayjen Peter Wall, mengatakan di Basra telah terjadi pemberontakan oleh rakyat melawan Saddam Hussein.
  • Menteri Penerangan Irak Muhammad Sayyid al-Sahhaf membantahnya dan mengatakan Basra masih dikuasai pasukan yang setia.
  • Amerika mengklaim lebih dari 100 warga Irak menjadi korban.
  • Menteri Penerangan Irak mengaku 16 orang warga Bagdad tewas dan 95 luka-luka. Ia mengklaim 8 tentara AS tewas di Nasiriyah.

Rabu, 26 Maret 2003


Najaf, Karbala


  • Pertempuran besar di Najaf dan Karbala. Pemimpin pasukan Amerika mengklaim telah terjadi kekalahan hebat di pihak Irak akibat gempuran pasukan Divisi 7 Kavaleri Amerika. Mayor John Altman menyebut 300 prajurit Irak menjadi tawanan dan seratus lainnya melarikan diri, sementara Mayjen Buford Blount, panglima divisi infanteri ketiga pasukan koalisi, mengklaim seribu prajurit Irak tewas.
  • Irak melalui Hazim al-Rawi membantah pernyataan itu. Kepala Dinas Pertahanan Sipil Irak, Jenderal Hatem Ali al-Khalaf, mengatakan gempuran udara hanya mengakibatkan 13 orang tewas dan 56 luka-luka.

Kamis, 27 Maret 2003


Najaf, Zubair


  • Pertempuran tetap berlangsung sengit. Tadinya militer Amerika menyatakan tak satu pun dari kendaraan operasionalnya hilang pada Kamis. Belakangan, seorang juru bicara pasukan Amerika mengakui kehilangan sejumlah tank dan kendaraan pengangkut pasukan Bradley dalam pertempuran dekat Najaf, Irak bagian selatan.
  • Angkatan Bersenjata Irak mengklaim telah menewaskan 7 prajurit koalisi di Nasiriyah dan 2 di Zubair. Militer Irak juga menyebut telah menghancurkan 10 tank dan 13 kendaraan lapis baja pengangkut personel pasukan koalisi.

Jumat, 28 Maret 2003


  • Pasukan AS mengakui 28 tentaranya tewas dalam pekan pertama serangan atas Irak. Menurut juru bicara Pentagon, Letkol Jim Casella, tujuh tentara dipertimbangkan sebagai tawanan perang, sementara 17 tentara berstatus tak diketahui keberadaannya.

Nasiriyah


  • Marinir Amerika mengklaim telah menangkap seorang jenderal pasukan Irak. Pertempuran sporadis terus berlangsung meski tak sebanyak hari-hari sebelumnya. Ratusan anggota pasukan cadangan Amerika mulai memasuki wilayah ini.

Agus Hidayat (BBC, AP,AFP)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data