|
Perempuan itu memandang makhluk kecil di depannya dengan senyum tertahan. Seorang bayi berbungkus selimut kumal dalam kardus kumuh yang telah koyak tepinya. Di pedalaman Bagdad, bayi itu tergeletak, begitu saja. Di dalam rumah berdinding tanah yang mungkin telah terkelupas atapnya.
Perempuan itu, prajurit wanita Amerika dari kesatuan Palang Merah, menolongnya. Membawanya ke rumah sakit, menyelamatkan, atau mengadopsinya ke Amerika. Tak penting benar ke mana jabang itu dibawa. Satu nyawa diselamatkan, ratusan lainnya berjatuhan.
Ketika perang meletus tiga pekan lalu, Presiden Amerika George W. Bush berjanji bahwa serangannya ke Irak akan berlangsung "cepat" dan "bersih". Tak ada penduduk sipil yang tewas dan semua akan segera berakhir dalam hitungan pekan.
Kita tak tahu bagaimana dalam sebuah perang sebuah janji harus ditagih. Di Umm Qasr, Najaf, Basra, Nasiriyah, dan Bagdad, satu per satu penduduk sipil tewas. Tak jelas berapa jumlahnya. Pasukan Amerika dan Irak berlomba-lomba menambah dan mengurangi angka statistik untuk meneguhkan posisi mereka.
Perang berkecamuk. Mitraliur dan roket dimuntahkan. Lalu orang-orang mati. Bukan cuma para prajurit yang memang mengayun langkah dengan risiko kematian, tapi juga penduduk sipil yang tak pernah bermimpi akan menghadapi ajal dalam sebuah perang yang bergemuruh.
Maka, yang tampak di seantero tanah 1.001 malam itu adalah tenda-tenda pengungsi yang doyong ditekan angin atau ibu-ibu yang merapikan bekal untuk hijrah ke tempat aman. Yang terdengar adalah suara jerit dan bunyi senjata yang dikokang.
Kapankah perang ini akan berhenti? Tak ada jawaban. Di Bagdad, simbol-simbol Presiden Saddam telah dilecehkan. Poster-poster sang tiran, penguasa yang memegang kendali atas semua peri-kehidupan, dicoret atau dikoyakkan. Tapi tak ada jaminan ia bisa dijatuhkan—sebagai tanda berakhirnya perang. Sebaliknya, tak ada tanda-tanda pula ia mampu mengusir agresi Amerika. Di dunia lainnya, termasuk di negerinya sendiri, sosok boneka dan poster Presiden Bush juga menjadi bulan-bulanan.
Perang memang tak akan berakhir segera. Suara jerit akan terdengar senantiasa. Air mata dan darah akan mengalir dalam waktu lama.
Arif Zulkifli
|