Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Laporan Utama

Sekadar Menjadi Burung Nasar

Oposisi Irak di pengasingan cenderung menunggu pertempuran selesai. Tapi mereka juga tak satu suara.

Kelompok-kelompok oposisi Irak saat ini seperti burung nasar yang sedang mengincar mangsa. Dari jauh mereka terus mengamati dengan cermat perkembangan situasi perang, menunggu pertempuran usai dan berharap bisa menyambar bangkai kekuasaan yang ditinggalkan Saddam Hussein begitu debu dan asap menipis.

Mereka memang tak sepenuhnya berdiam diri. Ada pertemuan-pertemuan rahasia di kalangan mereka. Sebagian mengecam perang (lihat "Saddam Pasti Jatuh"). Sebagian ada yang mencoba "mempercepat" proses penggulingan Saddam. Ini dilakukan antara lain dengan membujuk rakyat, bahkan tentara, Irak lewat seruan—sebagaimana yang digemakan Dewan Kepemimpinan Oposisi Irak pada Kamis pekan lalu—agar "menolak menjalankan perintah para tiran dan menghindarkan anggota mereka menjadi bahan bakar bagi perang yang merusak dan pasti kalah".

Selain itu, mereka juga menyebarkan rencana masa depan Irak. Bertentangan dengan rencana Amerika dan sekutunya, Dewan Kepemimpinan beranggotakan enam kubu oposisi yang dibentuk lewat konferensi di Salahuddin, Irak utara, pada 1 Maret itu menyatakan akan membentuk pemerintahan koalisi terbuka untuk menjalankan negara. Menurut mereka, seperti terungkap dalam pernyataan yang diterima kantor berita Associated Press, pemerintahan itu akan berunding dengan PBB dan negara-negara koalisi "untuk mencari dan memusnahkan senjata pemusnah (massal) dan menetapkan jadwal penarikan pasukan koalisi dari Irak".

Namun pengibaratan ekstrem sebagai burung nasar tetap saja sulit ditepis. Sebab, pada akhirnya begitulah kesan sekilas yang bisa didapat, paling tidak sampai akhir pekan lalu.

Semula, diperkirakan agresi Amerika dan sekutunya bakal mengobarkan api pemberontakan, terutama di kawasan selatan (kubu kelompok muslim Syiah) dan utara (kubu Kurdi), seperti yang terjadi pada Perang Teluk Pertama, 1991. Dengan begitu, perang bisa segera diakhiri tanpa berpayah-payah, dan oposisi, yang terdiri atas kubu Syiah, Kurdi, dan pelarian militer, bisa melenggang masuk. Nyatanya, alih-alih Amerika dan sekutunya bisa merampungkan pekerjaan raksasa yang dengan gagah dilabeli Shock and Awe itu dengan "cepat" dan "bersih", api pergolakan pun tak kunjung menyala.

Belakangan malah timbul saling tuding di kalangan oposisi. Leith Kubba, analis di National Endowment for Democracy di Washington, DC, yang berhubungan erat dengan oposisi Irak di pengasingan, misalnya, menyalahkan kelompok yang berkubu di Iraq National Congress (INC) karena "menyesatkan kontak-kontak mereka di Amerika" soal peluang berkobarnya pergolakan di dalam Irak. INC yang dipimpin Ahmad Chalabi adalah kelompok oposisi yang disponsori Amerika.

Kamil Al-Mahdi, profesor ekonomi Timur Tengah di Universitas Exeter yang juga anggota oposisi Irak di pengasingan dari kalangan liberal, sependapat. Menurut dia, absennya pergolakan terhadap rezim Saddam dan sebaliknya justru kuatnya perlawanan terhadap pasukan Amerika dan sekutunya bisa mempermalukan kelompok-kelompok oposisi yang bersekutu dengan pemerintahan Presiden George W. Bush. Kelompok-kelompok ini, katanya, menciptakan asumsi tentang rezim yang seketika pecah berkeping-keping begitu pasukan Amerika dan sekutunya masuk Irak. "Amerika terdorong untuk percaya bahwa kesatuan-kesatuan Garda Republik akan 'menyeberang' dan ini akan diikuti pemberontakan Syiah di selatan…. Ini tak terjadi, setidaknya sampai saat ini," katanya.

Al-Mahdi menegaskan bahwa kenyataan salah kalkulasi mengenai kekuatan perlawanan di dalam Irak itu membuktikan kelompok-kelompok oposisi di pengasingan sudah kehilangan sentuhan dengan realitas di Irak. "Mereka tak bisa lagi mengklaim bahwa mereka mewakili baik kepentingan maupun kehendak rakyat Irak. Akan sangat sulit untuk menempatkan mereka sebagai penguasa baru Irak setelah Saddam pergi," ujarnya.

Amerika dan sekutunya, terutama Inggris, mungkin saja berubah pikiran; sejauh ini mereka belum bersepakat soal itu. Tapi burung-burung nasar sudah tak sabar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data