Pertalian Darah dan Ikatan Suku Saddam Hussein menjaring orang-orang terdekatnya melalui "jalur suku dan kekerabatan". Dia mengontrol kesetiaan mereka dengan tangan besi dan uang. |
Berkilo-kilo udang, lobster, ikan segar, daging tanpa lemak, dan sayur-mayur dikirimkan ke 20 lebih istana presiden di seantero Bagdad. Di sana, telah menanti sederet juru masak asal Eropa yang akan menyiapkan hidangan dalam dapur-dapur luas dan suci hama. Senyampang mereka meracik bahan masakan, sekelompok pria bertubuh kekar, bersenjata lengkap, tegak di sudut-sudut dapur dan memelototi setiap gerak-gerik para chef, seolah mereka adalah segerombolan tawanan perang.
Salah satu dari para pengawal itu, kita sebut saja si Kekar, kemudian menempel ke meja makan tatkala pelayan menata hidangan yang dilengkapi sebotol Mateus—anggur merah kesukaan Saddam Hussein. Lalu, ritual itu dimulai: si Kekar mencecap hidangan demi hidangan. Jika dia tidak pusing-pusing, kelojotan, atau mual, Yang Mulia Presiden Irak akan berkenan masuk ke ruangan untuk bersantap—dalam istana yang terpilih. Ritual ini berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun, sebelum perang memboyakkan istana-istana di Bagdad selama dua pekan terakhir. Dan si Kekar serta rekan-rekannya yang menunggui dapur bukanlah orang sembarangan.
Mereka anggota Jihaz al-Himaya al-Khaz, bagian dari Dinas Keamanan Khusus Irak: pasukan pengawal pribadi Saddam (lihat, Gurita Pengaman Tuan Presiden). Penulis buku Tales of The Tyrant, Mark Bowden, melukiskan para anggota Al-Himaya ini tersebar di meja makan dan kamar tidur Presiden. Mereka mengecek kamar mandi sebelum tuannya bersiram. Saddam rutin berenang setiap pagi. Maka, Al-Himaya wajib mengontrol suhu air, memastikan tak ada racun yang dilarutkan dalam air kolam renang.
Direktur Jenderal Dinas Keamanan Khusus ini adalah Qusay Hussein, calon penerus takhta Saddam Hussein. Pendiam dan serius, Qusay adalah tangan kanan dan confidant Saddam nomor satu. Dinas Keamanan menjadi gurita lapis pertama yang melindungi keselamatan ayahnya. Beserta Qusay, para sepupu dan keponakan dari "Tikrit Connection"—wilayah asal Saddam Hussein—ikut mengelola Dinas Keamanan Khusus.
Mereka mengisi berbagai posisi penting seperti direktur keuangan, operasi, administrasi, pelatihan, dan pendidikan. Berbagai pos penting lain dibagikan kepada kerabat dari orang-orang kepercayaan Saddam. Sekretaris Dirjen Dinas Keamanan Khusus Moyed Sami Ahmad al-Douri, misalnya, adalah kerabat dekat Izzat Ibrahim al-Douri, besan Saddam yang dijuluki "mesin perang".
Saddam sendiri menikah dengan sepupunya, Sajidah Khairrallah, putri pamannya sendiri. Kepercayaan Saddam terhadap Jaringan Tikrit bukan tanpa alasan. Selama ini percobaan pembunuhan terhadapnya datang dari warga klan lain. Pada Mei 1995, Al-Dulaymi, sebuah klan dari Irak Barat, mencoba membunuhnya dalam satu upaya kudeta. "Saddam mengontrol Irak melalui lingkaran keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam Partai Baath ataupun militer," demikian ditulis Efraim Kash dan Inari Rautsi dalam Saddam Hussein; A Political Biography.
Saddam juga menempuh cara kuno untuk memperkuat kekuasaan: ikatan perjodohan—walau cara ini tak selalu tokcer. Putri sulungnya, Raghd, dinikahkan dengan sepupu Saddam, Jenderal Hussein Kamil Hasan al-Madjid, salah satu jenderal paling cemerlang di windu pertama pemerintahan Saddam. Perkawinan ini gagal. Hussein Kamil berani mbalelo kepada sang mertua dan membayar mahal dengan nyawanya.
Adik perempuan Raghd, Rina, kawin dengan Saddam Kamil, adik Hussein Kamil. Kedua putra Saddam dipertalikan dengan anak-anak sahabatnya. Uday menikahi putri Izzat Ibrahim. Qusay memperistri anak perempuan Jenderal Maher Abd al-Rashid. Tapi perkawinan ini juga hancur karena kecemburuan Saddam terhadap prestasi Maher. Menjadi bintang Irak dalam Perang Iran-Irak, pamor Maher membuat Saddam khawatir. Dia lantas ditendang dari lingkaran terdekat.
Qusay kemudian kawin dengan putri Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Militer Irak Jenderal Sultan Hashim Ahmad al-Jabburi Tai. Dalam perang ini, Sultan Hashim mendukung penuh presidennya. "Kita akan mempertahankan Irak hingga mati, tidak peduli apa kata orang," demikian ucapannya dikutip para wartawan dari seluruh dunia. Tapi, lagi-lagi, jenderal besar ini dicurigai punya niat berkhianat. Kini, rumahnya dan keluarga Sultan Hashim dikawal ketat oleh para anggota Dinas Keamanan Khusus.
Dalam Tales of Tyrant, Bowden melukiskan penguasa Irak itu sebagai tokoh yang "…gemar sastra dan sejarah"—salah satu buku kesukaan Saddam adalah The Old Man and The Sea, karya Hemingway—"…serta tak terlalu peduli pada uang." Tapi Saddam tahu uang bisa mengikat erat kesetiaan. Izzat Ibrahim dia perbolehkan mengkoleksi hingga 500 mobil mewah. Para sepupu dari "Jaringan Tikrit" diberi akses menguasai bisnis perumahan, pertanian, dan peternakan.
Selain uang, tangan besi adalah alat kontrol Saddam yang paling ampuh. Dengan ketajaman mata seekor elang, dia mengawasi gerak-gerik setiap orang dalam lingkaran terdekatnya. Disiplin diri Saddam luar biasa. Dan dia menuntut semua punggawanya agar memiliki ritme disiplin yang sama. Pada 1986, ketika Perang Iran-Irak masih berlangsung, Saddam mengumpulkan beberapa jenderalnya untuk sebuah rapat dadakan. Dalam rapat itu, Letnan Jenderal Aladin al-Janabi menguap karena kelelahan. Saddam menghardik sang Jenderal, menurunkan pangkatnya, dan melemparnya keluar dari Angkatan Udara Irak.
Saddam juga gemar menimba ilmu-ilmu konspirasi dari dunia fiksi dan film. Tiga film yang ia tonton berulang-ulang adalah The Jackal, Enemy of The State, dan The Conversation. Sedangkan The Godfather, kisah mafia yang ditulis Mario Puzzo, menjadi salah satu buku favoritnya.
Dalam biografi politik yang dia tulis, Efraim Karsh melukiskan Saddam sebagai "petarung yang kesepian". Dia punya dua musuh yang tak bisa ditaklukkan: waktu, juga pengkhianatan. Alhasil, pertalian darah dan ikatan kampung halaman menjadi tiang utama tempat dia bersandar. Uday Hussein, anak pertama Saddam, sekali waktu menuturkan bahwa satu-satunya orang yang berani menantang dan membentak Saddam Hussein adalah Jenderal Adnan Khairrallah Talfah, sepupu kesayangan Presiden yang pernah menjabat Menteri Pertahanan Irak.
Bila naik pitam, Saddam punya kebiasaan menghardik para jenderalnya dengan suara mengguntur: "Itla!", "Keluar!" Satu per satu orang berjinjit ke luar ruangan. Akhirnya tinggal kedua sepupu itu dalam kamar. Tapi, sejauh ini tak pernah ada yang tahu bagaimana Adnan bisa meredam kekalapan adik sepupunya. Pernah ada yang bilang, Adnan menundukkan Saddam lewat "Pertalian Tikrit". Cara-cara kampung halaman.
Hermien Y. Kleden
Dalam Lingkaran Pertama
Qusay Hussein
Putra nomor dua
Komandan Tertinggi Garda Republik, calon ahli waris takhta
Uday Hussein
Putra Sulung
Penanggung Jawab Bidang Media dan Pemimpin Komite Olimpiade Nasional Irak
Khairrallah Talfah
Paman Kandung, mertua
"Penasihat pribadi" tidak resmi
Izzat Ibrahim al-Douri
Teman sekampung, sahabat sejak muda, sepupu tiri
Wakil Ketua Dewan Komando Revolusioner Partai Baath
Ibrahim al-Hassan
PAman Kandung
Mendidik Saddam di bidang militer dan politik
Muhammad Hamza al-Zubaidi
Orang kepercayaan
Bekas Deputi Perdana Menteri
Ali Hassan al-Madjid
Sepupu dan teman sekampung
Penasihat presiden, anggota Dewan Komando Revolusioner
Abid Hammoud al-Tikriti
Sepupu
Pengawal pribadi dan pengontrol semua akses ke Saddam
Hanif al-Latif Tulfah
Orang kepercayaan
Direktur Organisasi Keamanan Khusus
Aziz Salih Numan
Orang kepercayaan
Komandan Regional Partai Baath
Taha Yasin Ramadan
Teman sejak muda, Orang kepercayaan
Wakil Presiden Irak
Sumber: Newsweek, Irna, Jane's Information Group
|