Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Laporan Utama

Mati-matian Menggenggam Bagdad

Tentara koalisi mengepung ibu negeri Irak. Saddam Hussein ganti menantang Amerika untuk berperang gerilya di kota. Bagaimana kans Saddam untuk bertahan? TEMPO melaporkan dari Bagdad.

BAGDAD dalam subuh musim dingin. Jarum jam belum mencapai angka lima. Menikmati pagi di sebuah kota di tengah gurun—di bawah hujan bom pula—memang bukan hal yang nyaman. Cuaca bisa jatuh ke titik nol membuat mulut mendesis menahan dingin. Wartawan TEMPO Zuhaid el-Qudsy baru saja berniat menunaikan salat subuh di kota itu pada Kamis pekan lalu ketika rentetan gelegar dari ledakan peluru kendali mengguncangkan lantai rumah. Saking dahsyatnya, "Ledakan itu seolah pecah di samping telinga saya," Zuhaid menulis dalam laporannya.

Hantaman rudal itu, seperti yang disaksikan TEMPO, meratakan sebuah bangunan dan menyisakan asap tebal. "Ya, Indoneisy, anta muslim?" seorang pria bertanya dengan curiga. Wartawan mingguan ini mengangguk dan memastikan bahwa dia muslim dari Indonesia. Barulah dia dibiarkan berbaur dalam kerumunan massa, ikut menonton jenazah seorang pria yang tengah digotong keluar dari reruntuhan. Istri lelaki itu meratap sejadi-jadinya sembari mendekap anaknya. Di sela-sela tangis, dia menjeritkan dukungan kepada Saddam Hussein, "Nadfiek, ya Saddam…."

Asap tebal, dentuman bom, dan bau mesiu adalah pemandangan sehari-hari buat penduduk Bagdad. Malam hingga subuh adalah saat menegangkan, ketika pesawat-pesawat tempur Amerika memilih sasarannya di ibu kota Irak, yang menyimpan sejarah 28 abad. Jalanan Bagdad sunyi senyap. Mobil penjaga keamanan melintas sesekali.

Invasi Amerika ke Irak telah memasuki pekan kedua. Walau ledakan mengguncang Bagdad setiap malam, kian kentara saja bahwa perang itu amat menyulitkan—bahkan memalukan—buat serdadu Amerika Serikat dan tentara koalisi. Tak satu pun kota besar dapat mereka rebut dengan mudah. Tidak di Basra, Nasiriyah, Najaf, atau Karbala. Sampai laporan ini ditulis, 47 tentara koalisi tewas, sementara belasan lainnya hilang, tertawan, dan luka-luka (lihat Bantah-berbantah Klaim). Bahkan, pekan lalu, bom bunuh diri mulai meledak di Al-Kifl, Irak Selatan. Empat serdadu AS tewas. "Jumlah martir ini akan terus bertambah," ujar Wakil Presiden Irak Taha Yasin Ramadan, seperti yang dilaporkan MSNBC News.

Rencana serangan dari utara dengan menggandeng suku Kurdi juga berantakan. Tadinya AS berharap suku Kurdi akan membantu mereka melicinkan jalan menuju kota-kota penting. Kurdi terkenal sebagai lawan tangguh Saddam. Tapi Amerika salah kira. Kurdi memang menyambut gembira pasukan koalisi, tapi ogah didikte-dikte. Apalagi jika Amerika ingin menguasai kota minyak macam Mosul, Kirkuk, dan Sulaimaniya. Lagi pula orang-orang Kurdi, seperti kaum oposisisi lain, sudah siap masuk Bagdad jika Saddam jatuh (baca Sekadar Menjadi Burung Nasar).

Di Tikrit, kota kelahiran Saddam, gerak pasukan koalisi juga tertahan oleh perlawanan sengit. Pasukan darat koalisi tidak mau mengambil risiko mati konyol di tengah kota yang begitu fanatik mendukung Saddam. Alhasil, sampai akhir pekan lalu, mereka cuma berhasil "merebut" bandar udara kecil Harir, dekat Kota Bashur, di kawasan utara. Lumayan, untuk mempercepat penaklukan Bagdad.

Sejak serangan fajar Kamis dua pekan lalu, "perang cepat dan bersih" seperti dijanjikan Presiden AS George W. Bush kepada dunia sudah berubah menjadi banjir darah yang menelan warga sipil (lihat Luka Bagdad, Luka Dunia). Dan Presiden Irak Saddam Hussein, yang kursinya sudah dicongkel sejak zaman Bush Senior menjadi Presiden AS, belum juga tumbang. Sepekan setelah invasi AS ke Irak, Saddam malah muncul di televisi, memimpin rapat dengan para panglima perangnya.

Gambar di televisi membuat keder tentara koalisi: seorang perempuan yang hadir dekat Saddam dikenali sebagai Huda Ammash, pakar senjata biologi Irak. Jangan-jangan, penguasa Irak itu sedang mempersiapkan senjata kimia. Jauh di Washington, Presiden Bush, yang cemas perang akan berkepanjangan, telah meminta tambahan dana U$S 75 miliar atau sekitar Rp 675 triliun kepada Kongres. Sekitar 130 ribu serdadu tambahan juga segera dikirimkan dari AS ke Irak.

Alhasil, jumlah tentara koalisi bisa mencapai 300 ribu orang—kurang-lebih sepuluh kali lipat anggota pasukan Garda Republik yang mengawal Bagdad. "Dengan jumlah sepuluh kali lebih besar," seperti yang ditulis oleh ahli strategi perang Cina kuno Sun Tzu, "barulah kota musuh bisa dikepung." Tambahan pasukan membuat Kolonel Tom Bright, Komandan Kesatuan Marinir AS di Irak, berpikir sama dengan Tzu. "Kami akan menjepit Saddam dari utara, selatan, dan barat. Dia pasti takluk," katanya.

Dari bungkernya—entah di mana—Saddam menjawab tantangan itu dengan menjanjikan jihad yang akan mengubah Bagdad "menjadi arena perang kota, kuburan bagi tentara AS, dan panggung duel secara 'tatap muka'." Pepe Escobar dalam tulisannya berjudul Jihad in Mesopotamia di Asia Times menggambarkan bahwa Saddam akan memecah kekuatannya dalam tiga poros. Garda Republik dan Garda Republik Khusus akan menjadi benteng penjaga Bagdad. Pasukan Fedayeen akan bergerak cepat di selatan Irak mempertahankan Basra, Nasiriyah, dan kota-kota di seputar situ. Sedangkan suku Beduin dan tentara dari marga-marga lokal akan bertempur di Irak Tengah "demi membela kehormatan dunia Arab."

Bagdad boleh jadi bukan "arena ideal" bagi sebuah perang gerilya dengan musuh yang mahir menghujankan bom dari udara. Toh, Irak "tidak akan jatuh segera. Paling tidak perlu waktu beberapa pekan," ujar Faleh Jabar, ahli Timur Tengah di University of London, dalam wawancara dengan Radio Nederland. Taktik Saddam yang lain adalah menjadikan empat juta warga Bagdad sebagai bagian dari "Benteng Alamo" untuk mempertahankan kota. Dengan korban manusia yang semakin banyak, Saddam menghitung, dia mungkin bisa membimbangkan niat Amerika untuk melanjutkan perang.

Seorang profesor dan penulis Prancis, Jean Louis Dufour, menjelaskan bahwa Irak memang tidak memiliki "kemewahan" Vietnam saat negeri itu mempecundangi Amerika: hutan-hutan lebar tempat mereka mengumpet. Irak tidak punya tebing-tebing alam raksasa seperti di Khyber Pass, Afganistan, yang konon telah menyelamatkan nyawa Usamah bin Ladin. Tapi Saddam, menurut Dufour, telah menyulap Bagdad menjadi sebuah rimba beton yang penuh labirin yang akan membikin rasa panik tentara AS—walau sebagian besar rimba itu kini sudah rontok dihantam rudal.

Berbeda dengan Perang Teluk—musuh bisa dibidik dari jarak tertentu—perang kota akan membuat serdadu, dalam istilah Dufour, "bertempur seperti zaman perang Napoleon": saling merangsek secara langsung sampai salah satunya putus nyawa. Di sini mungkin Saddam bisa menangguk kelebihan dibandingkan dengan musuh-musuhnya. Dia memiliki pasukan berani mati yang menganggap perang melawan Amerika dan Inggris adalah sebuah jalan menjadi syuhada.

Sebagian besar anggota pasukan berani mati ini bergabung bersama pasukan khusus yang dipimpin langsung oleh Qusay Hussein, putra Saddam nomor dua (lihat Pertalian Darah dan Ikatan Suku). Dan jangan lupa, Saddam masih menyimpan sebagian besar divisi pasukan elite Garda Republik dan Garda Republik Khusus yang dikenal mahir bertempur dalam segala tekanan dan cuaca (lihat Garda di Lorong-Lorong Bagdad).

Presiden Bush berulang-ulang menyatakan tekadnya dalam sepekan terakhir bahwa "perang akan terus berkobar sebelum Saddam jatuh." Tapi sejarah menyimpan catatannya sendiri. Dalam serangan ke Tet di Vietnam Utara pada 1968, 50 ribu orang Vietnam tewas. Jumlah ini "tak sebanding" dengan matinya 2.000 tentara AS. Toh, peristiwa itu telah mengguncang Amerika dan membuat mereka memutuskan untuk keluar dari Vietnam dengan menanggung malu.

Rasa malu yang "sama tapi berbeda" kini menimpa pihak Amerika, walau bukan di medan pertempuran. Beberapa perusahaan di negara superkuat itu ibarat burung kondor yang menunggui tewasnya Irak yang sekarat. Perusahaan jasa perminyakan Halliburton, misalnya, disebutkan sudah mengantongi kontrak tanpa tender dari Angkatan Bersenjata Amerika untuk memperbaiki ladang minyak yang dibakar tentara Irak. Gedung Putih mengaku belum tahu dan, seperti disiarkan televisi CNN, sedang menelisik bagaimana kontrak itu didapatkan Halliburton.

Kecurigaan mengarah ke Wakil Presiden Amerika Dick Cheney, yang pernah menjadi eksekutif puncak di perusahaan tersebut. Lembaga bantuan internasional Amerika USAID sudah pula memberikan kontrak senilai US$ 4,8 juta kepada Stevedoring Services of America untuk mengelola Pelabuhan Umm Qasr—satu-satunya kawasan yang dikuasai penuh tentara koalisi. Kedua kontrak tersebut sudah diteken, padahal perang baru melewati babak pendahuluan.

Bagaimana dengan babak perang selanjutnya? Mari kita lihat dulu apa yang dikatakan Joanna Spear, dosen senior bidang kajian perang dari King's College London, kepada TEMPO. Dari sumber-sumbernya di Pentagon, Spear mendapatkan informasi berikut ini. Sebelum perang, sudah ada perdebatan sengit di markas besar Departemen Pertahanan AS itu tentang strategi melawan Irak. Pilihannya adalah serangan udara atau serangan gabungan darat dan udara. Karena tak bisa memutuskan, mereka menengok hasil analisis intelijen.

Rupanya Pentagon mempercayai laporan intel-intelnya yang menyatakan bahwa rakyat Irak akan memberontak kepada Saddam dan bergabung dengan tentara koalisi untuk "memerdekakan" Irak. Pentagon akhirnya memilih serangan gabungan udara dan darat. Tapi tentara koalisi tidak mendapat sambutan, dan pemberontakan terhadap Saddam tak pernah terjadi. Bagaimana kans pasukan koalisi kalau pecah perang kota?

Spear menghitung, pasukan koalisi belum tentu kalah karena mereka punya pengalaman tempur di banyak negara. Tapi titik lemahnya justru pada perbedaan karakter pasukan Inggris dan Amerika. Para komandan tentara Inggris, katanya, terbiasa diberi otonomi yang besar untuk memilih taktik dan strategi perangnya, sedangkan tentara Amerika amat bergantung pada perintah atasan.

Daripada masuk Bagdad minggu ini, Spear menyarankan agar Amerika lebih baik membujuk para pemimpin kelompok Syiah dan Kurdi untuk tetap berada di samping mereka jika ingin menjatuhkan Saddam. Ini bukan pekerjaan gampang karena kedua kelompok itu pernah ditinggalkan Amerika pasca-Perang Teluk I pada 1991. Ketika itu, setelah pasukan aliansi pimpinan Amerika menang, Irak ditinggalkan begitu saja dan Saddam tak digulingkan. Alhasil, kaum Syiah dan Kurdi jadi sasaran balas dendam.

Jadi, berapa lama lagi waktu yang diperlukan Bush untuk memenuhi sumpahnya menjatuhkan Saddam? Kata-kata Karl von Clausewitz, ahli militer Prusia dari abad ke-19, mungkin bisa menjawab pertanyaan ini. "Perang," katanya, "tak pernah terlalu singkat bagi mereka yang menyerang dan tak pernah terlalu lama bagi mereka yang diserang."

I G.G. Maha Adi (Jakarta), Zuhaid el-Qudsy (Bagdad), Gita W. Laksmini
(London)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data