Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Lingkungan

Bahaya Merkuri di Kali Surabaya

Kadar merkuri di Kali Surabaya mencapai seratus kali lipat dari batas yang dibolehkan.

SETIAP pagi, setiap kali memompa air, Khoiriyah cuma bisa menampung air keruh. Ibu berumur 48 tahun ini mesti mencemplungkan segumpal tawas ke dalam bak penampung, lalu mengendapkannya agak lama, sebelum memakai air di dalam bak itu untuk memasak, mandi, dan mencuci.

Sejak setahun lalu, Khoiriyah melihat kualitas air sumurnya makin payah. Sumurnya sendiri berjarak sepuluh langkah dari Kali Surabaya. Warga Desa Sarirejo, Kecamatan Driyorejo, Gresik, Jawa Timur, ini memang tinggal di bantaran sungai. Seiring dengan merosotnya kualitas air, tubuh Khoiriyah makin kerap dihinggapi penyakit, dari gatal-gatal hingga sesak napas. Tahun lalu, ia harus terbujur di rumah sakit akibat sesak napas.

Penelusuran wartawan TEMPO di sepanjang Kali Surabaya dari Surabaya hingga ke perbatasan Gresik dan Mojokerto menemukan keluhan serupa. Para tenaga medis di Puskesmas Driyorejo dan Wringin Anom, Gresik, membenarkan seringnya mereka menangani kasus serupa. Suyanto, petugas di Puskesmas Wringin Anom, mengatakan bahwa setiap bulan, dua sampai tiga kali, ada pasien yang menderita gatal-gatal dan sesak napas. "Saya kira itu pengaruh air sungai," katanya.

Rupa air Kali Surabaya sendiri memang tak biasa: keruh kecokelatan disertai aroma tak sedap. Tambahan lagi, di sepanjang aliran sungai berjejer 50-an pabrik yang membuang limbah ke sungai. Buangan hajat industri inilah yang pada 1999 membuat kadar logam berbahaya merkuri (Hg) melonjak di Kali Surabaya.

Bayang-bayang akan bencana merkuri membuat Pusat Informasi dan Kajian Kali Surabaya (Pijak) dan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) secara khusus mengkaji kandungan merkuri pada manusia dan biota air Kali Surabaya. Penelitian sejak 2001 menunjukkan bahwa sepanjang Kali Surabaya telah terkontaminasi merkuri seratus kali lipat dari ambang toleransi 0,001 miligram per liter.

Lokasi hasil pantauan Ecoton yang menunjukkan kandungan merkuri tinggi adalah Desa Sumberame (0,0191-0,0108), Sumengko (0,0155-0,0311), Semambung (0,0368-0,0115), Driyorejo (0,0584-0,0892), Warugunung (0,0275-0,0368), Karang Pilang (0,0134-0,0308), Kemlaten (0,0067-0,0142), dan Kedurus (0,0049-0,0348).

Tingginya kadar merkuri di titik sampel itu mendorong Ecoton menguji kadar merkuri pada rambut penduduk yang tinggal di wilayah itu. Hasilnya, kendati terdapat residu merkuri pada 36 orang sampel di tiga desa, itu masih di bawah ambang batas yang dibolehkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Ecoton menemukan kandungan rata-rata merkuri pada rambut sebesar 0,6 bagian per sejuta (ppm). Ambang bahaya yang ditetapkan WHO untuk pria dewasa tak lebih dari 50 ppm dan untuk wanita hamil tak lebih dari 10 ppm.

Sumber terbesar dari pencemaran merkuri itu, menurut koordinator penelitian Ecoton, Prigi Arisandi, adalah industri logam, baterai, kimia, serta kertas yang bertebaran di sepanjang Kali Surabaya. Tapi jangan berharap bisa menangkap basah pabrik-pabrik menggelontorkan air lindinya ke sungai. Sebab, menurut Prigi, perusahaan-perusahaan pencemar menampung dulu limbahnya di siang hari. "Saat malam hari, baru dibuang. Itu pun lewat pipa siluman," kata Prigi. Dari sekian banyak pabrik di sana, pabrik kertas disebut sebagai penyumbang terbesar pencemaran.

Kandungan merkuri paling tinggi, berdasarkan penelitian Ecoton, dijumpai di daerah Driyorejo. Lokasi pengambilan sampelnya sendiri berada satu kilometer dari hilir PT Surya Agung Kertas dan PT Miwon Indonesia. Tapi baik pihak Surya Agung maupun Miwon tak memberikan komentar apa pun. Kepada Adi Mawardi dari TEMPO, Kepala Humas Surya Agung, Rizky, mengaku tak tahu-menahu perihal pencemaran Kali Surabaya.

Sebuah pabrik detergen yang berada di Kali Surabaya, PT Jaya Baya Raya, lebih terbuka. Produsen sabun cuci merek Kucing Angora ini membantah ikut mencemari sungai. "Sebagian besar limbah kami daur ulang untuk bahan baku," kata Hariyanto, Manajer Produksi PT Jaya Baya Raya. Lagi pula limbah yang dibuang itu sudah dinetralkan dengan instalasi pengolah sehingga tidak berbahaya. "Kami hanya pabrik kecil. Limbahnya hanya 1,2 meter kubik per hari," Hariyanto menambahkan seraya menyebut tiap enam bulan sekali limbah pabriknya dilaporkan kepada Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Jawa Timur.

Bahaya akibat logam berat merkuri kini tak hanya mengancam penduduk di bantaran Kali Surabaya. Penelitian Ecoton juga menemukan bahwa Kali Tengah, cabang Kali Surabaya, mengalami pencemaran yang amat serius. Penyebabnya tak lain sekitar 40 industri besar yang berderet di sepanjang tepian sungai. Sebagian besar perusahaan itu, menurut Prigi, tak menangani limbahnya dengan benar. Padahal aliran Kali Tengah yang bermuara ke Kali Surabaya merupakan aliran masukan (intake) bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Karang Pilang, Surabaya.

Kepala Bapedalda Jawa Timur, Kalki Asmoro Toto, termasuk orang yang mewaspadai pencemaran di Kali Tengah. Menurut dia, tahun lalu Bapedalda meneliti muara sungai ini. Hasilnya, kadar merkuri sudah mendekati 0,001 miligram per liter. Tapi Bapedalda belum mengambil rekomendasi apa pun buat mencegah peningkatan kadar merkuri.

Anehnya, Gubernur Jawa Timur, Imam Oetomo, mengaku selama ini tak pernah mendapat laporan soal pencemaran Kali Surabaya. "Laporkan saja ke polisi, akan saya back up," ujarnya kepada Adi Mawardi dari TEMPO. "Kalau terbukti mencemarkan, ya, akan dihukum," katanya dengan suara tinggi.

Justru penegakan hukumlah, menurut Prigi, yang belum bisa diandalkan. Berdasarkan catatan Ecoton, sedikitnya ada tiga persoalan besar yang hingga kini belum dituntaskan Imam Oetomo, yakni tak jelasnya penyelesaian pencemaran Kali Surabaya oleh Pabrik Gula Ngadirejo pada 2001, terbitnya surat perintah penghentian penyidikan kasus pencemaran oleh PT Surya Agung Kertas, dan tak jelasnya rencana pembongkaran bangunan industri di area resapan air pada bantaran Kali Surabaya. Menurut Ecoton, sejak Imam Oetomo menjadi gubernur, tak kurang dari 40 kali terjadi peristiwa ikan mati di Kali Surabaya—kematian massal yang banyak dipicu oleh buangan limbah industri di Kali Surabaya.

Kendati begitu, Imam membantah tak berbuat sesuatu buat menangani pencemaran. Menurut dia, kasus-kasus pencemaran Kali Surabaya masih diproses di pengadilan. "Semua masuk ke pengadilan," katanya tanpa merinci perusahaan apa saja yang telah diproses secara hukum. Ia juga menolak dijuluki gubernur yang tak berpihak pada lingkungan.

Bantahan atas nihilnya tindakan hukum bagi pelaku pencemaran juga dilontarkan Kalki Asmoro. Menurut dia, sejak 1999 hingga 2002 sudah ada 50 kasus pencemaran yang dibawa ke pengadilan dengan tingkat hukuman yang variatif. Namun, dari sekian banyak vonis, Kalki mengakui tak ada keputusan berupa pencabutan izin usaha. Padahal seorang sumber TEMPO di Bapedalda menyebutkan bahwa Gubernur Imam Oetomo sudah berhak menutup industri yang terbukti merusak lingkungan.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengakui bahwa pabrik-pabrik yang berjejal dari hulu hingga hilir Kali Surabaya menjadi biang pencemar nomor wahid. Pada 1995-1998, ketika ia masih di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, sebuah tes digelar. Hasilnya, sebagian besar perusahaan jeblok. Bahkan, sewaktu krisis ekonomi menghantam pada 1997, perusahaan yang masih beroperasi, untuk menghemat biaya, memilih menggelontorkan limbahnya langsung ketimbang mengolahnya dulu.

Untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, mulai bulan depan, Kementerian Lingkungan Hidup akan menggelar kembali uji kelayakan bagi perusahaan dengan potensi pencemaran besar di Kali Surabaya. "Kalau selama ini pemerintah daerah mengatakan beres-beres saja, kita akan punya bukti dan kita berani tanding. Ini supaya pemerintah daerah tidak main-main," kata Nabiel.

Agus Hidayat, Levianer Silalahi, Kukuh S. Wibowo, Sunudyantoro (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data