Kebun Jamur di Atap Otak Seorang mahasiswi Semarang terserang jamur di otaknya hingga ia mengalami kelumpuhan tangan dan kaki. Diagnosis dokter sempat salah beberapa kali. |
Peni Handayani, 22 tahun, mencoba bangkit dari pembaringan. Punggungnya kini tegak, tapi di kepalanya yang dicukur pelontos terlihat jelas bekas jahitan memanjang kira-kira sepuluh sentimeter. Peni, mahasiswi sebuah universitas swasta di Semarang, bulan silam menjalani operasi otak di Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Tangerang, Banten. Hingga pekan lalu ia masih harus menyeret kaki kanannya, yang susah digerakkan jika berjalan. Tapi dokter memperkira- kan keadaannya akan kembali normal empat-lima bulan mendatang.
Dokter telah mengangkat jamur yang berkembang biak menyelimuti selaput otak Peni—sebuah kasus langka dalam dunia kedokteran. Memang Peni telah mengarungi perjalanan panjang untuk meringankan penderitaannya. Di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta, ia pernah divonis mengidap AIDS/HIV positif—satu kesimpulan mengerikan, tapi berangkat dari pengamatan sederhana. Dokter melihat banyak titik bekas suntikan di tangan gadis berkulit kuning ini, lalu muncul anggapan bahwa Peni pecandu narkotik. "Bekas-bekas suntikan di tangan itu kan karena bolak-balik disuntik jarum infus yang tidak pas," kata Peni, menolak diagnosis tersebut.
Peni yang lemah dan kerap sakit kepala serta batuk-batuk itu berobat ke Jakarta. Sewaktu tiba di rumah sakit, ia dibopong, tak kuasa menggerakkan kaki dan tangan kanannya. Tapi dokter bergerak hati-hati, sekadar untuk memastikan apakah ia benar-benar terjangkit AIDS/HIV atau tidak. Tiga kali mereka melakukan tes pembanding, termasuk Elisa dan Western Blot yang sangat akurat itu. Setelah semua tes itu menunjukkan hasil negatif, dokter yakin ia bebas AIDS/HIV. Namun, itu bukanlah salah diagnosis pertama dan terakhir. Sebelumnya, dokter memperkirakan bahwa tumor telah menyerang otaknya, dan itu juga mengakibatkan kelumpuhan pada kaki dan tangan kanannya.
Berdasar pengecekan dengan MRI (magnetic resonance imaging), mereka lalu mencium adanya "sesuatu" yang mendesak otak warga Temanggung, Jawa Tengah, itu. Belum jelas apa benda itu. Tapi, ketika dokter mengoperasi otak Peni, terbongkarlah biang keladi penderitaan Peni: bukan tumor, melainkan jamur. Saat diberi pewarnaan dengan cairan kimia tertentu dan dilakukan pengamatan mikroskop dengan pembesaran 20 kali, tampaklah pemandangan mengejutkan. Gambarnya laksana akar pohon berwarna abu-abu dan ungu yang saling berkait.
Jamur yang menyerang otak tentu bukan hal lazim. Menurut dr. Eka J. Wahjoepramono, ahli bedah otak mikro, dijumpai bakteri, kuman, virus, atau parasit—seperti cacing dan toksoplasma—yang kerap menyerang otak, tapi bukan jamur. Aneh, tapi bukan mustahil. Mereka lalu terus mencari tahu identitas sang jamur. Rupanya, upaya mengisolasi hasil biopsi jamur dari otak Peni gagal. Padahal, "Kita sudah mencoba dengan berbagai metode dan medium," kata dr. Retno Wahyuningsih, ahli parasitologi FKUI/RSCM, Jakarta, yang juga ikut mengoperasi Peni.
Tapi, berdasar bentuk dan ukuran hifa (benang pembentuk serat kapang), jenis jamurnya bisa diperkirakan. Dari ukuran diameter hifanya—paling besar 1,5 mikrometer, bahkan ada yang lebih dari 2 mikrometer—Retno mencoba menarik kesimpulan: dua macam jamur bercokol di otak Peni: Aspergillus, golongan kapang, dikenal juga dengan nama umum jamur tempe, dan jamur Actinomyces dari golongan Actinomycetaceae.
Sebelum mencapai otak dan berkembang-biak, jamur itu telah menempuh perjalanan sulit. Semua tahu, jamur masuk ke otak melalui aliran darah. Tapi perjuangan jamur menembus otak mungkin berangkat dari terhirupnya si jamur lewat pernapasan. Di sini, jamur harus melampaui dua benteng yang menjadi alat pertahanan tubuh: suhu badan dan sistem kekebalan tubuh. Jika kekebalan orang yang bersangkutan bagus, serangan jamur dipastikan bakal gagal. Tapi, jika kekebalan tubuhnya menurun, berjayalah para jamur.
Misteri telah terpecahkan, kaki dan tangan kanan Peni yang lumpuh mulai bisa digerakkan, dan dugaan bahwa ia terkena AIDS/HIV positif tak terbukti. Migren dan batuk-batuk, yang dulu kerap menyerang, sekarang tak muncul-muncul lagi. Itulah perjalanan panjang Peni melawan penyakitnya. Memang banyak duit yang harus keluar, ada berbagai pengalaman pahit yang mesti ditelan, tapi demikianlah harga kesehatan yang mesti dibayar.
Dwi Wiyana
Bakteri Non-Tuberkulosis
- Penyebabnya beragam bakteri non-spesifik, seperti strastokok, pneumokok, hemofilus influenza, neiseria meningokok.
- Menyebar melalui aliran darah hingga mencapai otak.
- Menyerang semua tingkatan umur dan jenis kelamin.
Gejala:
- Kejang-kejang, penurunan kesadaran, panas, gangguan kognitif—misalnya menjadi pikun, lumpuh, gangguan bicara, kaku kuduk, dan lain-lain.
- Bila menimbulkan infeksi, sel-sel otak bisa mati sehingga menimbulkan kecacatan permanen, seperti lumpuh dan kebutaan. Bisa juga menyebabkan kejang-kejang permanen (epilepsi pasca-infeksi otak) sehingga terkadang membutuhkan pengobatan seumur hidup.
Tuberkulosis
- Penyebabnya Mycobacterium tuberculosae.
- Menyebar melalui aliran darah hingga mencapai otak.
- Menyerang segala tingkatan umur dan jenis kelamin. Rakyat miskin lebih rentan terserang bakteri ini.
Gejala:
- Kejang-kejang, penurunan kesadaran, panas, gangguan kognitif—misalnya pikun, lumpuh, gangguan bicara, kaku kuduk, dan lain-lain.
- Dampaknya lebih mengerikan dibanding non-tuberkulosis. Sebab, bila menyerang jaringan otak, ia akan menimbulkan kerusakan permanen, bahkan bisa menimbulkan tuberkuloma, yakni penggumpalan jaringan otak yang mati sehingga mirip keju.
- Jika penyakit dapat diatasi, pasien tetap bisa menderita cacat, seperti tangannya terus mencengkeram (spasticity), atau menjadi debil, embisil, alias mengalami penurunan inteligensi.
- Umumnya menyerang dalam waktu tertentu, misalnya seminggu, setelah itu mati. Racun yang ditimbulkan saat virus menyerang otak bisa berdampak permanen.
- Kasus CMV (cytomegalovirus) pada janin ibu hamil paling sering ditemukan.
- Virus ini bisa ditularkan dari ibu yang terjangkit ke bayi yang dikandung. Tak ada gejala spesifik.
- Bila serangan terjadi, otak bayi mengalami pengerutan sehingga waktu dilahirkan otaknya sudah mengecil, begitu juga kepalanya (microcephaly).
- Di sejumlah kasus, ia menyebabkan kematian bayi. Jika tetap hidup, bayi akan cacat, misalnya mengalami retardasi mental.
- Tubuh si anak bisa tumbuh seperti orang dewasa, tapi kepalanya tak berkembang.
- Dokter sudah tak bisa berbuat apa-apa.
- Untuk jaga-jaga, ibu hamil dianjurkan menjalani tes TORCH (toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex).
- Secara umum, penularan virus ini juga bisa melalui feses, darah, air liur, air susu, cairan vagina, cervix (leher rahim), dan semen. Juga bisa lewat ciuman dan hubungan seksual.
Cacing
- Sering ditemukan kasus larva cacing pita di otak.
- Menyerang segala umur dan tak kenal jenis kelamin. Kalangan yang biasa makan daging babi yang tidak matang rentan terkena, misalnya masyarakat Papua.
- Menyebar melalui aliran darah hingga mencapai otak.
Gejala:
- Kejang-kejang seperti ayan, penurunan daya ingat, dan kognitif terganggu. Bila mengena lobus frontal alias pusat-pusat kepribadian, pasien akan berlaku seperti orang gila, misalnya tiba-tiba kencing atau berak sembarangan.
- Pengobatan dengan obat cacing, seperti mebendazole, bisa membantu.
- Bila larva cacing di otak bisa diatasi, pasien bisa sembuh dengan sempurna.
Toksoplasma
- Penyebabnya, Toxoplasma gondii, biasa hidup dan berkembang biak di usus kucing, dan keluar melalui feses kucing.
- Penularan bisa lewat hewan dan makanan yang kurang matang.
- Dapat ditularkan oleh ibu yang terjangkit kepada bayi yang dikandung. Tak ada gejala spesifik yang terlihat.
- Bayi yang tertular otaknya akan mengkeret, sama seperti kasus terserang virus.
- Sejumlah kasus menyebabkan kematian bayi. Pada bayi lahir hidup, terjadi keterlambatan perkembangan motorik dibanding bayi lain seusianya. Misalnya, enam bulan bayi belum bisa tengkurap, atau setahun baru bisa duduk, padahal yang lain sudah bisa berdiri atau berjalan.
- Bila setelah pengecekan ternyata positif toksoplasma, dokter sudah tak bisa berbuat apa-apa.
- Dampak lanjutan, bayi akan berkembang menjadi debil, embisil, dan sejenisnya.
- Selain selama kehamilan, tes TORCH juga diperlukan bagi ibu untuk persiapan kehamilan berikutnya.
Dwi Wiyana
|
|