Ke Manakah Artis Intelektual Cina Kini? |
Natalia Soebagjo
Centre for Chinese Studies
Tidak ada seni yang semata seni—art for art's sake—terpisah atau lepas dari politik. (Mao Zedong)
DALAM sejarah kekaisaran Cina, para intelektual, para seniman, termasuk para visual artist, harus membayar mahal atas perbedaan sikapnya dengan para penguasa. Kemerdekaan intelektual mereka dibalas dengan pengucilan politik. Bila mereka menuntut otonomi moral yang lebih luas, harga yang harus dibayar akan semakin besar. Hal ini tidak mengherankan karena kaum literati pada masa itu adalah bagian dari birokrasi dan, karena itu, juga bagian dari elite penguasa.
Warisan sejarah ini telah turut menentukan peran kaum intelektual dalam masyarakat modern Cina. Di bawah kekuasaan Partai Komunis Cina (PKC), aparat negara mendominasi segala aspek kehidupan warganya melalui suatu jaringan kontrol organisatoris dan kampanye-kampanye thought reform secara berkala. Seni budaya dan kesusastraan Cina dijadikan alat PKC dan realisme sosial berkuasa selama tiga dasawarsa pertama RRC.
Dalam periode ini, kaum intelektual harus sekaligus kreatif dan produktif sambil terus menaati garis Partai. Untuk memungkinkan ini, kebijakan Partai terhadap kaum cerdik pandai mengayun dari represi pada satu sisi dan kelonggaran pada sisi lain. Tekanan kendali akan diterapkan sampai titik ketika kaum intelektual tampak tidak mampu berkreasi lagi, kemudian kontrol dilonggarkan kembali sampai titik ketika mereka menjadi terlalu kritis terhadap penguasa. Demikianlah pendulum mengayun dari satu ekstrem ke ekstrem lain dan arah ayunan dipengaruhi pula oleh dinamika dalam tubuh elite politik, bergantung pada pintar-pintarnya si cendekiawan menganalisis atau menerka arah angin.
Mao melonggarkan cengkeraman Partai atas kaum cendekia untuk pertama kalinya pada waktu Gerakan 100 Bunga (1956-1957). Ia mengira, setelah mengalami pendidikan politik yang demikian intensif pada awal 1950-an, kaum cendekia sudah tahu kedudukan mereka dan batasan ruang gerak mereka. Tapi, di luar dugaan, kaum intelektual justru mengkritik Partai dan menuntut kebebasan politik dan berpikir. Sejak saat itulah kecurigaan Mao terhadap kaum intelektual semakin mendalam, yang mencapai puncaknya dengan penganiayaan mereka selama 10 tahun Revolusi Budaya.
Ke-16 pelukis RRC yang karya-karyanya dipamerkan dalam From China with Art masih muda saat Revolusi Budaya berlangsung karena sebagian besar lahir pada awal atau pertengahan 1960-an. Yang tertua, Mao Xu hui, pada waktu Revolusi dimulai baru berusia 10 tahun. Karena itu, dapat diasumsikan bahwa ingatan mereka mengenai masa-masa sulit itu adalah melalui pengalaman orang tua mereka atau mungkin kakak-kakak mereka.
Setelah Revolusi Budaya selesai, Mao wafat, dan Empat Serangkai terguling, Deng Xiaoping mengambil sikap yang lebih toleran terhadap kaum intelektual, meskipun tetap saja utiliter. Deng melancarkan reformasi ekonomi dan kebijakan Pintu Terbuka yang memungkinkan interaksi dengan dunia Barat dan memperkaya perkembangan kesusastraan, seni budaya, musik, agama, dan budaya pop menjadi lebih variatif. Dalam seni budaya, sekelompok artis, pelukis, dan perupa bereksperimen dengan teknik dan medium baru, mengadakan pameran Bintang-Bintang. Waktu itu, November 1979, pameran tersebut dianggap sangat berani dan akhirnya dilarang oleh pemerintah.
Dengan gencarnya reformasi ekonomi, struktur sosial masyarakat turut berubah dengan lahirnya kelas nouveau riche, kebebasan elite intelektual, dan peningkatan harapan masyarakat pada umumnya. Tuntutan para mahasiswa dan buruh pada bulan Juni 1989 mencerminkan perubahan-perubahan ini, dari keluhan tentang tingkat inflasi yang terus melambung dan terjadinya korupsi di mana-mana sampai tuntutan hak-hak demokratis seperti pengakuan atas pembentukan organisasi-organisasi mahasiswa yang independen di kampus. Sayangnya, masa keterbukaan ini tidak berlangsung lama dan berakhir dengan kekerasan. Zhao Shaoruo, korban represi ini, ditahan selama 10 bulan karena dianggap telah menyebarluaskan propaganda antirevolusi. Apakah pengalaman ini yang mendorong dia untuk menertawai ikon-ikon politik lama, menghapus mereka dari lukisan-lukisan terkenal masa lalu?
Yang jelas, perekonomian Cina maju pesat. Di samping ruang gerak kaum intelektual semakin luas, komersialisasi budaya dan tuntutan pasar menimbulkan keraguan: bisakah para senirupawan di Cina tetap menciptakan karya-karya jujur menggambarkan realitas lingkungan dan eksistensi diri mereka yang semakin kompleks?
Jawabannya tersembunyi dalam lukisan ke-16 artis yang hingga kini masih berkarya dan tinggal di RRC. Mereka adalah hasil Cina baru yang menyambut abad ke-21 dengan penuh percaya diri, berperan di panggung internasional, berhasrat tinggi untuk belajar dari komunitas dunia, sekaligus ingin memperlihatkan perubahan dirinya. Memahami Cina dan dinamika perubahan pesat masyarakatnya bukanlah hal yang mudah, tapi kesenian adalah cermin kehidupan yang dilukiskan oleh karya-karya dalam From China with Art. Itulah kehidupan yang bersemangat, dinamis, dan dibubuhi rekoleksi masa lalu yang terkadang sedih, bahkan sinis, tapi juga dengan nada humor, tanpa ragu menghadapi masa depan dengan berani dan percaya diri. Inilah cermin Republik Rakyat Cina kini.
|