Perang dan Amarah Musikus |
Denny M.R.
Pengamat musik pop
Invasi Amerika ke Irak yang telah menelan korban penduduk sipil akhirnya membuat gerah kalangan musikus. Beberapa saat menjelang keberangkatan si "polisi dunia" ke Negeri 1001 Malam, trio rap beken Beastie Boys melancarkan protes lewat lagu In a World Gone Mad melalui situs resmi mereka, beastieboys.com. Liriknya secara gamblang menuding kebijakan Presiden George W. Bush sebagai tindakan munafik:
Mirrors, smoke screens, and lies
It's not the politicians but their actions that I despise
Well I'll be sleeping on your speeches 'til I start to snore
'Cause I won't carry guns for an oil war...
Selasa pekan lalu, diva pop asal Kanada, Celine Dion, mendadak membatalkan rencana 600 konsernya yang akan berlangsung hingga tahun 2006 di Hotel Caesar's Palace, Las Vegas. Ribuan calon penonton, termasuk para selebriti, kecewa berat. Tapi, melalui juru bicara Stephanie Schaffer, Celine Dion menyatakan kemustahilannya menyanyi di tengah dentuman bom. Sikap Beastie Boys dan Celine Dion itu kini ramai-ramai diikuti teman seprofesinya. Langkah ini tentu belum sefenomenal Bob Dylan, yang karena ketajaman lirik lagu-lagunya pernah menjadi ikon yang sangat ditakuti birokrat AS. Lagu Blowin' in the Wind yang dilantunkannya niscaya akan selalu diingat sebagai peringatan bagi siapa saja yang melakukan kesewenangan.
Perang, apa pun alasannya, telah lama mengusik naluri kemanusiaan para seniman musik. Kelompok U2, yang juga dikenal sebagai kelompok pejuang hak asasi manusia di samping Bob Dylan, Joan Baez, Sting, atau Peter Gabriel, secara khusus merilis album War. Guns N' Roses, yang pernah dijuluki grup rock and roll terpanas di muka bumi, menulis lagu Civil War. Sedangkan Rage Against the Machine menyodorkan War within a Breath. Jangan lupakan pula One-nya Metallica, yang telah menjadi himne para pencinta musik rock. Pada tahun 1988, raja musik speed metal itu secara ekstrem telah menjungkirbalikkan kaidah konvensional sebuah lagu dengan membuat intro berupa suara tembakan mitraliur, dentuman bom, suara ribut komando, dan deru helikopter. Lagu berirama dekresendo itu terdapat pada album … And Justice for All. Temanya menceritakan kebingungan seorang serdadu yang pergi ke medan perang tanpa mengetahui pasti untuk apa sebenarnya ia memuntahkan peluru, kecuali doktrin membela negara yang juga tak sepenuhnya ia pahami. Melalui vokal kasar, berangasan, serta distorsi gitar yang sanggup merobek gendang telinga, Metallica seperti ingin menumpahkan kejengkelannya atas pembunuhan sesama umat manusia yang tak pernah berkesudahan.
Bruce Springsteen, rocker yang dianggap sosok pahlawan oleh generasi muda Amerika, secara gamblang melukiskan mudaratnya perang dalam lagu War. Baginya, perang tidak membawa manfaat apa-apa kecuali menumpahkan air mata ribuan orang tua yang anaknya mati sia-sia. Dengarlah bagaimana ia memungkas protesnya dengan kalimat yang sangat menyentuh:
They say we must fight to keep our freedom
But Lord there's gotta be a better way that's better than war
Perasaan muak generasi muda AS terhadap perang pernah diwujudkan dalam bentuk perhelatan akbar Woodstock pada 1969, yang berlangsung dua hari dua malam. Ritual itu tercatat dengan tinta emas sejarah musik dunia sebagai protes sengit anak muda atas invasi AS ke Vietnam. Sayang, dalam penyelenggaraan berikutnya, Woodstock 1994, pihak panitia terjebak pada kepentingan bisnis semata. Woodstock 1999 bahkan berakhir dengan kerusuhan yang memakan korban jiwa. Kemurnian Woodstock 1969 yang telah melahirkan nama legendaris Jimmy Hendrix itu sepertinya kehilangan makna.
Pemusik lain yang dikenal gigih menentang perang tentu saja John Lennon. Selama bertahun-tahun tanpa mengenal lelah ia melancarkan protes dengan berbagai cara, mulai dari menciptakan hair piece sampai turun langsung ke jalan memimpin ribuan anak muda. Seruan damai kepada para penguasa dunia seperti tak pernah henti mewarnai kariernya selepas dari The Beatles. Akibatnya, permohonan untuk menjadi warga negara AS berkali-kali ditolak dan baru dikabulkan empat tahun kemudian. Tapi perlakuan diskriminatif tersebut tak berhasil menyurutkan semangat perjuangannya, sampai kemudian sebutir timah panas mengakhiri hidupnya pada 8 Desember 1980. Ia tewas sebelum keinginannya melihat dunia penuh kedamaian terwujud.
Kini Beastie Boys dan Celine Dion beserta pemusik lain kembali melakukan perlawanan. Tapi, seperti yang sudah-sudah, protes mereka dianggap Presiden George W. Bush tak lebih dari gonggongan anjing. Terbukti ia tetap memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Irak. Maka, korban pun berjatuhan. Kegelisahan seorang John Lennon seperti yang tergambar dalam lagu Imagine (1971) rasanya akan tetap relevan. Inilah mimpi anak manusia tentang dunia yang bersatu dalam damai, dan belum terjawab sampai hari ini.
You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
|