Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Kolom

Timur Tengah Pasca-Saddam

Riza Sihbudi
Peneliti utama P2P-LIPI, dosen Pascasarjana PKTTI-UI

JIKA perhitungan teoretis-matematis tidak meleset, runtuhnya rezim Saddam Hussein tak bisa dielakkan. Bagaimanapun, kekuatan militer AS-Inggris tak bisa dibandingkan dengan kekuatan militer Irak. Ini memang sebuah "perang" (baca: agresi) yang sangat tak adil dan tak berimbang. Betapa tidak, Irak pascaperang Kuwait 1991 secara ekonomi-politik-militer dihukum oleh PBB—atas pesanan AS—berupa embargo dan sanksi di hampir segala sektor kehidupan, kecuali untuk bahan makanan dan obat-obatan. Selain itu, senjata Irak dilucuti oleh PBB—lagi-lagi atas "order" AS.

Bahwa Saddam itu "monster" (dan bahkan "preman" karena gemar memeras emir kaya di sekitarnya) jelas sulit dibantah. Ia bahkan bukan sekadar "monster" bagi para tetangganya, melainkan juga bagi rakyatnya sendiri. Sulit dihitung berapa nyawa yang melayang akibat kekejaman mesin politik Saddam sejak ia berkuasa pada 1979. Namun mayoritas rakyat Irak—termasuk 60 persen warga Syiah yang selama ini terpinggirkan—jelas lebih membenci para agresor AS dan Inggris ketimbang Saddam. Karena itu, harapan AS dan Inggris bahwa para serdadu mereka akan disambut hangat warga Irak menjadi sia-sia belaka.

Di samping itu, di mana letak moralitas AS dan Inggris? Pada 1980-an, AS dan Inggris jelas ikut punya andil dalam membangun kekuatan militer Saddam. Entah berapa juta atau bahkan miliar dolar yang sudah dikantongi AS dan Inggris dari kocek rezim Saddam. Kemudian mereka memberikan dukungan penuh ketika Saddam "didorong" menyerbu Iran guna mencegah meluasnya revolusi Islamnya Imam Khomeini. Setelah sukses membendung pengaruh Khomeini (yang sangat ditakuti AS dan para sekutunya), justru Saddam sendirilah yang kini dihancurkan.

Dengan kata lain, Irak lebih dulu dilemahkan sebelum akhirnya diserang habis-habisan. Ibarat seorang anak manusia yang dirampok hartanya kemudian tak diberi makan berhari-hari lantas dipukuli bertubi-tubi. Hampir pasti daya tahannya akan sangat terbatas. Begitu pula dengan Irak di bawah Saddam. Sekalipun mampu menahan gempuran pasukan agresor AS dan Inggris, sangat sulit dibayangkan ia akan mampu menang perang.

Berakhirnya riwayat kekuasaan Saddam (jika ini terjadi) jelas akan membawa dampak sangat besar, baik dalam arti positif maupun negatif, bagi Timur Tengah. Positif jika, pertama, AS dan Inggris (juga PBB) mampu mendorong terbentuknya rezim baru yang demokratis di Irak. Ini sesuai dengan komitmen awal AS dan Inggris, yang selalu beretorika "akan membebaskan" rakyat Irak dari cengkeraman rezim yang otoriter dan menindas serta akan mengembalikan hak-hak rakyat Irak atas potensi kekayaan minyak negara mereka.

Kedua, begitu Saddam kalah, AS secepatnya memenuhi janjinya untuk mewujudkan terbentuknya Negara Palestina merdeka. Sumber dari segala sumber konflik akut di Timur Tengah adalah masalah Palestina. Dalam hal ini hak-hak sah bangsa Palestina untuk mendirikan dan memiliki sebuah negara yang merdeka dan berdaulat serta diakui dan dilindungi oleh lembaga-lembaga internasional. Dukungan AS bagi pembentukan Negara Palestina akan meminimalisasi sentimen anti-AS yang kini berkobar di sanubari mayoritas rakyat Arab, yang dengan sendirinya juga akan mengurangi berkembang-biaknya terorisme.

Ketiga, setelah terbentuknya pemerintahan yang demokratis di Irak dan berdirinya Negara Palestina merdeka, AS juga mendorong terjadinya proses demokratisasi di negara-negara Arab sekutunya. Ini diharapkan akan mencegah munculnya "monster-monster" baru di dunia Arab setelah berakhirnya era Saddam Hussein. Ini sekaligus juga dapat mengantarkan Timur Tengah memasuki era baru, yaitu sebagai zona perdamaian dan demokrasi.

Namun, jika ketiga hal itu tak dilakukan AS setelah berakhirnya kekuasaan Saddam di Irak, yang akan terjadi justru ketidakstabilan politik yang makin meningkat di kawasan ini. Apalagi jika AS hanya mementingkan ambisinya untuk menguasai minyak Irak dan negara Timur Tengah lainnya serta sekadar mengeliminasi ancaman militer terhadap Israel. Dengan kata lain, dampak yang ditimbulkannya justru akan menjadi sangat negatif.

Invasi ke Irak akan diikuti dengan invasi ke Iran, dengan alasan yang sama: menghancurkan senjata-senjata pemusnah massal. Indikasinya sudah terlihat jelas, yakni AS mulai mengusik program nuklir Iran. Bahkan Libya dan Arab Saudi dapat menjadi target berikutnya karena tujuan utamanya menguasai 80 persen cadangan minyak dunia. Sementara itu, masalah Palestina akan dilupakan karena Bush membutuhkan dukungan kalangan lobi Yahudi AS untuk dapat terpilih kembali pada 2004. Jika ini yang terjadi, hampir bisa dipastikan eskalasi kekerasan akan lebih mendominasi panggung politik Timur Tengah di masa depan.

Kita memang hanya bisa berharap Bush akan lebih mementingkan akal sehatnya dan tidak melawan kehendak masyarakat dunia untuk kedua kalinya. Semoga.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data