|
Mati-matian Menggenggam Bagdad
Tentara koalisi mengepung ibu negeri Irak. Saddam Hussein ganti menantang Amerika untuk berperang gerilya di kota. Bagaimana kans Saddam untuk bertahan? TEMPO melaporkan dari Bagdad.
|
|
Garda di Lorong-Lorong Bagdad
|
|
Pertalian Darah dan Ikatan Suku
Saddam Hussein menjaring orang-orang terdekatnya melalui "jalur suku dan kekerabatan". Dia mengontrol kesetiaan mereka dengan tangan besi dan uang.
|
|
Sekadar Menjadi Burung Nasar
Oposisi Irak di pengasingan cenderung menunggu pertempuran selesai. Tapi mereka juga tak satu suara.
|
|
Syekh Jawad Maliki (Partai Oposisi Irak): "Saddam Pasti Jatuh"
Oposan Saddam Hussein bertebaran di berbagai negara karena Saddam menjatuhkan hukuman mati bagi mereka. Salah satunya adalah Syekh Jawad Maliki, yang memimpin Partai Dakwah. Ikuti wawancara wartawan TEMPO dengan Jawad Maliki di Damaskus, Suriah.
|
|
Luka Bagdad, Luka Dunia
|
|
Tenda-Tenda Kosong di Ruweished
Hampir dua minggu invasi AS dan Inggris ke Irak berlangsung, tenda-tenda untuk para pengungsi di Ruweished masih melompong. Inilah laporan reporter TEMPO Zuhaid el-Qudsy sebelum dia memasuki Bagdad.
|
|
Nigeria, Pemicu Kenaikan Harga
Untuk pertama kali sejak invasi AS-Inggris ke Irak, harga minyak mentah dunia kembali menembus US$ 30 per barel. Perang antaretnis di Nigeria menjadi penyebabnya.
|
|
Berkaca pada Cermin Belah
Perang propaganda mewarnai agresi Amerika ke Irak. Media pun terbelah dalam dua kutub.
|
|
Dua Kali PBB Kalah
Korban sipil di Irak berjatuhan. Rakyat kurang pangan, obat-obatan, dan air bersih. Dewan Keamanan belum bergerak, malah saling lempar beban.
|