Amerika, Antara Benci dan Rindu |
Setujukah Anda bila Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat? (21 - 28 Maret 2003) | | Ya |  | | 51.9% | 1.645 | | Tidak |  | | 47% | 1.489 | | Tidak tahu |  | | 1.1% | 37 | | Total | 100% | 3.171 |
Suara Rizieq Shihab terdengar parau. Setengah berteriak, Ketua Front Pembela Islam (FPI) ini meminta agar Indonesia mendukung Irak secara kaffah. Caranya, menurut dia, pemerintah Indonesia segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, pemimpin ”koalisi agresor” yang menyerbu Irak. ”Kita harus bersikap lebih tegas,” kata Shihab.
Bagi Shihab, Indonesia tak cukup hanya mengutuk langkah Amerika cs. Sebagai negeri muslim terbesar di dunia, katanya, setiap langkah Indonesia akan menjadi acuan bagi dunia internasional. Shihab juga mengutip sebuah ayat Quran yang mendukung usulannya. ”Innama mukminuna ikhwah (sesama mukmin itu bersaudara),” ujarnya.
Tapi, banyak juga pendapat yang menentang usulan Shihab. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa, misalnya, menganggap usulan itu berlebihan. Sebagai diplomat karier, Marty paham betul posisi Amerika dalam konstelasi politik dan ekonomi global. Belum lagi soal ketergantungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada Amerika. Selama ini Amerika adalah pemasok terbesar persenjataan milik TNI. Karenanya, kata Marty, ”Dampak pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika terlalu besar.”
Pro dan kontra terhadap ide pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika memang panas. Para pengunjung situs www.tempointeraktif.com juga terbelah dua. Dari 3.171 responden yang mengikuti jajak pendapat ini, 1.645 responden (51,9 persen) mendukung ide pemutusan hubungan diplomatik. Bagi mereka, sikap arogan Amerika sudah keterlaluan. Apalagi perang Irak telah meminta ratusan korban dari kalangan sipil.
Tapi, ada 1.489 responden (47 persen) yang menolak pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika. Bagi mereka, Amerika merupakan negeri yang dibutuhkan bagi kepentingan nasional Indonesia. Tentu saja, bukan berarti mereka tak mengutuk serangan brutal Amerika ke Irak.
Indikator Pekan Ini:
Eksistensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) digugat. Penyerangan Amerika ke Irak membuat dunia mempertanyakan efektivitas lembaga dunia itu. Soalnya, serangan brutal tersebut berlangsung saat Tim Inspeksi Persenjataan PBB tengah memeriksa persenjataan Irak. Hasilnya, ”Belum ada bukti kuat Irak memiliki senjata pemusnah massal,” ujar Hans Blix, Ketua Tim Inspeksi PBB.
Akibatnya, dari dalam negeri muncul wacana agar Indonesia keluar dari PBB. Sebuah keinginan yang layak untuk dipertimbangkan secara jernih. Untuk menyalurkan pendapat Anda, ikuti jajak pendapat di situs www.tempointeraktif.com. ”Setujukah Anda bila Indonesia keluar dari PBB?”
|
|