Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Mata Kucing dari Angkasa

Kemenangan perang masa depan dimulai dari sesuatu yang tak terlihat tapi mengamati: satelit mata-mata.

Pusat komando itu selalu sibuk jika perang pecah, apalagi perang melibatkan Amerika seperti yang terjadi sejak dua pekan lalu. Dari markas besarnya di Kompleks Angkatan Udara Tampa, Florida, semua detail gerakan pasukan di Irak yang jauhnya 10 ribu kilometer dipantau. Salah satu departemen yang paling repot sejak jauh hari sebelum perang dimulai adalah bagian intelijen. Mereka harus menganalisis gambar-gambar yang diambil oleh satelit mata-mata yang melayang di atas langit Irak. Kalau salah menginterpretasi data, bisa jadi perang akan berakhir memalukan buat tentara koalisi.

Satelit sekarang menjadi andalan intelijen yang teraman, tercanggih, sekaligus paling mahal. Rupanya, buat Amerika, soal harga yang sekitar US$ 500 juta (Rp 4,5 triliun) per buah itu tak jadi masalah. Dari sekitar 600 satelit yang memenuhi angkasa, setengahnya adalah satelit mata-mata milik militer Amerika.

Dulu bisnis satelit komersial hampir saja ditinggalkan karena terus merugi. Pemakaian untuk komersial sangat kecil dan tak memberi keuntungan yang cukup untuk penyedia jasa satelitnya. Pihak militer yang jadi pelanggan utama sudah berpaling karena tingginya biaya penyewaan. Apalagi ketika Uni Soviet bubar pada 1990 dan Perang Dingin berakhir, seperti hari kiamat untuk satelit militer. Tapi rupanya penyebaran kekuatan angkatan perang memberikan berkah. Munculnya negara nuklir baru macam Cina, India, dan Korea Utara membuat Amerika atau Rusia harus tetap waspada karena terus merasa terancam. Maka satelit pun dilirik kembali untuk kepentingan militer.

Perusahaan penyedia jasa satelit seperti mendapat gairah hidupnya kembali. Sekali militer menyewa satelit, mereka dikenal rakus memakai bandwith (jalur pengiriman informasi) untuk memperkuat frekuensi komunikasi. Pemakaian seluruh bandwith pada serat optik di dunia bisnis, misalnya untuk televisi, navigasi, dan cuaca, seperti ditulis Businessweek, cuma 35 persen. Jatah militer lebih besar. Itu terjadi setelah serangan teroris ke Amerika pada 11 September, ketika negara adidaya itu memelototi sudut jagat raya dengan lebih awas. Mereka segera meneken kontrak dengan Iridium, perusahaan satelit yang hampir bangkrut, senilai US$ 252 juta dalam waktu tujuh tahun. Intelsat Ltd., yang mengoperasikan lebih dari 20 satelit di seluruh dunia, kebagian proyek senilai US$ 100 juta. Semuanya untuk meluncurkan satelit mata-mata.

Salah satu jenis satelit mata-mata yang penting untuk memantau gerakan pasukan adalah Global Positioning System (GPS), yang dipakai untuk menentukan koordinat lokasi dengan tepat di mana pun di muka bumi ini. Mulanya dibuat untuk kepentingan navigasi pelayaran komersial, sekarang GPS portabel ditenteng para petualang agar tak tersesat di gunung, dan oleh tentara untuk mempertinggi akurasi tembakan jarak jauh.

Di langit beredar 24 satelit GPS yang bisa diakses gratis bagi setiap pemilik peralatan penentu arah. Sisa gelombangnya adalah milik militer Amerika dan sekutunya. Rusia juga punya satelit serupa tapi jangkauannya terbatas. Begitu pula Uni Eropa, yang berencana meluncurkan satelit GPS Galileo, entah kenapa urung hingga hari ini. Yang paling bernafsu adalah Cina dengan empat satelitnya. Dengan bantuan GPS, serdadu boleh dibilang tak akan tersesat di belantara perang yang luas dan ganas macam gurun pasir Irak. Melenceng sedikit saja, segera bisa kembali ke jalur semula, karena alat itu juga mampu menyimpan arah gerakan sebelumnya.

Semua tank Amerika yang terjun perang di Teluk sudah dilengkapi antena penangkap sinyal GPS. Mereka dapat mengukur jarak musuh dan menembak dengan lebih tepat. Dalam Perang Teluk pertama, GPS sudah bisa dipakai menuntun bom ke sasaran dengan bantuan sinar laser. Rentang kesalahannya dianggap sangat kecil, yakni melenceng cuma 3 meter dari sasaran sebenarnya. Karena bom yang dituntun biasanya menghancurkan kawasan ratusan meter, kesalahan itu bisa ditoleransi. Tidak heran jika militer Amerika memberikan proyek senilai US$ 35 juta kepada perusahaan Lockheed Martin untuk memperbarui satelit GPS mereka yang saat ini beredar di ketinggian 18 ribu kilometer.

Satelit berikutnya yang berjasa besar adalah satelit komunikasi berpita lebar (broadband). Pita lebar dibutuhkan untuk mengirimkan data dengan cepat dan dalam jumlah yang amat besar, misalnya hasil rekaman kamera video atau sebuah film. Dalam perang kali ini militer Amerika memakai sedikitnya dua satelit komunikasi berpita lebar yang mampu mengirim data 50 megabit per detik, atau 100 kali lebih cepat daripada perangkat komputer pribadi yang paling cepat. Pada kecepatan itu gambar yang diterima seorang penembak meriam atau komandan tank hampir bersamaan dengan kejadiannya. Sejak setahun lalu Amerika memakai satelit Galaxy IIIC buatan Boeing, generasi ketujuh dari jenis Boeing 702. Satelit itu sudah menempati posisinya 35 ribu kilometer di atas permukaan bumi, yang beroperasi dengan tenaga matahari.

Jaringan televisi CNN beberapa kali menyiarkan denah kota Bagdad yang dipotret dari udara dan diakses melalui situs internet www.earthviewer.com. Mirip mata kucing yang bisa berkontraksi, kamera pada satelit itu bisa membidik dengan mengatur fokusnya. Gerakan kendaraan di jalan-jalan pun terlihat jelas, begitu pula kegiatan manusia.

Satelit Warfighter-1 buatan Orbital Sciences adalah salah satu yang mampu memotret sedetail itu meskipun dari jarak 320-650 kilometer. Dengan bergerak dalam lintasan yang teratur dan berulang-ulang di atas Irak, satelit itu memotret semua lokasi yang diinginkan militer kemudian mengirimkannya ke pusat komando. Dari foto udara itu dengan mudah dapat dibedakan antara barak tentara dan hotel atau rumah sakit. Oleh pusat komando, data itu dikirim ke pasukan di lapangan melalui satelit komunikasi macam Boeing 702. Citra yang dikirimnya, meskipun disebut real time, punya kelemahan tak bisa mendeteksi obyek yang bergerak terlalu cepat. Tapi, untuk keperluan pengumpulan informasi peta kota secara tiga dimensi, atau lokasi persenjataan musuh, satelit inilah ujung tombaknya. Untuk memindai lokasi pembuatan senjata kimia, Amerika memanfaatkan satelit cuaca seperti GOES, yang memancarkan warna-warna berbeda pada citranya. Perbedaan gelombang setiap benda dapat dipakai untuk menentukan mana bahan kimia dan biologi berbahaya.

I G.G. Maha Adi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data