Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Gaya Hidup

Arisan Keren, Jualan Pula

Ada tren baru, arisan di kafe atau coffee shop hotel berbintang lima. Arisan sekalian berdagang. Bahkan bisa meningkatkan karier.

BUKAN saja penuh sesak, suasana kafe Selebriti di lantai delapan Pasaraya Grande Blok M pekan lalu juga terlihat berantakan: di meja-mejanya bukannya bergeletakan gelas minuman atau aneka makanan, melainkan berbagai model sepatu, beragam tas, serta bermacam-macam baju dan aksesori. Beberapa calon pengunjung bingung. Sebuah bazar seolah sedang digelar. Bazar?

Tak persis begitu. Teriakan girang seorang perempuan—belakangan ketahuan bernama Lilis, 32 tahun—menunjukkan apa yang sebenarnya berlangsung di kafe milik bintang sinetron Venna Melinda di Jakarta Selatan itu: arisan. Bukan sembarang arisan, ini arisan kelas atas. Pesertanya perempuan dari berbagai kalangan profesi. Pemenangnya bisa pulang mengantongi uang puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, seperti Lilis, pemilik toko perhiasan di Jakarta Barat, itu. "Lumayan buat tambahan modal gue ke Singapura minggu depan," katanya.

Angka-angka berikut ini bisa menggambarkan seberapa tinggi "kelas" arisan itu. Menurut Susan Djohan, sang ketua arisan yang memiliki butik di Kebayoran, setoran yang mesti dibayar peserta bermacam-macam. Mereka bisa memilih dari Rp 500 ribu, Rp 1 juta, hingga Rp 5 juta. Dengan peserta sekitar 200 orang, silakan hitung berapa duit yang dikantongi jika seorang peserta menang. Memang tak semua anggota mengikuti satu jenis arisan. Biasanya mereka terpecah ke dalam kelompok dengan setoran Rp 1 juta atau Rp 5 juta atau jumlah lain yang masing-masing diurus oleh seorang bandar alias bendahara. "Tapi ada juga yang ikut dobel," ujar Susan.

Kegiatan arisan di kafe, restoran, atau hotel berbintang memang sedang menggejala di kalangan perempuan kelas menengah ke atas. Tidak selalu besar. Terkadang hanya di antara teman-teman kuliah dulu atau teman dekat. Hanya, tempatnya yang kini bergeser, tidak lagi di rumah, tapi misalnya di kafe Selebriti atau di coffee shop Hotel Gran Melia. Terkadang dibarengkan dengan acara seperti pembukaan kafe, peluncuran sebuah produk, atau pameran busana. Misalnya arisan yang dibarengkan dengan peragaan busana karya Ramli beberapa waktu lalu. Setelah peragaan selesai, arisan langsung dikocok.

Selain kelompok Susan, ada beberapa kelompok seperti kelompok teman artis Femmy Permatasari. Bersama teman-temannya, Femmy sering berkumpul di kafe untuk berarisan. "Biasanya teman-teman yang bisnis," ujar Femmy. Kelompok lain tapi kecil adalah Semakaria, yang berarti yang bersahabat dekat. Awalnya kelompok pimpinan Yolanda Sumarno, tokoh tenis Indonesia, ini mengocok arisan di rumah. "Baru belakangan pindah ke restoran-restoran," ujar Sylvia, yang baru saja mundur dari arisan Semakaria karena alasan sangat sibuk.

Sejarah arisan kelompok Susan bermula dari kebiasaan mereka untuk kongko-kongko dan ber-dugem (dunia gembira atau dunia gemerlap) di berbagai kafe sekitar tiga tahun lalu. Lama-lama mereka berpikir, daripada hanya mengobrol, mengapa tak melakukan arisan. Maka dimulailah arisan di kafe. Maksudnya agar tak ada yang repot menjadi tuan rumah. "Kalau di kafe atau supermarket, para peserta bisa bayar sendiri makanannya," ujar Susan. Selain itu, acaranya menjadi lebih santai. Gosip selebriti hingga politik dibahas tuntas di situ. Terkadang soal keluarga juga dibicarakan.

Dalam perkembangannya, para peserta mulai membawa barang dagangan. Jadilah arisan itu kian "aneh". "Kami menyebutnya arisan fitting room alias arisan kamar pas," Susan menjelaskan. Maksudnya, para peserta arisan bisa langsung mengepas segala dagangan yang ada. "Kalau merasa pas, langsung beli," Susan menambahkan. Mereka bahkan bisa sekalian mengepas dengan segala aksesorinya, termasuk gaun, sepatu, tas, dan perhiasan yang sesuai, yang digelar anggota lain. Harga barang-barang itu jauh lebih murah daripada harga di luar.

Ketahuan, arisan Susan tak hanya mengocok duit iuran yang terkumpul. Ada kegiatan sampingannya yang justru tak kalah menguntungkan—bisnis. "Gue ada rencana mau beli perhiasan di Singapura. Harganya cukup miring dan bisa dijual di arisan bulan depan," kata Lilis. Barang-barang bisnis itulah yang membuat meja yang mereka pakai begitu berantakan.

Di meja di depan Lilis berserak segala jenis berlian, sementara di meja lain Anisa membuka koper bawaannya dan mengeluarkan puluhan busana kasual dari bahan sutra yang dia bawa dari Hong Kong. Di sudut lain, Adrini, pemilik butik sepatu di kawasan Kemang, menjejerkan berbagai model sepatu produk lokal yang kualitasnya tak kalah dari sepatu impor seperti Hermes ataupun Rodo.

Kelompok Femmy melakukan hal yang sama. "Teman-teman sering membawa barang dagangannya," ujar Femmy.

Jadi, siapa pun yang datang, mereka tidak sekadar datang untuk arisan, tapi juga bersiap menggelar barang dagangan atau justru merogoh bekal uang dalam jumlah ekstra untuk belanja. Arisan sudah menjadi arena one stop shopping, dengan harga yang miring untuk berbagai barang. Tas bawaan Adrini, misalnya, bisa dibeli hanya dengan Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. "Padahal, kalau beli Rodo atau Hermes, bisa Rp 5 juta," ujar seorang peserta arisan. Mereka juga bisa mendapatkan baju sutra dari Hong Kong dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta. Padahal harga di luar jauh lebih mahal.

Ditambah anggota yang datang dari kalangan artis, misalnya Sylvana Herman, Paramitha Rusady, atau Rossa, status kelompok arisan jadi kian mentereng. Selain beranggotakan artis, ada kelompok yang beranggotakan pengusaha muda seperti Dina, yang baru membuka butik selop dan sepatu, atau Lilis, si pedagang berlian, atau Adrini, yang berjualan sepatu dan tas.

Namun alasan penting yang membuat orang berminat untuk bergabung bukanlah label anggota-anggota istimewa itu. Biasanya yang menjadi daya tarik adalah pengembangan usaha—ya, bisnis itu—dan karier. Seorang peserta arisan bercerita bagaimana dia membawa baju-baju yang dia beli sewaktu jalan-jalan ke Amerika. "Semuanya habis diborong saat arisan," ujarnya. Cerita Dina sama saja. Dia baru pulang dari Paris. Saat masih tinggal di ibu kota Prancis itu, dia telah mengikuti arisan serupa. Begitu pulang dan menemukan arisan sejenis, dia langsung bergabung. Alasannya untuk memasarkan jualannya.

Bagi artis, arisan itu juga tak kalah bermanfaatnya. Pengalaman Della M. Khomsan, misalnya. Baru dua bulan dia bergabung, karier penyanyi klub di Jakarta ini langsung menanjak. Seorang penyanyi kenamaan menawarinya menjadi penyanyi pengiring. Sylvana Herman, yang biasa dipanggil Ano, juga mendapat job dari arisan itu.

Manfaat lain, yang membuat orang luar ngiri, adalah terkumpulnya uang ratusan juta rupiah tanpa seseorang merasa harus menabung lama. Penyanyi Rossa mengakui hal ini. Jumlah uang yang gede itu memungkinkan orang yang menang arisan bisa langsung membeli mobil atau bahkan rumah.

Sangat menggiurkan. Peluang belanja, bisnis, pengembangan karier, serta uang tunai dalam jumlah besar terhampar saat berarisan. Kata kuncinya: arisan dan networking.

Purwani Diyah Prabandari, Hadriani Pudjiarti


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data