Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Film

Guncangan Pertama dari 'Chicago'

Film terbaik Academy Awards tahun ini diputar di Jakarta dan mengguncang mata. Kenapa film drama musikal ini mampu menyingkirkan film The Hours dan Gangs of New York?

CHICAGO
Pemain : Richard Gere, Renee Zellweger, Catherine Zeta-Jones, Queen Latifah
Sutradara : Rob Marshall
Skenario : Bill Condon
Musik : Bob Fosse, Fred Ebb
Produksi : Miramax

Cahaya berkilat! Sinar panggung menyengat! Razzle-dazzle 'em... dengan senyum, dengan nyanyian, dengan kebohongan dan kata-kata semanis gula. Berikan pertunjukan; berikan kemewahan dan lumuri warga kota ini dengan pertunjukan.

Inilah film musikal Chicago, yang merebut perhatian jutaan mata: dia berhasil meraih gelar Film Terbaik Academy Awards tahun ini! Bukankah itu kenyataan yang cukup sinting? Film karya Rob Marshall bisa mengalahkan film The Hours karya Stephen Daldry dan Gangs of New York karya sutradara besar Martin Scorsese? Apakah ribuan anggota Academy itu sudah juling?

Nanti dulu. Sabar.

Film ini memang bukan hanya hiburan biasa. Film ini memang sebuah dinamit! Diangkat dari karya drama musikal Broadway, Bob Fosse, film ini mungkin salah satu drama musikal paling berhasil yang pernah diangkat ke layar lebar. Dengan latar belakang Chicago tahun 1920-an, sutradara Marshall—seorang veteran dalam pertunjukan Broadway yang menggebrak dengan debutnya dalam layar lebar—meramu konsep panggung dengan sinema dengan cara yang luar biasa lezat.

Syahdan, Roxie Hart (Renee Zellweger) bermimpi menjadi bintang panggung musikal seperti idolanya, Velma Kelly (Catherine Zeta-Jones). Dengan tidur bersama seorang penipu bernama Fred Casely—yang mengaku bisa membawa Roxie ke panggung—Roxie mengira dia akan segera menjadi primadona. Setelah mengetahui Casely hanya seorang begundal yang berminat menidurinya, Roxie menembaknya hingga mampus. Di penjara, dia bertemu dengan Velma Kelly—yang juga baru saja menembak suami dan adik perempuannya yang berselingkuh—serta lima perempuan lainnya yang dipenjara akibat melakukan hal yang sama.

Maka, masuklah sosok Billy Flynn (Richard Gere), pengacara flamboyan yang ahli memanipulasi media dan masyarakat agar hukum bisa menjadi bengkok dan "tak pernah kalah dalam kasus apa pun". Flynn, sebagai pengacara Roxie dan Velma Kelly, kemudian secara bergantian membuat para nona jelita ini menjadi santapan media hingga kasus-kasusnya selalu menang dalam pengadilan.

Yang membuat film bak dinamit yang meledak dan menggebrak adalah konsep panggung dan sinema yang dieksploitasi habis-habisan oleh Marshall: tumpang-tindih, silang-menyilang, riuh-rendah bersusul-susulan. Seluruh adegan panggung adalah imajinasi Roxie tentang dirinya dan orang-orang di penjara. Adegan realitas dan adegan panggung saling silih berganti hingga filsafat kalimat "dunia adalah panggung sandiwara" sungguh menjadi inti seluruh cerita. Adegan yang paling orisinal dan meledak adalah adegan Billy Flynn dan Roxie Hart bergerak bak dalam sandiwara boneka, yang ingin memperlihatkan bagaimana tabloid hiburan mudah sekali dimanipulasi oleh sensasi. Lalu, adegan eksekusi hukum gantung salah satu narapidana dari Hungaria yang dikawinkan dengan adegan balet? Tahan napas Anda!

Yang lebih menarik lagi, ketiga aktor utama—Renee Zellweger, Catherine Zeta-Jones, dan Richard Gere—menyanyi bak penyanyi profesional. Mereka bersuara emas; mereka menyapu panggung (lihatlah bagaimana Gere dengan lincah menari tap dance), dan mereka semua terlihat begitu seksi, bersinar, dan menggairahkan! Dinamit!

Setiap adegan, setiap lagu, setiap lirik diperhitungkan dengan seksama dan rapi hingga akhir film. Lalu, apa yang kemudian kita dapatkan selain rasa kagum dan terhibur? Saya terdiam. Tidak ada. Hanya rasa kagum (karena visualisasi dan konsep panggung yang menggedor mata) dan terhibur (karena pembunuhan dan percintaan akhirnya tak kentara bedanya).

Ada satu hal besar yang tidak saya temukan dalam film ini: tak ada satu detik, satu notasi lagu pun yang kemudian mampu menyentuh. Bahkan adegan kematian atau pembunuhan itu tampak begitu mewah; adegan kekejaman Roxie terhadap suaminya yang lugu dan setia itu pun tak menimbulkan rasa iba. Semuanya dilakukan dengan gaya enteng dan happy-go-lucky, karena seluruh ritme film ini adalah ritme merry-go-round: berputar dengan riang gembira.

Karena itu, film Chicago dengan segala kekayaan yang disajikan itu memang berhasil menaklukkan mata kita; menumbuhkan gairah kita untuk menikmati hiburan. Tetapi film ini tidak berhasil menyentuh hati.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data