Guncangan Pertama dari 'Chicago' Film terbaik Academy Awards tahun ini diputar di Jakarta dan mengguncang mata. Kenapa film drama musikal ini mampu menyingkirkan film The Hours dan Gangs of New York? |
CHICAGO
Pemain : Richard Gere, Renee Zellweger, Catherine Zeta-Jones, Queen Latifah
Sutradara : Rob Marshall
Skenario : Bill Condon
Musik : Bob Fosse, Fred Ebb
Produksi : Miramax
Cahaya berkilat! Sinar panggung menyengat! Razzle-dazzle 'em... dengan senyum, dengan nyanyian, dengan kebohongan dan kata-kata semanis gula. Berikan pertunjukan; berikan kemewahan dan lumuri warga kota ini dengan pertunjukan.
Inilah film musikal Chicago, yang merebut perhatian jutaan mata: dia berhasil meraih gelar Film Terbaik Academy Awards tahun ini! Bukankah itu kenyataan yang cukup sinting? Film karya Rob Marshall bisa mengalahkan film The Hours karya Stephen Daldry dan Gangs of New York karya sutradara besar Martin Scorsese? Apakah ribuan anggota Academy itu sudah juling?
Nanti dulu. Sabar.
Film ini memang bukan hanya hiburan biasa. Film ini memang sebuah dinamit! Diangkat dari karya drama musikal Broadway, Bob Fosse, film ini mungkin salah satu drama musikal paling berhasil yang pernah diangkat ke layar lebar. Dengan latar belakang Chicago tahun 1920-an, sutradara Marshallseorang veteran dalam pertunjukan Broadway yang menggebrak dengan debutnya dalam layar lebarmeramu konsep panggung dengan sinema dengan cara yang luar biasa lezat.
Syahdan, Roxie Hart (Renee Zellweger) bermimpi menjadi bintang panggung musikal seperti idolanya, Velma Kelly (Catherine Zeta-Jones). Dengan tidur bersama seorang penipu bernama Fred Caselyyang mengaku bisa membawa Roxie ke panggungRoxie mengira dia akan segera menjadi primadona. Setelah mengetahui Casely hanya seorang begundal yang berminat menidurinya, Roxie menembaknya hingga mampus. Di penjara, dia bertemu dengan Velma Kellyyang juga baru saja menembak suami dan adik perempuannya yang berselingkuhserta lima perempuan lainnya yang dipenjara akibat melakukan hal yang sama.
Maka, masuklah sosok Billy Flynn (Richard Gere), pengacara flamboyan yang ahli memanipulasi media dan masyarakat agar hukum bisa menjadi bengkok dan "tak pernah kalah dalam kasus apa pun". Flynn, sebagai pengacara Roxie dan Velma Kelly, kemudian secara bergantian membuat para nona jelita ini menjadi santapan media hingga kasus-kasusnya selalu menang dalam pengadilan.
Yang membuat film bak dinamit yang meledak dan menggebrak adalah konsep panggung dan sinema yang dieksploitasi habis-habisan oleh Marshall: tumpang-tindih, silang-menyilang, riuh-rendah bersusul-susulan. Seluruh adegan panggung adalah imajinasi Roxie tentang dirinya dan orang-orang di penjara. Adegan realitas dan adegan panggung saling silih berganti hingga filsafat kalimat "dunia adalah panggung sandiwara" sungguh menjadi inti seluruh cerita. Adegan yang paling orisinal dan meledak adalah adegan Billy Flynn dan Roxie Hart bergerak bak dalam sandiwara boneka, yang ingin memperlihatkan bagaimana tabloid hiburan mudah sekali dimanipulasi oleh sensasi. Lalu, adegan eksekusi hukum gantung salah satu narapidana dari Hungaria yang dikawinkan dengan adegan balet? Tahan napas Anda!
Yang lebih menarik lagi, ketiga aktor utamaRenee Zellweger, Catherine Zeta-Jones, dan Richard Geremenyanyi bak penyanyi profesional. Mereka bersuara emas; mereka menyapu panggung (lihatlah bagaimana Gere dengan lincah menari tap dance), dan mereka semua terlihat begitu seksi, bersinar, dan menggairahkan! Dinamit!
Setiap adegan, setiap lagu, setiap lirik diperhitungkan dengan seksama dan rapi hingga akhir film. Lalu, apa yang kemudian kita dapatkan selain rasa kagum dan terhibur? Saya terdiam. Tidak ada. Hanya rasa kagum (karena visualisasi dan konsep panggung yang menggedor mata) dan terhibur (karena pembunuhan dan percintaan akhirnya tak kentara bedanya).
Ada satu hal besar yang tidak saya temukan dalam film ini: tak ada satu detik, satu notasi lagu pun yang kemudian mampu menyentuh. Bahkan adegan kematian atau pembunuhan itu tampak begitu mewah; adegan kekejaman Roxie terhadap suaminya yang lugu dan setia itu pun tak menimbulkan rasa iba. Semuanya dilakukan dengan gaya enteng dan happy-go-lucky, karena seluruh ritme film ini adalah ritme merry-go-round: berputar dengan riang gembira.
Karena itu, film Chicago dengan segala kekayaan yang disajikan itu memang berhasil menaklukkan mata kita; menumbuhkan gairah kita untuk menikmati hiburan. Tetapi film ini tidak berhasil menyentuh hati.
Leila S. Chudori
|