Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Balik Modalnya Lebih Cepat

Pertarungan seru tak cuma terjadi antara Carrefour dan Hero di kelas hipermarket. Di kelas minimarket, balapan tak kalah serunya. Sementara ini, yang berlaga adalah Indomaret dan Alfamart. Keduanya terus membuka toko baru dan jumlahnya sudah ratusan. Tapi Hero dan Goro Batara Sakti tak mau ketinggalan. Hero kini sedang menggenjot perluasan jaringan Starmart, sementara Goro tengah menguji coba Gosmart.

Direktur Operasional Indomaret, Laurensius Tirta Widjaja, mengungkapkan bahwa perusahaannya sudah memiliki 707 toko, 260 di antaranya dibangun berdasarkan kerja sama bagi hasil (waralaba). Alfamart menyusul dengan 350 gerai—20 toko di antaranya menggunakan sistem waralaba. "Tahun ini kami akan meningkatkannya menjadi 600 gerai," kata Managing Director PT Sumber Alfaria Trijaya, Pudjianto. Bandingkan dengan Starmart, yang memiliki 35 outlet, sementara Gosmart baru mencatat sembilan gerai.

Perkembangan toko mini memang mencengangkan. Di tengah gempuran Carrefour, toko kecil ini bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kuncinya memang waralaba. Sistem inilah yang memacu pertumbuhan toko-toko baru, terutama di kawasan permukiman. Mereka yang punya duit Rp 150 juta bisa memiliki toko Alfamart atau Rp 250 juta untuk Indomaret. Setelah operasional, jaringan toko mini ini akan menerima franchise fee Rp 45 juta (Alfamart) dan Rp 75 juta (Indomaret) untuk lima tahun. Selain itu, masih ada pembagian keuntungan yang besarnya berdasarkan omzet.

Dengan pola seperti itu, Indomaret dan Alfamart bisa mengirit biaya investasi, sedangkan ekspansi jaringannya jalan terus. Terbukti, cara itu ampuh untuk mempercepat penambahan jumlah gerai (outlet). Jumlah toko Indomaret berlipat dua dalam empat tahun. Alfamart lebih cepat lagi, berlipat dua selama kurang dari dua tahun. Menurut Laurensius, peluang penambahan toko mini masih terbuka lebar. "Saat ini sudah ada 45 investor yang ingin bergabung dengan Indomaret," katanya. Dia melihat peluang cukup besar juga ada di luar Jawa.

Harus diakui, bisnis toko kecil memang gurih. Menurut Senior Manager Franchise & Business Development Indomaret, Markus Hendarto, omzet per toko Indomaret terus meningkat dan kini rata-rata mendekati Rp 8 juta per hari. Kalau Markus benar, omzet Indomaret per tahun bisa mencapai Rp 2 triliun atau sedikit di bawah Hero. Jelas bukan angka yang kecil. Tak mengherankan jika modal bisa balik dengan cepat. Menurut Pudjianto, rata-rata masa balik modal (break even point) toko kecil lebih cepat ketimbang yang besar-besar. Dia mencontohkan pemilik toko Alfamart yang sudah balik modal dalam empat tahun. Bandingkan dengan Carrefour, yang belum balik modal juga, meski sudah beroperasi lima tahun.

MT, Dede Aribowo, Ucok Ritonga (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data