Produksi Gas Bontang Menurun |
Gas alam cair (biasa disingkat LNG—dari liquid natural gas) hingga kini masih menjadi primadona penghasil devisa bagi Indonesia. Selama lima tahun, dari 1997 sampai 2002, PT Badak Natural Gas Liquefaction (NGL), yang mengoperasikan salah satu kilang LNG di Indonesia, telah menyumbang kas negara lebih dari US$ 51 miliar. Rekor ini diungkapkan oleh Direktur Pengembangan Proyek Gas Matindok Pertamina, Burhanuddin Hassan, Kamis pekan lalu, pada saat pengapalan gas ke Jepang yang ke-5.000 kali dari Bontang, Kalimantan Timur.
Burhanuddin optimistis, pasar gas alam cair yang dirintis Indonesia akan semakin berkembang. ”Selain Arun dan Bontang, Indonesia juga memiliki ladang gas Tangguh dan Donggi, yang sangat potensial di masa depan,” ujarnya. Saat ini Indonesia merupakan negara produsen terbesar LNG di dunia. Total ekspor gas alam cair setiap tahun ke Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mencapai 40 juta ton. Hingga saat ini, Indonesia memiliki dua kilang pengolahan gas di Bontang dan Arun, Aceh.
Pejabat General Manager PT Badak NGL, Nurjahjono, mengakui bahwa produksi LNG di kilang Badak mengalami penurunan sejak tahun 2002. Hal itu antara lain disebabkan oleh adanya kerusakan pipa dan terbakarnya anjungan lepas pantai milik Total FinaElf. Untuk tahun ini, diperkirakan kilang Badak hanya mampu memproduksi gas sebanyak 361 kargo. Memang ada penurunan, seperti diakui Nurjahjono, tapi jumlahnya, ”Hanya lima kargo dibandingkan total produksi tahun 2002 sebanyak 366 kargo.”
|