|
Gonjang-ganjing perang Amerika Serikat lawan Irak membuat Pertamina melirik mata uang euro. Direktur Hilir Pertamina, Muchsin Bahar, menyatakan akan memakai mata uang itu dalam transaksi penjualan minyak dan gas ke luar negeri. ”Tim kita sedang mengevaluasi kemungkinan itu,” ujarnya Kamis silam di Jakarta. Menurut dia, akibat ambisi AS menjatuhkan Bagdad secara militer, anak perusahaan Pertamina di Singapura, Petral Trading Company, sulit bertransaksi dengan mitranya dari Timur Tengah. Rata-rata rekanan dagang dari negeri Arab menolak menggunakan dolar AS. ”Karena itu, kita pikirkan penggunaan mata uang euro,” ujarnya.
Euro memang sedang naik daun, setelah Presiden Saddam Hussein memutuskan untuk melakukan seluruh transaksi minyak dengan euro, bukan dolar AS. Waktu itu, keputusan Saddam dianggap sangat politis, tapi beberapa negara lain, termasuk Iran, mengikuti langkah Saddam tersebut. Kini, setelah serbuan tentara koalisi AS dan Inggris ke Irak, nilai mata uang dolar terus terkikis, antara lain karena para investor merasa pesimistis terhadap krisis Irak dan perekonomian AS. Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin mengatakan, tidak tertutup kemungkinan dolar AS akan tergeser oleh euro. ”Kita masih lihat prospek euro ke depan,” katanya.
|