Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Buku

Antara Edward dan Said

Kisah keterasingan sosok pemikir yang terjepit di antara dominasi orang tua dan gairah bebas, antara identitas Arab dan Amerika.

Out of Place
Penulis : Edward W. Said
Penerbit : Jendela
Cet. Pertama : 2002

Out of Place adalah sebuah jendela tempat kita dapat mengintip relung terdalam dari sisi kehidupan Edward W. Said, intelektual brilian yang kelak melahirkan sebuah buku fenomenal berjudul Orientalism. Sebuah cermin seputar pergulatan melawan keterasingan pada diri sendiri dan lingkungan. Juga sebuah pengembaraan trans-kultural, yang memaksa seorang pemuda belia berdiri di satu garis, tanpa harus menanggalkan pijakannya pada garis yang lainnya.

Said kecil tumbuh di antara cinta ibunya yang dominan dan disiplin keras yang ditegakkan ayahnya. Kelak, Said menyadari bahwa semua itu, selain memberi efek dan cermin positif bagi dirinya, juga menghambatnya bergerak maju ke depan. Dari kondisi ini, berkembanglah satu pribadi yang mendamba kebebasan, sekaligus tak ingin lepas dari dua orang yang begitu menguasainya.

Said berjalan dari satu keterasingan ke keterasingan lain, dari keterasingan individu ke keterasingan rasial, sosio-kultural. Ia produk Amerika yang diskriminatif. Kata Arab yang disematkan pada dirinya adalah ejekan yang perlahan menenggelamkan "Said" dalam sosok lemah "Edward", hasil ciptaan Amerika-nya. Dan ini satu dari sekian banyak ironi yang akan kita temui dalam memoar ini. "Sensasi yang saya rasakan adalah identitas yang membingungkan sebagai warga Amerika yang menjadi tempat pelarian identitas Arab yang tidak melemahkan diri, dan hanya memberikan rasa malu dan ketidaknyamanan," ia mengenang. Ia selalu disibukkan dengan usaha keras untuk pandai-pandai "menari" di antara kedua nama tersebut, pada saat yang tepat.

Perjuangan keras untuk menyingkap jatidiri yang sebenarnya inilah yang tertuang secara jujur dan polos dalam buku ini. Sosok yang bukan hasil ciptaan ayah dan ibunya, bukan pula identitas ke-Arab-annya, dan tidak pula hasil "rekayasa" dunia Amerika-nya. Itulah Edward Said yang sebenarnya, lahir dari dirinya sendiri, dan tumbuh dari benih yang tertanam di kedalaman relung hati dan jiwanya. Yaitu "Edward" ataupun "Said" yang berhasil mengatasi keterasingannya.

Muhammad Ja'fa
peresensi adalah peminat studi filsafat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data