Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Buku

Biografi Politik Komnas HAM

Perjalanan sebuah lembaga pemantau HAM yang kehilangan reputasi setelah jatuhnya rezim Soeharto.

Komnas HAM 1998-2001: Pergulatan dalam Transisi Politik
Penulis : Cornelis Lay, Pratikno, dkk.
Penerbit : Fisipol UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, 2002

Awalnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) muncul di Indonesia dari gagasan para tokoh kritis dalam masyarakat mengenai substansi HAM. Awalnya, sebagai institusi korporatisme negara, ia dipandang tidak akan pernah melangkah lebih jauh, kecuali melayani dan mengukuhkan kepentingan rezim politik waktu itu. Tetapi kemudian terbukti, Komnas HAM cepat menjadi tumpuan harapan masyarakat yang melampaui batas-batas rumusan fungsinya sebagai institusi sampiran negara.

Lima tahun pertama, banyak kalangan mengacungkan jempol. Sebuah lembaga yang state-centered ternyata bisa bekerja dengan nalar civil society. Buku ini melihat dua pangkal keberhasilan Komnas HAM saat itu. Pertama, kapasitas dan reputasi individu anggota yang dapat dikonversi oleh kepemimpinan yang kuat dan efektif. Kedua, kebutuhan negara untuk mendapatkan kembali basis legitimasi politik. Desakan dunia internasional memaksa pemerintah Indonesia di bawah Soeharto (1993-1998) membentuk Komnas HAM dan menegakkan hak-hak asasi manusia.

Namun, semua keberhasilan prestasi lima tahun awal tersebut "tak ada artinya lagi" ketika ruang kebebasan berekspresi terbuka lebar sejak 1998. Sejak Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, praktis Komnas HAM dan isu-isunya menjadi titik kecil di antara berbagai lembaga dan isu-isu lain yang sama-sama mencari hati publik.

Buku ini menyayangkan, perubahan-perubahan besar itu tak diikuti perubahan sebanding dalam tubuh Komnas HAM. Kelincahan dan kelenturannya dalam merespons dan menyiasati iklim kini sulit ditemukan, dan Komnas HAM tampak tergagap. Struktur dan kultur lama dipertahankan, sulit mengikuti arus zaman yang mengalir deras. Lebih jauh, Komnas HAM mengarungi samudra politik Indonesia yang sulit ditebak ujung-pangkalnya. Ketidakpastian ending dalam sebuah proses politik menjadi problem tersendiri dalam perjalanannya selama 1998-2001 yang penuh isu sehingga berimbas negatif pada Komnas HAM.

Kholilul Rohman Ahmad,
Pustakawan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data