Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXII/31 Maret - 06 April 2003
   
Buku

Seorang Bocah dan Para Negarawan

Buku tentang para pendiri negara ini di Banda Neira. Hatta berenang dengan sepatu tenis, Dr. Tjipto selalu berbau tembakau, dan Sjahrir hidup bak seorang seniman.

Bersama Hatta, Sjahrir, Dr. Tjipto & Iwa K. Soemantri di Banda Naira
Penulis : Des Alwi
Penerbit : Dian Rakyat, Jakarta, 2002

Om Kaca Mata selalu bangun pagi sekitar pukul 06.00…. Saya senang sekali menyaksikan Om Kaca Mata ketika sedang bercukur. Ia kelihatan berbeda sekali tanpa kacamatanya yang tebal itu dan dengan wajah yang penuh buih sabun…. Setelah sarapan Om Kaca Mata langsung masuk ke kamar kerjanya untuk membaca atau menulis… dan sehabis makan malam dan kembali ke kamar kerjanya. Baru pada tengah malam Om Kaca Mata pergi tidur."

Mohammad Hatta dan buih sabun bukan dua hal yang biasa diletakkan dalam satu rangkaian kisah. Tapi cerita tentang seorang tokoh yang terekam di dalam memori seorang anak berusia sembilan tahun acap kali mengejutkan. Des Alwi, anak kecil itu, tak menangkap gambaran besar mengenai empat pendiri Negara Indonesia—Hatta, Sjahrir, Dr. Tjipto, dan Iwa K. Soemantri—di masa pengasingan di Banda Neira, pada 1930-an. Sejarah memang mencatat, Mohammad Hatta sibuk menulis draf lima bukunya di Banda Neira yang diterbitkan setelah kemerdekaan Indonesia. Namun si kecil Des Alwi merekam satu pemandangan di luar ingar-bingar sejarah, tapi membekaskan kesan itu.

Hatta yang santun itu, demikian Des Alwi dalam bukunya yang berjudul Bersama Hatta, Sjahrir, Dr. Tjipto & Iwa K. Soemantri di Banda Naira, bukan sosok favorit bagi anak-anak Banda waktu itu. Jelas, Hatta yang selalu dijumpai sedang membaca dan menulis itu kalah populer dibandingkan dengan Sjahrir, Om Rir, yang sering memasang musik karya Chopin, Brahms, dan Mozart atau iringan jazz dari Benny Goodman, Joe Loss, dan Artie Shaw pada gramofonnya. Dengan Om Rir yang lebih muda dan tak punya jadwal kerja yang teratur itu, anak-anak sering pergi berenang di laut, berlayar, memancing, atau piknik. Tapi bukan itu yang membentangkan jarak antara Hatta dan si kecil Des Alwi. Ia mendengar Hatta suka mengumpat, memanggilnya "yaki", yang artinya sama dengan monyet kecil. Des Alwi tahu betul bahwa umpatan itu ditujukan kepadanya karena si Om Kaca Mata, Hatta, sering memergokinya nangkring di atas pohon buah-buahan.

Di usianya yang belia, penulis menaruh hormat pada sosok yang akan menjadi wakil presiden yang pertama itu. Tapi, melihat gaya dan penampilan Hatta, ia tak sanggup menyembunyikan tawa. Penulis ingat kostum renang Om Kaca Mata yang agak aneh: celana sebatas lutut dan sepasang sepatu tenis. "Untuk menarik perhatian ikan hiu," ucap Hatta saat itu. Tapi Des Alwi percaya, itulah dalih untuk melindungi kakinya agar tak tergores karang atau digigit kepiting.

Buku kecil ini mungkin ditulis dengan niat ingin berbagi. Tapi ini buku yang langka. Kisah-kisahnya diceritakan tanpa terlalu banyak menyinggung setting sejarah, tapi cukup bisa diandalkan untuk menjadi referensi penulisan biografi. Des Alwi bercerita tentang Hatta yang hidupnya teratur. Tiap-tiap pukul 17.00 dilepaskannya rutinitas membaca-menulis, dan ia berjalan-jalan—suatu kegiatan yang ternyata klop dengan penuturan sang proklamator dalam buku memoarnya yang diterbitkan pada 1980: "….Dari jam 8 hingga 12 aku belajar, dari jam 12-jam 1 mengambil air sembahyang dan sembahyang zohor. Dari jam 1 hingga jam 2 kami makan tengah hari. Dari jam 2 hingga 4.30 aku beristirahat. Dari jam 4.30 hingga 5.30 aku berjalan-jalan melewati kebun pala ke jurusan utara…."

Dalam refleksinya, Des Alwi menyebut bahwa perkenalannya dengan Sjahrir dan Hatta merupakan peristiwa yang sangat berarti baginya. Itulah pertemuan yang membawanya ke suatu "pencerahan" yang dialaminya saat ia berusia 12 tahun. Di saat ia duduk di kelas lima sekolah dasar, ia memahami arti keberadaan pemerintah kolonial Belanda—walau tidak menangkap mengapa kedua tokoh itu diasingkan ke Banda Neira.

Buku ini tak cuma tentang Sjahrir dan Hatta. Di kampung halamannya, ia bertemu dengan Dr. Tjipto, pria yang digambarkannya selalu berpakaian piama, sekalipun saat menemui tamu di rumahnya. Ia amat baik, tapi mengharuskan Des mengucap salam sebelum masuk ke rumahnya. Yang tak disukai oleh penulis tentang pendiri Indische Partij ini adalah tubuhnya yang selalu bau tembakau.

Buku Bersama Hatta, Sjahrir, Dr. Tjipto & Iwa K. Soemantri di Banda Naira tak cuma menunjukkan sukses Des Alwi menundukkan kepikunan di usianya yang sudah memasuki kepala tujuh itu. Penulis menyodorkan pola penulisan biografi sejarah melalui suatu kesaksian seorang bocah.

Ignatius Haryanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data