Berdikari Cara Kuba Kenyang ideologi tapi perut lapar, warga Kuba bermimpi pergi dari negerinya. Mari becermin. |
PERAHU migran Kuba itu pecah sebelum mencapai Pantai Miami, dan menyisakan Elian Gonzales. Elian, 6 tahun, pun kehilangan ibu dan harapan hidup lebih baik di negeri lebih makmur. Setelah diperebutkan antara kerabat ibunya di Florida dan ayahnya di Kuba, drama kemanusiaan berbaur pertarungan politik antarnegara itu berakhir dengan penyerbuan kontroversial pasukan elite AS. Diiringi ratapan kerabat ibunya, bocah tampan itu dideportasi ke ayahnya di Havana.
Ada puluhan ribu "Elian" lain yang gagal mendarat di Amerika, karena kapal tenggelam, tertangkap dan dipulangkan, atau ditampung di kamp pengungsian. Di bawah rezim Fidel Castro, ratusan ribu kelas menengah dan terpelajar Kuba kabur memburu kehidupan lebih baik.
Meski kinerja ekonominya relatif lebih baik dibanding Cile, Meksiko, dan Kosta Rika, Kuba mengidap banyak masalah sosial-ekonomi. Diktator Fulgencio Batista mewariskan laju pertumbuhan ekonomi lambat, pengangguran, dan kesenjangan distribusi pendapatan sangat tajam—yang berlanjut hingga 30 tahun (1959-1989) masa kekuasaan Castro.
Selama itu, pembangunan ekonomi Kuba ditopang penuh bantuan dan subsidi Uni Soviet plus kemudahan berdagang dengan blok komunis. Dengan runtuhnya Soviet, 1990, Kuba bagai dimundurkan ke era 1950-an. Bantuan luar negeri sirna, 80 persen ekspor ke blok sosialis menyusut. Produk domestik bruto turun hingga 35 persen, dan peso jatuh sampai 180 per dolar AS.
Sampai 1993, aktivitas ekonomi yang nyaris macet total memaksa Castro mereformasi. Toh sulit terbebas dari keperluan penegakan ideologi demi langgengnya kekuasaan dan kroniisme. Alih-alih meneladani Cina, yang sukses berekonomi pasar, Castro justru meniru restrukturisasi ala Soviet (Perestroika).
Maka, bahan bakar pun langka dan mahal. Angkutan umum balik ke sepeda, traktor berganti bajak ditarik ternak. Pembangkit berenergi matahari, angin, dan biomas dibangun, tapi listrik tetap "byar-pet". Pengadaan perumahan nyaris langka, bahkan yang bertipe RSSSSSS….
Gaji pegawai negeri yang amat kecil mendorong para profesional (dokter, guru, dll.) nyambi sebagai sopir atau pemandu wisata, bahkan mucikari. Pegawai perusahaan asing yang bergaji dolar harus mengkonversinya ke peso lewat badan pemerintah.
Pajak tinggi karena negara butuh dana besar untuk, misalnya, mempertahankan pendidikan dan kesehatan gratis—dua program kebanggaan Castro. Namun percuma, kata pengecam, karena kurikulumnya penuh indoktrinasi ideologis.
Biaya izin buka usaha sangat mahal, potongan pajak hampir separuh keuntungan. Memang tiada larangan individu berbisnis, tapi terkekang aturan ini-itu. Kewirausahaan "bukan jawaban" bagi masalah ekonomi Kuba, kata pejabat, yang mencerminkan kekhawatirannya akan munculnya kelas pengusaha sukses yang bakal mengilhami rakyat pada ide-ide pembaruan. Dan ini tabu.
Embargo AS atas ekonomi Kuba membuat perdagangan kian kompleks dan berbiaya tinggi. Misalnya, agar mobilnya bisa masuk ke pasar Amerika, Jepang harus melakukan sertifikasi bahwa materi mobil tak mengandung nikel Kuba. Sedangkan barang yang dimasukkan ke Kuba harus tanpa komponen asal Amerika. Kuba terisolasi dari pasar modal internasional, dan tercoret sebagai anggota IMF dan sejenisnya.
Sekitar 1994-1996, Kuba memperbaiki kebijakan ekonominya. Monopoli negara dikurangi, usaha gabungan asing-lokal dan investasi swasta diperlonggar. Ekonomi tumbuh 1 persen. Lalu, ada sistem bonus bagi individu yang mencapai suatu target produktivitas. Toh semua belum memperbaiki ekonomi secara berarti.
Untuk menarik investor asing, beberapa instrumen pajak dibebaskan. Hingga 2000, investasi asing yang riil hanya US$ 1,7 miliar—meski pemerintah mengaku berhasil mengantongi komitmen investasi. Tapi risiko usaha yang amat tinggi, dan ancaman AS bagi investor, menciutkan nyali mereka.
Satu dasawarsa sudah Kuba tanpa bantuan masif modal asing, dan ekonominya masih terseok. Rakyat memang tak lapar, tapi konsumsi kalori per kepala rendah, hingga PBB mengirim bantuan pangan senilai US$ 22 juta bagi anak-anak dan perempuan hamil di beberapa provinsi miskin pada 2001. Nah, kan lebih baik kabur?
Itulah wajah Kuba, yang layak kita cermini.
Ines Handayani, Hamid Basyaib
|