Bangsa tanpa Wajah Budaya Teater Garasi mementaskan karya mutakhirnya. Temanya ironis, tapi tata panggungnya memanjakan mata. |
Mulanya adalah sebuah panggung dengan sejumlah kerangka ruang yang terbuat dari lempengan besisebagian berupa garis lurus, sebagian garis lengkung seperempat lingkaran. Selama pertunjukan, kerangka-kerangka itu dapat berubah bentuk ataupun menghasilkan ruang yang baru. Beberapa bidang diberi penyekat sehingga ketika cahaya menyiram panggung muncullah ruang dengan intensitas warna yang berbeda dengan lainnya.
Bergerak di antara kerangka-kerangka tersebut, sosok manusia tak ubahnya sebuah mozaik. Sementara itu, perubahan warna cahaya dan efek multimedia telah membuat panggung itu bagai sebuah lukisandari era surealismedengan komposisi garis dan warna yang terus bergerak.
Di Gedung Kesenian Jakarta, pada 17-18 Maret 2003, dengan sutradara Yudi Ahmad Tajudin, Teater Garasi dari Yogyakarta mementaskan Waktu Batu, dengan sub-judul Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah. Dari sini mudah dipahami mengapa pertunjukan dibuka dengan menampilkan penderita skizofrenia: seorang laki-laki yang terus berteriak di atas ranjang rumah sakit. Skizofrenia bisa dipahami sebagai situasi ketika orientasi ruang-waktu seseorang kacau mengacak, berbenturan satu sama lain. Akibatnya, muncul rasa terasing, takut, dan cemas kelewat takaran.
Para pemain muncul dengan aneka persoalan: kadang sama, kadang berbeda. Ada kalanya suatu kalimat panjang diucapkan oleh dua orang atau lebih, tak dalam waktu yang persis sama, tak tumpang-tindih. Dalam situasi ini, penonton seperti tengah disuguhi sejumlah persoalan serentak, dan semuanya menuntut perhatian. Terasa bahwa berbagai kepingan yang membentuk sosok-sosok manusia yang bergerak dalam ruang-ruang itukadang sekadar melintasterbentuk dari kepingan kecemasan dan ketakutan.
Sebagaimana pertunjukan sebelumnya, Waktu Batu. Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (Yogyakarta, Juli 2002), pertunjukan kali ini pun berangkat dari beberapa mitologi Jawa, yaitu Watugunung, yang diyakini sebagai manusia Jawa pertama; Murwakala, yang merupakan kisah kelahiran Batara Kala; dan Sudamala, yang bercerita tentang kutukan Siwa atas istrinya sehingga berubah wujud menjadi Batari Durga.
Kisah-kisah itu memiliki kesejajaran dengan persepsi orang Jawa (atau kawasan Nusantara pada umumnya) tentang waktu. Waktu itu ancaman: menandai perubahan, yang menuntut mereka menyesuaikan diri, beraktualisasi terhadap perubahan. Dan ketika telaah retrospektif dilanjutkan pada teks kesejarahan, semakin jelas perubahan itu, yakni datangnya orang-orang asing yang membuat mereka terpaksa mengubah wajah budaya sendiri agar selaras dengan budaya pendatang. Dimulai dari kedatangan orang Hindu, Islam, kolonialisme Belanda, hingga neo-imperialisme ala Amerika.
Wajah budaya yang carut-marut inilah yang secara tematis diangkat oleh Teater Garasi kali ini. Namun, proses pencarian mereka yang panjang (sejak tahun 2001) juga membuka peluang yang lebar untuk melakukan eksplorasi habis-habisan pada bentuk pertunjukan. Maka, jadilah ini sebuah pertunjukan dengan struktur yang tidak biasa, sekurangnya bagi penonton di Indonesia.
Seperti kecenderungan di dunia pertunjukan dewasa ini, Teater Garasi menempatkan peristiwa sebagai bahasa pengucapannya, sehingga teks ataupun runutnya alur cerita tidak utama lagi. Dengan mengedepankan aspek visual dan menggarisbawahi bentuk pemanggungan, unsur artistik menjadi sangat menonjol. Namun, patut disayangkan bahwa teks yang dikerjakan oleh Ugoran Prasad, Gunawan Maryanto, dan Andri Nur Latif yang liris dan "imajis" itu tidak dapat terapresiasi dengan baik karenanya.
Menyimak pertunjukan Waktu Batu ini, hampir mustahil bagi seorang penontonbahkan yang memiliki bekal pengetahuan cukup tentang mitologi Jawauntuk memahami persoalan secara utuh berdasarkan pada kalimat-kalimat yang diucapkan para pemainnya. Sejumlah persoalan yang secara sengaja dibenturkan di atas panggung memang secara subversif berhasil mengganggu penonton untuk ikut mengalami tekanan sebagai penderita skizofrenia, tapi ada aspek pertunjukan yang harus dikorbankan. Penonton pun hanya memiliki sedikit kemungkinan: mencoba menikmati pertunjukan sambil mengais-ngais keterkaitan di antara kalimat-kalimat yang tumpang-tindih itu atau mempersetankan sama sekali dan memperlakukannya sebagai bunyi.
Terlepas dari sejumlah catatan di atas, inilah sebuah pertunjukan yang memanjakan mata. Pertunjukan Teater Garasi ini merupakan angin segar bagi dunia pertunjukan di Indonesia, meski kita harus tersenyum pahit menemukan wajah sendiri pada sosok penderita skizofrenia: ironi sebuah bangsa yang kehilangan wajah budaya.
Ags. Arya Dipayana, pelaku-pengamat teater
|