Yang Muda yang Jenaka Pertunjukan tari kontemporer Condors dari Jepang menyajikan ramuan teater dan parodi jazz-balet. Idenya dipungut dari kehidupan sehari-hari. |
Dalam siraman cahaya merah, tujuh tubuh laki-laki jumpalitan. Menari ringan bersama musik rock dengan beat cepat. Lincah, tapi tak berlangsung lebih dari lima menit. Sesudah itu, dari dalam kesenyapan muncul seorang penari berpakaian serba putih. Musik jazz balet mengiringi, lembut. Enam penari kurus dan satu penari gendut bergerak ritmis, sesekali erotis. Kemudian, dengan kepala bepupur putih, mereka nongol dari kanan kiri panggung, satu-satu, bergantian.
Tapi panggung menjadi gelap, kala seorang penari duduk berteriak-teriak merapal sesuatu. Kakinya mengapit bola biru, sementara kepala gundulnya memakai topi potongan kaca yang memendarkan cahaya. Kata jampi-jampi yang membuncah selalu menimbulkan akibat terhadap semua orang yang berganti-gantian lewat.
Bukan itu saja. Lukisan Monalisa yang ditenteng tiba-tiba terbuka. Di baliknya ternyata tangan Monalisa memeluk payudara yang terbuka. Tiga sekawan jalan bareng mendadak merobek-robek pakaian salah satu kawannya sehingga hampir bugil. Tukang sapu tiba-tiba tak bisa mengendalikan sapunya dan malah berseru, "Aku cinta padamu! Aku cinta padamu!" Ia bergerak liar, bahkan lari ke luar panggung. Geeer.
Tari kontemporer Conquest of The Galaxy: Jupiter oleh grup Condors dari Jepang di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu pekan lalu itu memang menggelitik. Sebagai pembuka, Condors menyuguhi animasi pelesetan. Logo studio Fox, 20th Century Fox, dipermak jadi 21st Century Condors.
Toh, Condors suka mengambil satire terhadap elemen budaya pop yang sudah cukup dikenal. Misalnya seting seorang pemandu wisata lengkap dengan penerjemah beraksi mengenalkan Negeri Sakura tersebut. Gunung Fuji, budaya mandi bareng selalu memakai shento (handuk kecil) di sungai, olahraga sumo, hingga sesaknya kereta api saat jam sibuk. Sangat stereotip. Mereka suka bereksperimen dengan mimik karikatural yang memangkas batas-batas bahasa. Juga irama swing dibetot dengan gebukan drum yang kencang.
Kegilaan warga Jepang terhadap sepak bola juga disindir para penari 20-30 tahunan tersebut. Dengan bahasa Indonesia kagok, parodinya berkisah tentang pegawai berkantor di bilangan Thamrin, Jakarta. Sayang, beberapa kali pengulangan tampak kelewat nyinyir di bagian ini.
Condors mengawali debut pada 1996 di sebuah teater kecil berkapasitas 60 tempat duduk di Tokyo. Selanjutnya berpentas keliling, termasuk ke Hong Kong dan Taiwan. Pementasan mereka di New York dan Los Angeles pada Januari 2000 dipuji oleh harian New York Times dan Los Angeles Times. Mereka dikontrak untuk 10 pertunjukan hingga dua tahun berikutnya di Amerika.
Condors bisa menyidik dalam—saat memapar masalah sosial—tapi tidak kehilangan sentuhan dari keseharian hidup. Ryohei, salah satu personel Condors, mengaku memetik ide dari hal yang biasa. "Dari tayangan televisi. Juga saat berjalan-jalan. Di Jakarta saya lihat orang jongkok di pinggir jalan, sambil ngisep rokok nikmat. Sangat menarik," tutur Ryohei kepada TEMPO. Ryohei memang punya sepasang mata yang jeli. Ia, yang pernah hidup di Peru dan Argentina, menuai penghargaan tertinggi di Prancis pada 1994, saat menjadi penari utama Koya Yamazaki.
Saat berkunjung ke sekolah Al-Azhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, Selasa pekan lalu polah mereka mengundang tawa. Berkejaran bersama anak-anak di halaman sekolah. Pada hari yang sama, latihan singkat di Institut Kesenian Jakarta dijubeli seratusan mahasiswa dan beberapa penari Eksotika Karmawibangga. Ryohei menampilkan teknik tari yang memanfaatkan gaya gravitasi. Ryohei hanya satu dari 13 personel grup tari yang memiliki keragaman gerak ini.
Biasanya, seperti umumnya grup tari kontemporer Jepang, mereka memakai kostum kasual. Namun kali ini selama separuh dari 90 menit pertunjukan, Condors memakai kostum gakuran berwarna hitam. Gakuran adalah seragam tradisional gaya militer yang beberapa dekade lalu dipakai di sekolah-sekolah pemuda. Dalam konteks pertunjukan seni Jepang, gakuran merupakan identitas patriarki pria. Condors memang tak perlu meninggalkan elemen tradisional.
Dwi Arjanto
|