|
SAYA adalah pembaca setia Majalah TEMPO sejak di SMP (1979) dan mengagumi isi beritanya, yang selalu ditulis secara akurat, cerdas, dan lugas (memang Enak Dibaca dan Perlu). Cara pemaparan dan penyampaiannya akurat dan lugas, sehingga kita bisa membaca berita dan informasi berat yang disampaikan TEMPO dengan enak sambil tersenyum, termasuk ketika TEMPO diimpit oleh kekuasaan pada era 1990-an.
Ketika era reformasi datang dan terjadi perubahan dalam tatanan kehidupan politik Indonesia, TEMPO menjadi semakin berkibar dan besar. Tapi, kalau dikaji lebih mendalam, penulisan TEMPO menjadi penuh tuduhan dan disampaikan dengan bahasa yang kering.
TEMPO kini menghadapi persoalan mengenai berita ”kebakaran Tanah Abang” yang dikaitkan dengan Bapak Tomy Winata. Sekadar mengingatkan, di atas langit masih ada langit, jangan sampai TEMPO terlalu percaya diri dan pongah, sehingga TEMPO dalam membuat berita tidak memikirkan dampak-akibat dari pemberitaannya.
Saya cukup mengenal Bapak Tomy Winata, sehingga saya tahu pemberitaan yang dibuat TEMPO adalah tidak benar, tidak didasarkan oleh fakta. Beberapa kali saya lihat di media elektronik, Bapak Tomy Winata hanya membela haknya yang sengaja dipermainkan oleh pemberitaan TEMPO.
Sebenarnya masalah akan selesai dan tuntas jika pada penerbitan hari Senin kemarin, 10 Maret 2003, TEMPO dapat memaparkan bukti dan fakta keterlibatan Bapak Tomy Winata, misalnya, dengan menunjukkan fotokopi proposal yang dimaksud. Tapi TEMPO justru tidak memuatnya, bahkan bersama Koran Tempo terus membuat pengalihan opini tentang demonstrasi, dan melupakan pokok persoalan yang sebenarnya.
A.H. BIMO SURYONO
Jalan Tebet Barat Dalam IV-L/9
Tebet, Jakarta Selatan
|