Inses Si Perusak Generasi |
KASUS Nancy, bukan nama sebenarnya, adalah sebuah kasus "pagar makan tanaman". Nancy, yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat, melahirkan anak pertamanya hasil pemerkosaan ayahnya sendiri, November 2001. Saat itu ia masih berusia 15 tahun.
Ada sejuta kemarahan yang menggelegak di dada Nancy. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sedikit meredakannya dan kemudian hidup sebagaimana orang normal. Tapi, di luar terapi dan trauma, terdapat persoalan yang tak akan beranjak dari hidupnya—kecuali jika keajaiban terjadi. Itulah satu kelainan yang dialami oleh bayinya. Usia si kecil sudah lebih dari setahun, tapi perkembangan motoriknya seperti merayap. Saat ini, ia belum bisa tengkurap, merangkak, atau berjalan layaknya bayi seusianya.
Yang lebih memprihatinkan—seperti dituturkan Magdalena Sitorus dan Theresia Erni, keduanya konselor Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan (Sikap), Jakarta, yang menerapi Nancy—adalah rapuhnya tulang sang bayi. Sebuah benturan kecil dapat mematahkan tulang-tulang bayi yang halus itu. Tatkala si kecil terantuk boks tempat tidur, tulang tangannya lalu retak di tiga tempat. "Tangan bayi itu harus dibalut gips," kata Magdalena.
Bayi Nancy berbeda sekali dengan bayi Ningsih—bukan nama sebenarnya—yang juga hasil inses. Pada usia 14 tahun, Ningsih harus melahirkan anak hasil pemerkosaan Sugianto, pamannya sendiri, tapi bayi itu tampak sehat dan menggemaskan. Saat dikunjungi TEMPO, di kawasan Surabaya Utara, Jawa Timur, dua pekan lalu, bayi yang kini berusia 9 bulan itu sudah mulai belajar berjalan.
Mengapa bayi Ningsih lebih sehat dibandingkan dengan bayi Nancy? Dr. Herawati Sudoyo dari Lembaga Molekuler Eijkman Jakarta bisa paham mengapa anak Nancy mengalami kerapuhan tulang. Ada kemungkinan, itulah tanda bersatunya dua orang yang memiliki kelainan gen yang sama. Namun itu harus dibuktikan melalui pemeriksaan genetika. Nancy hanya perlu bercerita panjang tentang riwayat sakit keluarga—dan jika kemudian tidak ditemukan kelainan gen di antara keduanya, masih ada faktor ketiga yang agaknya layak diperhitungkan. Soalnya, kelainan itu bisa muncul bila terjadi mutasi gen pada si bayi.
Kisah Nancy tak berhenti menjadi kisah genetika belaka. Ia bagian dari kisah ayah memerkosa anak, paman mencabuli keponakan, kakek menggagahi cucu, dan kakak memerkosa adiknya. Itulah kisah si besar yang menindas si kecil, yang kuat menekan yang lemah, dan lelaki menghantam perempuan. Kepuasan seksual dan power ternyata bukan dua hal yang saling terasing dalam kisah-kisah kekerasan seksual.
"Orang-orang yang selama ini dianggap melindungi korban ternyata berubah menjadi monster yang menakutkan," ujar Sulaiman Zuhdi Manik, Koordinator Advokasi Masalah Inses Pusat Kajian dan Perlindungan Anak. Ada ribuan anak perempuan yang tumbuh dan menjadi dewasa dengan trauma yang menyeramkan. Ada rasa cemas, mimpi-mimpi buruk, perasaan malu yang amat-sangat, perasaan nista, kotor, dan hilangnya kepercayaan terhadap orang lain yang kerap menguntit si kecil menuju kedewasaan.
Di luar trauma itu, masih ada segepok masalah yang melilit korban inses. Dr. Herawati bercerita tentang kemungkinan pertemuan dua buah gen yang memiliki kelainan gen. Tapi Dr. Garry Warne, Kepala Bidang Endokrinologi Rumah Sakit Royal Children's, Melbourne, Australia, saat berbicara dalam workshop tentang gangguan seksual, di India, empat tahun silam, menyatakan bahwa inses alias perkawinan keluarga dekat atau sesama anggota komunitas bakal meningkatkan risiko lahirnya bayi "hermafrodit" alias wadam. Itu berarti perilaku inses melanggengkan faktor-faktor genetis buruk yang bertanggung jawab atas terjadinya kelainan bawaan. Dalam kesempatan itu, ia menyebut terganggunya gen "SRY" yang berperan dalam menentukan jenis kelamin janin laki-laki.
Dwi Wiyana, Adi Mawardi (Surabaya), Bambang Soed (Medan)
|