Monster-Monster di Sekeliling Kita Kasus pemerkosaan dan inses meningkat. Tanpa terapi yang tepat, korban terus dihantui trauma hebat. |
Lapor polisi, tangkap Sam (bukan nama sebenarnya— Red.). Dia itu biadab. Biarkan saya korban terakhir, dan jangan lagi ada yang menjadi korban." Itulah sebaris pesan yang ditulis Agustini Wulandari, 18 tahun, dalam buku hariannya sebelum mengakhiri hidupnya. Awal Januari lalu, ia menggantung diri di kamar mandi rumahnya. Di antara sekian banyak kalimat yang ditulis, terdapat umpatan-umpatan kepada Sam, warga Cijantung, Jakarta Timur. "Pesan itu dilingkari oleh almarhumah," ujar Tumiyo, ayah kandungnya, saat ditemui TEMPO di rumahnya pekan lalu.
Tumiyo tidak puas, tapi pasrah. Sedangkan Agustini, anak gadisnya yang duduk di kelas 3 SMK, mengambil keputusan drastis: hidup hanya pantas hingga di situ. Praktek kerja lapangan (PKL), yang mestinya membukakan matanya akan dunia kerja pascasekolah, menjelma jadi bencana tak terbayangkan. Ia diperkosa saat menjalani PKL di sebuah toko buku terkemuka di kawasan Matraman, Jakarta, oleh seorang karyawan di perusahaan itu. Agustini, gadis hitam manis yang pendiam, memang tak pernah membocorkan hal itu kepada siapa pun—sampai tragedi itu terjadi dan sang ayah menemukan kata-kata di atas, di buku hariannya.
Bunuh diri bukan jalan keluar, tapi menjadi puncak dari rangkaian trauma hitam yang menyergap seorang korban pemerkosaan. Memang ada sederetan trauma fisik seperti rusaknya kelamin berikut alat reproduksi atau ancaman terkena penyakit kelamin, bahkan munculnya kehamilan tak dikehendaki yang menjadi hantu. Tapi, di samping itu semua, si korban tengah menghadapi suatu perubahan besar, yakni dunia yang sekonyong-konyong—dan tanpa dikehendaki—gelap dan menyempit. Ia kehilangan kepercayaan pada orang lain, mungkin juga pada hidup ini.
Lenyapnya kepercayaan ini bisa makan waktu panjang. Hampir tiga minggu majalah ini mencari korban pemerkosaan yang bersedia bertutur tentang pengalaman batin yang dijalaninya setelah peristiwa laknat itu, tapi para konselor selalu khawatir: ingatan akan hal itu akan mengembalikan korban ke periode sebelum penyembuhan. Kalau itu benar terjadi, berantakanlah segala yang dicapai selama ini. Korban menghadapi dilema yang tak mudah—mencurigai orang lain, tapi harus memperoleh pertolongan orang lain, orang yang lalu akan mengajaknya keluar dari masalah. "Terapi berhasil jika korban percaya kepada kita. Itu kunci awalnya," ujar Evi Sukmaningrum, dosen Universitas Atma Jaya, Jakarta, yang juga seorang konselor dalam kelompok perempuan Kalyanamitra.
Tentu tak semua trauma pemerkosaan atau inses berujung ending yang setragis Agustini. Sari—bukan nama sebenarnya—yang diperkosa seorang sohib pacarnya, mendadak jadi pemurung, malu bersekolah, dan hatinya hancur, tapi tidak menempuh bunuh diri. Sari, gadis warga Bekasi, Jawa Barat, baru berusia 14 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Tapi, karena sikapnya yang terbuka kepada keluarganya, ia pun berhasil mendapatkan pertolongan dari orang yang tepat. Ia dibawa ke tempat aman (shelter istilahnya) untuk menjalani terapi selama tiga bulan. Kemudian, ditambah dengan pengalaman nyantri di sebuah pondok pesantren modern di kawasan Parung, Bogor, Sari pun bangkit dari perangkap trauma yang gelap itu.
Terapi yang tepat juga berhasil menyelamatkan Olivia—sebut saja begitu—yang harus melahirkan anak hasil pemerkosaan ayahnya sendiri di usia 14 tahun (lihat Inses Si Perusak Generasi). Panjang-pendek terapi memang relatif, tapi sikap terbuka sebagaimana yang diperlihatkan Sari dan Olivia ikut mempercepat keberhasilan penyembuhan. Komunikasi dengan orang lain membantu memperluas dunia si korban yang menyempit.
Pemerkosaan dengan segala derivatnya—inses, pelecehan seksual, dan lain-lain—adalah sebuah gunung es yang tak kunjung mencair: sebagian besar kasus tetap tersembunyi dan menjadi rahasia dua orang, pelaku dan korban, atau plus orang ketiga yang terus mempertahankan kerahasiaan perbuatan nista itu. Dan apa boleh buat, kenyataan ini menunjukkan bahwa sebagian besar korban pemerkosaan tidak menjalani terapi yang tepat. Keadaan akan lebih parah jika sosok pemerkosa adalah orang dekat korban yang sewaktu-waktu siap melakukan hal yang sama atau mengancamnya untuk tetap tutup mulut sepanjang masa. Kalau sudah begini, kemungkinan untuk menghapus trauma semakin kecil.
Si "gunung es" memang tidak bisa bercerita banyak. Magdalena Sitorus, Direktur Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan (Sikap) di Jakarta, memperkirakan angka-angka yang tercatat cuma mewakili 10-25 persen dari kenyataan sesungguhnya. Sejauh ini, kita hanya tahu polisi berhasil menangkap Amarullah, seorang pemuda yang memerkosa seorang bayi berumur 3 tahun di Makassar, pekan lalu. Tapi banyak anak kecil lain yang, karena pelbagai sebab, tak sanggup mengadukan pelecehan seksual yang dialaminya.
Keluarga memang dapat menjadi ruang pelecehan seksual yang relatif "aman" dari jangkauan hukum. Dan di situlah pelecehan berlangsung hingga bertahun-tahun tanpa hambatan. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak di Sumatera Utara mencatat tak lebih dari 54 kasus inses sepanjang tahun 2002. Tak begitu tinggi? Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, 2001, angka itu masih tergolong tinggi. Pada tahun 2001, lembaga itu mendapati 27 kasus inses, angka yang juga lebih tinggi dibandingkan dengan kasus pada tahun 2000. Waktu itu, kasus inses "cuma" mencapai 23. Dan seperti ramai dibicarakan di media massa belakangan ini, peningkatan kasus inses juga dijumpai di daerah-daerah Jakarta dan Surabaya.
Sebuah data lain muncul dua pekan lalu. Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan menggambarkan, dari 5.163 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani pada tahun 2002, terdapat 1.169 kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, dan sebagainya. Sementara itu, Kepolisian Daerah Metro Jaya mengaku menangani 107 kasus serupa pada tahun 2002—angka yang melukiskan kenaikan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2001, mereka "hanya" menangani 89 kasus.
Dalam "wasiat"-nya di buku harian, Agustini Wulandari memang menulis, biarlah dirinya menjadi korban terakhir orang yang sangat dibencinya, Sam. Kita tahu, Agustini, anak ketujuh dari sembilan bersaudara, menjadi lambang ketidakberdayaan, tapi bukan kekalahan. Di saat-saat terakhir sebelum pergi ke alam lain, batinnya masih mengharap keadilan ditegakkan: lapor polisi, tangkap Sam.
Dwi Wiyana, Bambang Soed (Medan)
|