Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXXII/24 - 30 Maret 2003
   
Olahraga

Setelah Pulang dari Eindhoven

Dalam satu dekade terakhir, Indonesia kehabisan stok pemain putri. Apa sulitnya mencari pengganti Susi Susanti?

DI Eindhoven kejutan itu terjadi. Pemain putri Indonesia yang semula sama sekali tak dipicing justru membuat keajaiban. Dalam pertandingan pertama melawan Inggris di turnamen Piala Sudirman, pemain debutan Maria Kristin dan pasangan putri Jo Novita dan Lita Nurlita menjadi penyelamat. Meski beda tipis, Indonesia sukses melinggis Inggris.

Pelatih tim putri Ivana Lie bukan main bungahnya. "Kami sangat terkejut dengan kemenangan pemain-pemain putri ini," katanya. Sayang, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Dalam pertandingan berikutnya, anak asuhannya tak berkutik di tangan Denmark.

Perjuangan tim Piala Sudirman di Eindhoven, Belanda, memang diiringi pesimistis para pengurus. Bahkan jauh-jauh hari Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, Chairul Tanjung, menyebut keberangkatan tim Cipayung ini sebagai misi yang mustahil. Mereka dibebat persoalan klasik: stok pemain putri Indonesia yang minim. Namun, karena genderang perang sudah ditabuh, mereka pun berangkat dengan pasukan seadanya.

Para pemain putri yang dibawa adalah pemain bawang alias junior yang amat miskin pengalaman bertanding di arena internasional. Mereka adalah Dewi Tira Arisandi, Maria Kristin, Fitria Firdaus, Siti Mahiroh, Richasari Pawestri, dan Adrianti Firdasari. Bekal prestasinya? Pemain tunggal yang jadi andalan, Dewi Tira, 19 tahun, cuma nongkrong di 119 IBF (Federasi Bulu Tangkis Internasional). Malah Maria Kristin, 17 tahun, posisinya lebih jauh, yakni peringkat ke-201.

Apa boleh buat, Dewi dan kawan-kawan merupakan pemain terbaik yang ada. Mereka lolos seleksi pemilihan pemain yang dilakukan Februari lalu. Menurut Kepala Tim Piala Sudirman, Karsono, seleksi ini dilakukan karena tidak ada atlet putri kita yang prestasinya menonjol.

Alhasil, alih-alih mengejar prestasi, menurut Ivana Lie, misi mereka ke turnamen beregu campuran ini cuma untuk mengasah kemampuan. "Mudah-mudahan mereka bisa memanfaatkan Piala Sudirman untuk mencari pengalaman," katanya. Tingkat permainan mereka masih jauh di bawah. Malah, latihan yang diberikan pada mereka masih sebatas tahap penguatan otot dan teknik.

Persoalan stok pemain putri sesungguhnya bukan hal baru. Setelah Verawati Fadjrin dan Ivana Lie lengser di pertengahan 1980-an, regenerasi pun terasa lambat. Beruntung kemudian muncul Susi Susanti, peraih emas Olimpiade 1992 Barcelona. Namun, setelah Susi gantung raket, pemain di belakangnya masih kedodoran. Mia Audina, yang diharapkan bisa menjadi penggantinya, eh, malah hijrah ke Belanda.

Kekurangan pemain putri inilah yang selalu jadi bahan tudingan kegagalan Indonesia dalam menguasai Piala Sudirman. Sepanjang sejarah, Indonesia hanya sekali meraih piala ini, ketika kejuaraan ini pertama kali digelar pada 1989. Dua tahun lalu, tim Indonesia masih bisa ke final sebelum dikalahkan juara empat kali berturut-turut, Cina.

Lantas apa yang salah? Susi Susanti menunjuk lambatnya regenerasi yang dilakukan induk olahraga ini. Setelah generasi dirinya berjaya dekade 1990, terjadi salah urus pemain. Saat itu PBSI era kepemimpinan Soebagyo H.S. membuang sekitar enam pemain yang masuk Pelatnas bersama-sama Mia Audina. Mereka antara lain Yuni Kartika dan Ika Heni. "Padahal sebetulnya kemampuan mereka tak kalah dengan Mia," kata Susi. Dan bencana pun datang. Setelah dua pemain itu tak lagi beraksi, Indonesia pun tak punya stok.

Untuk mencari bibit baru, PBSI bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional berupaya menggalakkan kembali olahraga ini di sekolah-sekolah dan akan menggelar liga bulu tangkis. Tapi ini bukan hal gampang. Harus dimaklumi, olahraga bulu tangkis saat ini tak lagi sepopuler zaman dulu. Sebabnya, selain gelombang MTV telanjur menghajar mereka, "Kebanyakan orang tua juga enggan melihat anak putrinya menjadi olahragawan," ujar Susi.

Irfan Budiman


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data