Gotong-Royong demi Sang Anak |
KECERIAAN selalu menghiasi Lapangan IKIP Rawamangun, Jakarta, setiap Selasa dan Kamis sore. Anak-anak dari Sekolah Sepak Bola Persigawa asyik bermain bola di sana. Bukan cuma yang berumur belasan tahun, tapi juga bocah-bocah usia dini. Ketika TEMPO menjenguk sekolah ini pekan lalu, anak-anak berusia 6-8 tahun tampak berlatih.
Dari sejumlah pemain, Yondi, 6 tahun, tampak menonjol. Dengan lincah anak kelas satu sekolah dasar ini berlari-lari sambil membawa bola yang ukurannya lebih besar dari kepalanya. Tepat di depan gawang, badannya agak membungkuk sebentar, lalu menendang bola itu keras-keras. Gol. Yondi pun puas. Kendati begitu, jika besar dia tak mau jadi penyerang. "Aku ingin jadi Oliver Kahn," katanya menyebut kiper tim nasional Jerman.
Saat Yondi beraksi, ibunya, Lies Kasmayanti, selalu mengawasinya dari pinggir lapangan. Sang ibu sesekali juga memperhatikan anaknya yang lebih besar, Aditya, 11 tahun, yang juga berlatih di sekolah itu. Nyonya Lies sengaja memasukkan anak-anaknya ke sekolah sepak bola karena masa depan pemain sepak bola cukup cerah. Tujuan lainnya, agar mereka memiliki kegiatan positif.
Biaya pendaftaran untuk masuk ke SSB Persigawa cukup murah, cuma Rp 30 ribu. Setiap bulan, siswa dipungut iuran Rp 7.500. Ini cukup kecil dibandingkan dengan biaya operasional sekolah yang jutaan rupiah.
SSB Indonesia Muda di Surabaya juga tak memungut uang pendaftaran yang besar, cuma Rp 10 ribu. Setiap latihan, pesertanya ditarik biaya Rp 1.500. Karena itu, sekolah ini tidak memiliki fasilitas yang memadai. Mereka biasa berlatih di lapangan becek di Jalan Indragiri dan Jalan Pacar Keling. Kedua lapangan tersebut terlihat kumuh dan nyaris gundul. Anak-anak harus berlatih di antara sekawanan kambing yang sedang memakan sisa-sisa rumput. Padahal SSB yang berdiri sejak 1958 ini pernah melahirkan pemain nasional seperti Riono Asnan, Yusuf Ekodono, Anang Ma'ruf, hingga "Bejo" Sugiantoro. Selain itu, sekolah ini juga mengirim Tony Sucipto dan Luki Wahyu untuk tim nasional U-14 yang kini ke Bangkok.
Bila ditotal, satu bulan SSB tersebut mendapat pemasukan Rp 2 juta. Namun uang ini hanya pas-pasan untuk biaya operasional yang meliputi sewa lapangan, penyediaan air minum usai latihan, dan honor enam orang pelatih. "Honor pelatih pun sangat minim," kata Saleh Hanifah, Ketua Umum SSB Indonesia Muda.
Karena itu, sumbangan sukarela dari orang tua pemain sangat membantu. Seperti di Persigawa, orang tua siswa sering menyumbang saat klub ini bertanding dengan klub lain. Soalnya, tiap kali bertanding di luar, dibutuhkan minimal Rp 200 ribu. "Ibu-ibu di sini terkadang juga gotong-royong membuat kue untuk bekal," kata Lies Kasmayanti.
Ardi Bramantyo, Kukuh S. Wibowo (Surabaya)
|