Pelajaran dari Bangkok Pembinaan bibit muda lewat sekolah sepak bola terputus karena tiada kompetisi yang rutin. |
PEMANDANGAN yang tak biasa hadir di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Kamis dua pekan silam. Lantai empat hotel ini dijejali anak-anak kecil dengan segala tingkahnya. Ada yang berlarian, berteriak-teriak, ada juga yang bergerombol anteng sambil menonton televisi. Rombongan study tour? Bukan. Mereka ternyata anggota tim sepak bola nasional yang akan berlaga di Festival Sepak Bola U-14 ASEAN di Bangkok. Semangat yang menggebu-gebu tergambar di wajah mereka. "Mudah-mudahan kami bisa jadi juara," kata Egi Melgiansyah, 12 tahun. Pemain asal Sekolah Sepak Bola (SSB) Pelita Bakrie ini ditunjuk menjadi kapten tim.
Keesokan harinya Egi dan kawan-kawan terbang ke Bangkok. Mula-mula prestasinya lumayan. Pada pertandingan perdana mereka menahan seri Malaysia 2-2. Lalu mereka menggulung Kamboja 3-2. Tapi pada pertandingan selanjutnya anak-anak asuhan Ronny Pattinasarani ini mulai kedodoran. Mereka digasak oleh Myanmar dengan skor telak 0-5, kemudian Kamis pekan lalu disikat Vietnam dengan skor sama.
Biangnya jelas, minim persiapan. Tim nasional di bawah usia 14 tahun ini dibentuk hanya dalam waktu dua pekan. Mereka diseleksi dari sejumlah sekolah sepak bola di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Sebanyak 60 anak muda dari kantong-kantong sepak bola ini dikumpulkan di Sawangan, Bogor. Mula-mula dipilih 28 pemain yang bagus, lalu diperas lagi menjadi 22 bocah yang masuk tim nasional. Misinya memang tak muluk-muluk. "Agar anak-anak memperoleh pengalaman," ujar Ronny Pattinasarani, yang juga pengasuh SSB ASIOP, Jakarta.
Boleh dibilang, bisa mengirim tim junior ke Bangkok pun perlu disyukuri. Di tengah macetnya kompetisi di tingkat junior, cukup sulit membentuk tim nasional yang solid. Untunglah, sekarang telah muncul banyak SSB, dapur alternatif pembinaan sepak bola.
Maraknya SSB terjadi dalam empat tahun terakhir. Tiba-tiba, ratusan sekolah sepak bola anak-anak muncul di kota-kota besar, melahirkan banyak bibit berbakat. Anak-anak berduyun-duyun datang ke SSB setelah mereka sering menonton pertandingan liga di Eropa seperti Liga Italia dan Liga Inggris yang ditayangkan televisi. Belakangan, diduga juga karena pengaruh tayangan film kartun Kapten Tsubasa. Disajikan dengan cara jenaka, film bikinan Jepang yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi ini berkisah tentang sebuah tim sepak bola. "Film ini memang amat digemari anak-anak," kata Adji, pelatih sekaligus pendiri SSB Persigawa, Jakarta.
Di Ibu Kota, klub yang bermarkas di kawasan Rawamangun itu cukup disegani. Tahun lalu Persigawa menyabet gelar juara III dalam Piala Specs, sebuah kejuaraan sepak bola nasional usia 15 tahun. Jangan heran jika sekarang salah satu pemainnya, Tri Mahendra Saputra, 12 tahun, termasuk yang ikut dikirim ke Bangkok. Didirikan sejak 1987, SSB Persigawa kini telah berkembang pesat. Setiap tahun, sekolah ini menerima sekitar 50 siswa baru. Padahal, lima tahun lalu, hanya sekitar 15 siswa baru yang mau mendaftar setiap tahun.
Umumnya, orang tua mengirim anaknya ke sekolah sepak bola dengan harapan bisa menjadi pemain profesional. Mereka paham bahwa pemain sepak bola, apalagi yang berkualitas internasional, gajinya amat menggiurkan. Pemain yang berlaga di Liga Indonesia pun penghasilannya tak sedikit. Cukup banyak yang sekarang digaji di atas Rp 10 juta per bulan. "Lihat saja Yaris Riyadi, bekas pemain Persib Bandung. Dia ditransfer oleh Pelita Krakatau Steel sebesar Rp 300 juta dan digaji Rp 15 juta per bulan," kata Yuyun Sutomo, orang tua Aldy Rinaldi, wing back kanan tim nasional U-14.
Keinginan anak-anak untuk menjadi pemain terkenal mendorong sekolah sepak bola tumbuh subur. "Dulu saya sampai menangis agar dimasukkan ke SSB," ujar Syam Siralam, penyerang-kedua tim nasional U-14. Anak seorang pengacara ini terkesan lincah dan pintar. "Kalau besar nanti, saya ingin main bola. Tidak mendapat duit besar seperti Papa juga tidak masalah," ujarnya.
Tidak semua anak yang masuk SSB berasal dari kalangan orang berada seperti Syam. Banyak pula anak-anak orang biasa yang berlatih di sana. Ayah Egi Melgiansyah, contohnya, bekerja sebagai buruh kebun di daerah Sawangan, Bogor. "Insya Allah, saya nanti bisa hidup dari bola," kata Egi. Soalnya, kakak Egi sudah lebih dulu menikmati keberhasilan dari bola. "Abang saya sekarang main untuk Persita Tangerang," tuturnya.
Semangat anak-anak dan orang tua boleh menggebu, tapi ada kendala lain: tiada kompetisi rutin antarklub bagi bocah-bocah yang berbakat itu. Padahal kompetisi merupakan tempat yang ideal bagi pemain bola untuk mengasah kemampuan sekaligus menimba pengalaman. Yang terjadi, kompetisi sering molor alias tidak tepat waktu. Di Jakarta Timur, misalnya, pernah terjadi kompetisi SSB baru selesai setelah dua tahun. Ini gara-gara jumlah lapangan yang terbatas. Di wilayah ini hanya ada tiga lapangan yang bisa dipakai kompetisi: Halim, Palad Cakung, dan Brigif Cijantung. Itu pun harus berbagi dengan kakak-kakak mereka yang remaja maupun senior.
Kompetisi tingkat nasional? Kendalanya lain lagi, soal berganti-gantinya sponsor, sehingga jadwal tetap yang terus-menerus sepanjang tahun sulit ditetapkan. "Tadinya kita sudah menyiapkan anak-anak untuk Liga Campina pada April, ternyata tidak jadi. Akibatnya program latihan harus diubah lagi," kata Adji.
Karena itulah, Ronny Pattinasarani tak putus asa kendati timnya tak berbicara banyak di Bangkok. Faktanya, mereka memang tidak digembleng lewat kompetisi yang teratur. Tapi, kalau dilihat dari potensinya, "Masa depan mereka amat baik," ujar Ronny, yang juga Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI.
Sepulang dari Bangkok, mereka akan dikembalikan ke SSB-nya masing-masing. Dan pengurus daerah PSSI punya kewajiban memantau mereka. "Pengurus daerah juga harus giat membuat kompetisi," kata Ronny lagi.
Tanpa kompetisi, memang tak bisa diharapkan bakal muncul pemain muda yang benar-benar terasah dan mampu bersaing dengan tim negara tetangga.
Ardi Bramantyo, Irfan Budiman, Kukuh S. Wibowo (Surabaya)
|